136 Hektare Sawah Gagal Panen, HKTI Sesalkan Ada Impor Beras

Kabupaten Cirebon
0et-250818-Petani Indramayu Timur PanenILUSTRASI

CIREBON-Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon, Tasrip Abu Bakar sangat menyayangkan langkah pemerintah yang hingga saat ini melakukan impor beras. Apalagi, Indonesia mengalami surplus beras, begitu pun dengan Kabupaten Cirebon.

“Pemerintah Indonesia di tahun 2018-2019 telah dan akan mengimpor beras dari negara-negara Asia termasuk China sebanyak 2 juta ton beras. Lalu bagaimana dengan petani kita?” tanya Tasrip kepada RadarCirebon.

Menurutnya, petani Indonesia akan mengalami dan merasakan kelesuan dalam usaha tani, khususnya padi. Karena tidak mengalami kenaikan harga yang menyebabkan berkurangnya semangat dalam bertani padi.

“Alasan petani sangat logis, karena harga-harga pupuk, pestisida dan tenaga kerja sangat mahal. Dengan demikian, apabila para petani kurang bersemangat dalam berusaha tani padi, maka ini akan mengancam regenerasi petani,” tutur Tasrip.

Lalu, Tasrip juga menanyakan apa artinya jika statemen produksi padi meningkat dan surplus? Sedangkan impor beras secara jor-joran (terus menerus, red) diklaim merupakan wujud keberpihakan kepada petani. “Nyatanya sang importirlah yang lagi berkuasa,” tegas Tasrip.

Harusnya, lanjut Tasrip, pemerintah lebih memikirkan nasib petani ke depan bukan hanya keuntungan semata. “Itu untung untuk pemerintah, tapi rugi buat petani,” jelasnya.

Meski diklaim surplus, nampaknya musim kemarau yang cukup panjang membuat banyak sawah di Kabupaten Cirebon mengalami kekeringan. Bahkan, sebanyak 136 hektare sawah sudah mengalami puso atau gagal panen.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Dr Ir Ali Effendi MM menyampaikan, di musim gadu pertama tahun ini, jumlah sawah yang ditanami padi sebanyak 45 ribu hektare. Namun, akibat kurangnya ketersediaan air, membuat banyak sawah mengalami kekeringan dan gagal panen. “Jumlah laporan terakhir itu 136 hektare yang mengalami puso. Yang terbanyak di wilayah timur seperti di Kecamatan Pangenan. Kalau untuk wilayah barat cenderung aman,” ujar Ali.

Ia menjelaskan, kekeringan yang terjadi meliputi kategori ringan, sedang dan berat yang jumlahnya mencapai ratusan hektare. Sawah yang mengalami kekeringan pun cenderung ada di wilayah timur Kabupaten Cirebon. Sebab, selain tidak mempunyai embung, Waduk Darma, Setu Patok, dan Sedong yang menjadi penyuplai air untuk para petani di wialyah tersebut sudah tidak ada air. “Kalau untuk wilayah barat dan utara cenderung masih aman, karena masih dapat suplai air dari Waduk Jati Gede,” ungkap Ali.

Ia mengaku, sebelumnya Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon sudah memberikan bantuan berupa pompa air dan pembuatan sumur pantek, sebagai upaya menangani kekeringan dan mencegah terjadinya gagal panen.

Tetapi menurutnya, banyak juga wilayah yang saluran atau irigasinya sudah tidak ada air. Begitupun untuk sumur pantek yang telah dibuat, beberapa wilayah mengalami hal yang sama, sumber airnya sudah tidak keluar. Maka, solusi ke depan adalah harus membuat embung di beberapa titik untuk menampung air saat musim penghujan, dan bisa disalurkan untuk pertanian ketika musim kemarau.

“Sebab kita sekarang hanya punya tiga embung, yang berada di wilayah barat, utara dan selatan. Di samping itu, normalisasi setu juga perlu dilakukan, meski ini sebenarnya bukan ranah kami,” tandas Ali. (via)