13 Nelayan Indramayu Disambut Tangis Haru, Sempat Terapung di Laut 6 Jam

ABK-Karangsong-yang-selamatBAHAGIA: Sejumlah ABK kapal KM Bunga Hati II tiba di KPL Mina Sumitra Karangsong, Rabu (8/8) malam. FOTO: UTOYO PRIE ACHDI/RADAR INDRAMAYU

Tangis haru pecah di keheningan malam, di halaman KPL Mina Sumitra Karangsong Kabupaten Indramayu, Rabu (8/8) tengah malam. Tiga belas pria berbaju merah keluar dari sebuah mobil minibus dan langsung disambut pihak keluarga, maupun warga lainnya.

UTOYO PRIE  ACHDI, INDRAMAYU

MEREKA tidak lain adalah penumpang kapal KM Bunga Hati II yang terbalik pekan lalu, terdiri dari seorang nakhoda dan 12 anak buah kapal (ABK). Malam itu menjadi malam paling membahagiakan bagi para keluarga ABK. Betapa tidak, mereka sempat khawatir dengan keberadaan 13 orang tersebut. Namun ternyata mereka masih dilindungi oleh Allah SWT, sehat walafiat.

Nakhoda kapal KM Bunga Hati II, Maslani, mengaku sangat senang bisa bertemu kembali dengan keluarga. Dia pun tak mampu lagi berkata-kata tatkala bertemu dengan istri tercintanya. Hanya haru dan sedih terpancar dari dalam dirinya. “Saya bangga dan haru bisa ketemu lagi sama istri dan anak,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Saat ditanya awak media pun, perkataannya masih terbata-bata. Dia mengaku trauma dan masih mengingat betul pengalaman paling berharga dalam hidupnya tersebut. Secara perlahan dia pun dengan lancar menceritakan terbaliknya KM Bunga Hati II. Ia mengungkapkan, Kamis (2/8)mulai berlayar mencari ikan ke Perairan Jawa. Tidak ada firasat apa-apa dan kondisi laut pun dinilai wajar.

Namun pada Kamis malam ternyata cuaca mulai tidak bersahabat. Gelombang tinggi disertai angin kencang menerjang kapal. Mereka pun mulai ketar-ketir dan was-was. Hingga apa yang mereka takutkan pun terjadi. Jumat (3/8) dini hari kapal pun terbalik tak kuat menahan ganasnya ombak perairan Jawa.

Terbaliknya kapal membuat para ABK terpental ke laut. “Kami semua jatuh ke laut. Sebagian panik karena ada seorang yang tidak bisa berenang,” ungkap dia. Saat itu, para ABK berusaha meraih barang mengapung di dekatnya agar bisa terus mengambang. Hingga pada akhirnya mereka berkumpul di atas lambung kapal yang sudah terbalik.

Para ABK mampu bertahan dari kerasnya cuaca di laut. “Waktu itu saya suruh semua diam di atas kapal terbalik, karena cuaca masih buruk,” katanya. Pada awalnya para ABK panik dan hendak berpencar mencari pertolongan. Namun Maslani langsung melarang dan memerintahkan dengan tegas supaya semua ABK tetap berkumpul bersama. “Kalau selamat selamat semua. Kalau mati, mati semua,” ungkapnya, mengenang kejadian tragis tersebut.

Menurut Maslani, ajakan berkumpul di satu titik bukan tanpa alasan. Selain ada satu awak kapal yang tak bisa berenang, hal itu menjaga supaya masing-masing ABK bisa memantau satu sama lain. Kalau terpencar maka para tim pencari akan kesulitan menemukan mereka. Salah-salah para ABK bisa saja hanyut terbawa derasnya gelombang laut. “Saat itu kami sudah pasrah. Mau bagaimana lagi, harapan untuk selamat tipis,” ujar dia.

Takdir berkata lain. Kegelisahan yang dirasakan tak berlangsung lama. Sebuah kapal kargo MT Bahari Maju II tiba-tiba melintas di lokasi terbaliknya KM Bunga Hati II. Para ABK pun akhirnya diselamatkan menggunakan tali oleh para awak kapal MT Bahari Maju II. “Kami terapung dari terbalik sampai ditemukan selang waktunya sekitar 6 jam,” tuturnya.

Sementara Iah Wartiah, istri Maslani, mengaku sangat senang bisa bertemu kembali dengan suaminya itu. Hal itu merupakan sebuah keajaiban bagi keluarganya. Apalagi sebelum ditemukan selamat, keluarga sudah pasrah akan nasib Waslani. “Kami memang sudah menggelar soa bersama, dan doa kami ternyata terkabul,” ungkapnya. (*)