5 Fakta untuk Jelaskan Demonstrasi Prancis Berujung Kematian

Internasional
Grafiti menyamakan Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan Raja Louis XVI selama Revolusi Prancis, di gedung opera Palais Garnier di Paris pekan ini. (Foto: Associated Press/Kamil Zihnioglu)

Presiden Prancis Emmanuel Macron kini tengah menghadapi krisis terberat kepemimpinannya setelah tiga minggu protes kekerasan terjadi di seluruh negeri. Demonstran “Rompi Kuning” menuntut agar pemerintah memberikan bantuan keuangan kepada sebagian besar penduduk yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe berusaha untuk menenangkan kehebohan pada hari Selasa (4/12) dengan menangguhkan kenaikan pajak bahan bakar yang telah direncanakan selama enam bulan, mengubah kembali kebijakan yang telah memicu aksi protes.

Tetapi hingga kini belum jelas apakah konsesi tunggal ini dapat menenangkan para demonstran.

Gerakan Rompi Kuning, yang merujuk pada rompi kuning yang dikenakan para pengendara mobil dalam keadaan darurat, telah berubah menjadi protes kolektif atas masalah yang lebih dalam yang telah melanda Prancis selama bertahun-tahun: menurunnya standar hidup dan daya beli. Kedua hal tersebut telah memburuk setelah krisis keuangan yang berkepanjangan di Eropa.

Berikut ini beberapa fakta yang menjelaskan mengapa demonstrasi telah meletus secara luas di Prancis.

€1.700: MEDIAN PENGHASILAN BULANAN DI PRANCIS

Prancis, seperti negara-negara Barat lainnya, telah mengalami kesenjangan yang dalam antara warganya yang terkaya dan termiskin. Dua puluh persen populasi teratas meraih pendapatan hampir lima kali lipat dari 20 persen populasi terbawah.

Satu persen orang terkaya Prancis mewakili lebih dari 20 persen kekayaan ekonomi. Namun pendapatan bulanan rata-rata adalah sekitar 1.700 Euro atau $1.930, yang berarti bahwa setengah dari pekerja Prancis dibayar kurang dari angka itu.

Banyak demonstran Rompi Kuning memprotes betapa sulitnya membayar uang sewa tempat tinggal, memberi makan keluarga mereka, dan biaya hidup, terutama harga bahan bakar, terus meningkat sementara pendapatan rumah tangga mereka nyaris tidak berubah.

Kondisi kesejahteraan rakyat Prancis tidak selalu seperti ini.

Standar hidup dan upah di Prancis mengalami kenaikan setelah Perang Dunia II selama rentang pertumbuhan 30 tahun yang dikenal sebagai “Les Trentes Glorieuses.” Peningkatan pendapatan bagi masyarakat berpenghasilan kelas bawah dan menengah terus berlanjut hingga awal tahun 1980-an, berkat perjanjian penawaran bersama serikat pekerja.

Namun, dinamika itu luntur seiring dengan pemerintahan Prancis yang berhaluan kiri yang terus berupaya meningkatkan daya saing dengan menekan perolehan upah, menurut ekonom Prancis Thomas Piketty. Pendapatan rata-rata untuk kelompok berpenghasilan rendah dan menengah mengalami stagnansi, hanya tumbuh sekitar 1 persen per tahun atau bahkan kurang.

Orang kaya menjadi lebih kaya, karena orang-orang yang berpenghasilan tertinggi mengalami peningkatan pendapatan sekitar 3 persen per tahun. Upah eksekutif yang semakin murah hati untuk orang yang berpenghasilan sangat tinggi telah membantu mengubah skala tersebut.

Kondisi pekerja Prancis masih lebih baik daripada di Italia, di mana pertumbuhan upah riil cenderung negatif sejak tahun 2016. Upah riil di Italia turun 1,1 persen antara kuartal keempat tahun 2016 dan 2017, menurut Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD/Organization for Economic Cooperation and Development).

Namun sementara upah riil per jam meningkat di Prancis, pertumbuhan itu terjadi dengan perlahan, bahkan kian lamban sejak akhir krisis utang zona Euro pada tahun 2012.

1,8 PERSEN: PERTUMBUHAN EKONOMI

Prancis adalah perekonomian terbesar ketiga di Eropa setelah Inggris dan Jerman, dan terbesar keenam di dunia sebelum disesuaikan dengan inflasi. Para wisatawan yang berkunjung ke Paris akan mendapatkan kesan bahwa kemewahan ibukota Prancis menunjukkan tingkat kekayaan yang sama di seluruh penjuru negeri.

Namun, pertumbuhan ekonomi Prancis mengalami stagnasi selama hampir satu dekade selama krisis utang jangka panjang di Eropa dan baru saja mulai membaik.

Kualitas pemulihannya tidak merata. Sejumlah besar pekerjaan permanen telah dihapuskan, terutama di daerah pedesaan dan bekas kawasan industri. Banyak pekerjaan baru yang diciptakan adalah kontrak sementara yang berbahaya.

Pertumbuhan adalah kunci untuk memperbaiki kondisi kerja bagi mereka yang telah melakukan aksi protes. Namun, sementara pemulihan ekonomi yang baru lahir sebelum Macron menjabat telah membantu menciptakan lapangan kerja, pertumbuhan telah mendingin ke laju tahunan 1,8 persen, seiring dengan perlambatan di seluruh zona Euro.

DI ATAS 9 PERSEN: PENGANGGURAN

Perlambatan pertumbuhan mempersulit penyelesaian masalah Prancis lainnya: banyaknya orang yang tidak bekerja.

