2  Siswa Tuna Netra Ikuti USBN, Solahudin: Alhamdulillah Lancar

270
ANTUSIAS: Dua siswa berkebutuhan khusus dari SMA  Pertiwi Cilimus mengikuti USBN hari pertama, Senin (20/3). Foto:Taufik/Radar Kuningan

 

KUNINGAN – Dua siswa SMA Pertiwi Cilimus penyandang tuna netra, yakni Solahudin dan Agung Prasetyo menjalani hari pertama Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Senin (20/3), dengan penuh antusias.

Berbeda dengan siswa lainnya, dua siswa berkebutuhan khusus tersebut mendapat perlakuan berbeda dalam mengerjakan soal-soal ujiannya.

Di mana, mereka mengerjakan soal terpisah dan saat pengerjaannya dilakukan dengan cara melibatkan guru pengawas untuk membacakan soal sekaligus menuliskan jawaban yang disebutkan keduanya.

“Alhamdulillah, untuk USBN hari pertama lancar. Saya bisa menjawab semua soal dan tidak ada kendala,” kata Solahudin diamini Agung usai ujian pertama mata pelajaran Agama Islam.

Solahudin maupun Agung, mengaku sudah mempersiapkan dengan matang untuk bisa mengikuti USBN kali ini agar bisa lulus dengan nilai baik.

“Sebelumnya kami juga sudah mendapatkan latihan dan pengayaan di sekolah. Termasuk untuk persiapan mengerjakan soal untuk Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) bulan depan,” kata Solahudin yang bercita-cita ingin melanjutkan kuliah jurusan PAI ini.

Senada diungkapkan Agung yang tak segan belajar bersama teman-temannya yang lain untuk bisa menguasai beberapa pelajaran yang belum dipahami.

“Saya ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi ambil jurusan Kesenian. Mudah-mudahan bisa tercapai,” kata Agung yang jago bermain gitar.

Sementara itu, Kepala SMA Pertiwi Cilimus Didi Jumadi mengatakan, tahun ini ada 39 siswa di sekolahnya termasuk dua siswa penyandang tuna netra yang mengikuti USBN kali ini maupun UNBK pada tanggal 10 April mendatang.

Pihaknya telah menyiapkan sarana dan prasarana agar kedua siswa berkebutuhan khusus tersebut bisa mengikuti ujian bersama siswa normal lainnya.

“Sekolah kami adalah satu-satunya sekolah inklusif yang hampir setiap tahun terdapat siswa penyandang tuna netra. Untuk pelaksanaan USBN, mereka menjalani ujian di ruangan khusus yaitu di ruang Bimbingan dan Konseling (BK) dengan guru pengawas dari internal sekolah kami,” kata Didi.

Adapun soal ujian yang didapat Solahudin dan Agung, lanjut Didi, sama dengan siswa lain yaitu mempunya kode masing-masing. Meski hanya satu guru pengawas, namun soal dan jawaban keduanya berbeda sehingga tidak ada kecurangan saat pengerjaan.

Sedangkan pengawasnya, lanjut Didi, untuk kegiatan USBN masih diperbolehkan dari internal sekolah.

Berbeda pada saat Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang akan dilaksanakan pada 10 April mendatang, lanjutnya, selain ada pertukaran guru pengawas dari sekolah lain, untuk siswa berkebutuhan khusus akan memanggil guru dari SLB. (taufik)