101 KK Rawan Pangan Dibantu Ayam Petelur

potret-kemiskinanIlustrasi. Foto Dok. Lombok Pos/radarcirebon.com

CIREBON – Dari 246 kepala keluarga (KK) yang rawan pangan, Pemkab Cirebon hanya bisa memberikan bantuan kepada 101 KK yang masing-masing mendapat 50 ayam petelur beserta uang Rp 500 ribu. Bantuan tersebut diberikan untuk memberikan perhatian kepada masyarakat dalam mengatasi kerawanan pangan tahun 2019. Adapun uang yang diberikan untuk membuat kandang ayam tersebut.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Cirebon, Muhidin menyampaikan, program pemberian ayam tersebut akan terus dipantau selama enam bulan. Selain dipantau, warga yang mendapat bantuan akan dibiayai kebutuhan pakan makannya.

“Karena keterbatasan anggaran baru 101 desa, mudah-mudahan tahun depan bisa tercover semua. Nanti tim pengawasnya ada dari Kementerian Pertanian dan Pemda yang memantau,” kata Muhidin kepada Radar, kemarin.

Adapun jika ayam petelur itu dijual, masyarakat akan mendapatkan sanksi sesuai aturan yang berlaku. “Itu kan untuk memenuhi kebutuhan mereka juga, jika dijual dengan alasan mati, akan ketahuan,” jelas Muhidin.

Sementara itu, diklaimnya kerawanan pangan di Kabupaten Cirebon semakin berkurang. Berdasarkan data dari Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pembangunan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Cirebon tahun 2014, ada 23 desa rawan pangan. “Tahun 2017 kita sudah intervensi enam desa. Sehingga desa rawan pangan semakin berkurang,” ujar Muhidin.

Selain itu, diketahui ada 10 desa yang dinyatakan stunting yakni Desa Serang Kulon, Desa Bojong Gebang, Desa Kudu Keras dan Kudu Mulya (Kecamatan Babakan), Desa Cipeujeuh Kulon (Kecamatan Lemahabang), Desa Asjap (Kecamatan Astanajapura), Desa Sinarancang (Kecamatan Mundu), Desa Sarabau (Kecamatan Plered), Desa Walahar, Desa Gempol (Kecamatan Gempol). Untuk menyikapi hal itu, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Cirebon juga telah memberikan program bantuan dari Pemerintah Pusat yakni Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) untuk Desa Stunting.

Dikatakan Muhidin, lantaran keterbatasan anggaran dari 10 Desa Stunting baru ada tujuh desa yang mendapatkan bantuan. Bantuan pembibitan dan optimalisasi jagung manis senilai Rp100 juta untuk Desa Kudu Keras, bantuan pembibitan pangan senilai Rp50 juta untuk Desa Bojong Gebang, Sinarancang, Cipeujeuh Kulon, Kudu Mulya, Sarabau dan Gempol. “Dari 10 desa yang belum, ada tiga Desa yakni Walahar, Serangkulon dan Asjap,” ungkap Muhidin.

Lebih lanjut, bantuan KRPL yang dikelola oleh kelompok wanita tani (KWT) ini dalam rangka kearifan lokal. Menurutnya, masyarakat harus dibiasakan berkebun sendiri seperti halnya menanam timun, cabai, tomat, dan lain-lainnya.

“Daripada beli belum tentu aman. Meski dipolybag juga bisa tumbuh, menanam sendiri lebih terjamin keamanannya. Kita yang tanam sendiri, panen sendiri, metik sendiri dan masak sendiri. Aman dari pestisida, aman dari bahan kimia lainnya. Makanya mengapa program ini diperuntukan bagi Desa Stunting, karena salah satunya agar masyarakatnya bisa memakan makanan yang sehat dan bergizi,” tutur Muhidin.

Ditambahkannya, keberadaan KRPL ini, ia mampu mengurangi pengeluaran kebutuhan pangan rumah tangga hingga Rp40 ribu per hari. “Melalui pengembangan KRPL, kami berharap ketahanan pangan di tingkat rumah tangga akan semakin mantap. Tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan keluarga,” pungkas Muhidin. (via)