Pengangguran di Prancis telah tertahan di angka 9 persen dan 11 persen sejak tahun 2009, ketika krisis utang melanda Eropa. Pengangguran telah kembali turun menjadi 9,1 persen saat ini dari angka 10,1 persen ketika Macron terpilih. Tapi angka itu masih lebih dari dua kali lipat tingkat pengangguran di Jerman.

Macron berjanji untuk menurunkan tingkat pengangguran menjadi 7 persen pada pemilihan presiden berikutnya tahun 2022, dan telah mengakui bahwa kegagalan untuk melakukannya dapat mengobarkan api populisme.

Akan tetapi, untuk mencapai hal itu, ekonomi harus tumbuh setidaknya 1,7 persen dalam setiap tahun selama empat tahun ke depan, yang masih belum dapat dipastikan, menurut Observatorium Ekonomi Prancis, sebuah kelompok riset independen.

Macron telah mencoba membangkitkan kembali energi ekonomi Prancis.

Tahun ini, Macron menuntut perbaikan yang agresif terhadap hukum pekerja yang ketat di Prancis untuk membantu pemberi kerja menetapkan aturan tentang perekrutan dan pemecatan, dan memangkas batasan sejak lama yang membuat pengusaha enggan mempekerjakan pekerja baru. Ketentuan ini juga membatasi kemampuan serikat pekerja untuk menunda perubahan, dengan mengizinkan perjanjian individu untuk dinegosiasikan di tingkat perusahaan atau industri antara atasan dan pekerja.

Reformasi tersebut telah membantu menarik perusahaan seperti Facebook dan Google ke Prancis. Tetapi mereka bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menunjukkan hasil bagi pekerja rata-rata. Reformasi itu juga telah membuat marah para pekerja yang melihat rencana untuk menghapus hak-hak buruh, yang telah mereka peroleh dengan susah payah, demi kepentingan bisnis besar.

€3,2 MILIAR: PEMOTONGAN PAJAK UNTUK ORANG KAYA

Sebagai bagian dari rencananya untuk menstimulasi ekonomi, Macron memotong pajak untuk pembayar pajak terkaya di Prancis selama tahun pertamanya menjabat, termasuk dengan menciptakan pajak tetap untuk pendapatan modal.

Tetapi inti dari paket pajak, dan yang telah memicu kemarahan sebagian besar pengunjuk rasa, ialah menghilangkan pajak kekayaan yang diterapkan pada banyak aset rumah tangga terkaya Prancis, menggantikannya dengan rumah tangga yang hanya berlaku untuk kepemilikan real estate mereka.

Angka itu diturunkan sebesar €3,2 miliar atau $3,6 miliar, jumlah pendapatan negara yang diterima tahun ini.

Ada sedikit bukti efek stimulus. Sebaliknya, Macron telah mendapatkan reputasi karena mengutamakan kepentingan orang kaya, salah satu sumber kemarahan terbesar di antara para demonstran Rompi Kuning.

Sementara orang-orang yang berpenghasilan tinggi menikmati pengurangan pajak di bawah rencana fiskal Macron, daya beli turun tahun 2017 bagi 5 persen rumah tangga terbawah. Mayoritas kelas menengah, sekitar 70 persen, tidak melihat keuntungan atau kerugian apapun, menurut Observatorium Ekonomi Prancis.

Bahkan sebelum kelompok Rompi Kuning turun ke jalan, Macron menyadari bahwa dukungan melemah, dan pemerintahnya mencoba untuk berpaling ke arah mereka yang tertinggal di putaran pemotongan pajak sebelumnya.

Anggaran Macron untuk tahun 2019, yang diresmikan pada bulan Oktober 2018, akan memecahkan pendapatan tahun depan senilai €6 miliar untuk warga berpenghasilan menengah dan bawah. Angka ini juga termasuk pengurangan sebesar €18,8 miliar dalam pemberian upah dan pajak bisnis lainnya untuk mendorong perekrutan dan investasi.

€715 MILIAR: JARING PENGAMAN SOSIAL

Sementara jajak pendapat menunjukkan bahwa gerakan Rompi Kuning mendapatkan dukungan dari tiga perempat populasi, pertanyaannya ialah seberapa banyak kerugian yang benar-benar dialami para pengunjuk rasa, atau seberapa banyak protes yang dilakukan dapat dihubungkan dengan budaya demonstrasi selama berabad-abad dalam menentang perubahan.

Prancis melindungi warga dengan salah satu jaring pengaman sosial paling dermawan di dunia, dengan lebih dari sepertiga pengeluaran ekonominya dihabiskan untuk perlindungan kesejahteraan, lebih banyak dari negara lain di Eropa.

Tahun 2016, Prancis menghabiskan sekitar €715 miliar untuk perawatan kesehatan, tunjangan keluarga, dan pengangguran, di antara berbagai dukungan lainnya.

Agar dapat memperoleh bantuan itu, para pekerja Prancis membayar sebagian dari pajak tertinggi di Eropa.

Sementara pajak terbesar ialah bagi penerima pendapatan tinggi, Prancis juga memiliki pajak pertambahan nilai sebesar 20 persen untuk sebagian besar barang dan jasa. Bersama dengan pajak bahan bakar yang telah dijanjikan akan ditekan sementara oleh pemerintah Macron, tindakan semacam itu cenderung menyakiti orang miskin, sementara orang kaya nyaris tidak terpengaruh oleh pajak tersebut. (*)