Air Ngadat, Warga Gujeg Luruk PDAM

ilustrasiilustrasi

CIREBON-Ratusan warga Desa Gujeg meluruk kantor pelayanan PDAM di Panguragan dan Arjawinangun. Mereka memprotes pelayanan PDAM yang lebih sering mati ketimbang jalan, Rabu (9/1).

Warga setempat protes karena sebagai pelanggan, semua syarat dan kewajiban sudah dilaksanakan. Sementara kewajiban PDAM Tirta Jati sebagai instansi yang diberikan kewenangan untuk mengurus kebutuhan air bersih di Kabupaten Cirebon, tidak sepenuhnya dilaksanakan.

Aksi yang dilakukan warga Desa Gujeg tersebut sekaligus sebagai bentuk kekecewaan karena hampir seminggu sebelumnya, air dari PDAM nyaris tak keluar sama sekali. Hal tersebut disampaikan Kuwu Desa Gujeg Susmaya saat dihubungi Radar Cirebon melalui sambungan teleponnya.

Menurutnya, gejolak yang terjadi tersebut sebagai puncak kekecewaan pelanggan yang menuntut pihak PDAM memberikan pelayanan terbaik. “Saya rasa tidak hanya dengan PDAM. Sebagai konsumen, pasti siapapun akan menuntut hak-haknya. Karena sudah melaksanakan kewajibannya. Di sini warga Desa Gujeg sudah melaksanakan kewajiban, tinggal dari PDAM yang kemudian harus menyelesaikan kewajibannya dengan memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.

Masalah sendiri muncul karena selama ini pelayanan PDAM di Desa Gujeg terbilang sangat jauh dari memuaskan. Mungkin jika dihitung, pasokan air dari PDAM ini lebih banyak matinya ketimbang jalan. Sehingga membuat masyarakat kecewa. Terlebih, setiap bulan ada biaya abodemen yang harus dibayarkan pelanggan, terlepas dari dipakai atau tidak layanan tersebut.

“Kalau untuk biaya abodemen perbulan itu sekitar Rp70 ribu. Kita pakai tidak pakai harus keluar biaya segitu. Padahal pasokan di sini banyak gak jalannya. Ini yang kemudian membuat masyarakat kecewa dan protes kepada PDAM,” imbuhnya.

Dalam protes tersebut, massa mendatangi dua lokasi, yakni kantor pelayanan PDAM di Panguragan dan kantor cabang di Arjawinangun. “Padahal Desa Gujeg itu sangat enak. Pemakaian air di wilayah kita juga tidak banyak, karena mayoritas warga sini adalah perantau, hampir 70 persen. Otomatis, penggunaannya juga tidak mungkin over atau berlebihan. PDAM masuk ke wilayah Gujeg itu sekitar tahun 1983,” jelasnya.

Dari pertemuan tersebut, menurut Susmaya, akhirnya pihak PDAM dan perwakilan pelanggan membuat perjanjian. Poin-poinnya harus ditaati dan dijalankan oleh pihak PDAM dan pelanggan. Poin pertama dalam perjanjian tersebut,  PDAM siap menempatkan pegawai khusus di kantor Desa Gujeg.

Poin kedua, PDAM siap memberikan pelayanan air dengan lancer, walaupun harus digilir. Dan poin ketiga membantu PDAM menertibkan apabila ada oknum pelanggan yang merusak instalasi pipa dan meter air.

“Ada tiga poin perjanjian. Tadi massa yang datang 100 orang lebih, cuma saya lihat ini tidak relevan. Harapan kami sebagai pelanggan, PDAM segera memperbaiki pelayanannya karena sebagai konsumen kami merasa dirugikan. Harusnya yang digunakan itu undang-undang perlindungan konsumen. Kalau untuk pelanggan jika menghitung rumah paling antara 550 sampai 600 pelanggan PDAM,” bebernya.

Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Jati Kabupaten Cirebon Suharyadi SE MM saat dihubungi Radar Cirebon menuturkan, aksi massa yang datang ke kantor cabang PDAM tersebut bukanlah sebuah demo melainkan penyampaian keluhan dari warga atau pelanggan PDAM yang sifatnya biasa. “Jadi bukan demo. Itu penyampaian keluhan, cuma memang jumlahnya banyak. Sudah kita akomodir dan Alhamdulillah lancar dan kondusif tidak terjadi aksi-aksi yang negatif,” ungkapnya.

Bahkan, Suharyadi menyebut, penyampaian keluhan tersebut dipicu pasokan PDAM yang tidak lancar ke Desa Gujeg. Hal tersebut dikarenakan beberapa hal di antaranya ada aksi perusakan oleh oknum pelanggan yang merusak instalasi pipa dan meter milik PDAM dan menyedot airnya dengan pompa.

“Kalau air tidak jalan atau ada penurunan debit, kadang pelanggannya membuka meteran. Ini yang membuat kecemburuan pelanggan. Airnya dipompa, sehingga yang dapat ya dapat, yang tidak kebagian ya tidak,” katanya.

Saat ini, menurutnya, untuk wilayah distribusi ke Desa Gujeg menggunakan sistem gilir, akibat penurunan debit di mata airnya. Kondisi ini berlangsung sejak musim kamarau kemarin sampai sekarang. “Banyak hal yang membuat penuruan debit. Di antaranya musim kemarau dan kebakaran hutan yang terjadi di Kuningan, Untuk sekarang, meskipun musim hujan tapi debitnya belum naik signifikan. Oleh karena itu, kita lakukan gilir air,” kilahnya.

Solusi yang akan dilakukan PDAM sendiri menurut Suharyadi, salah satunya dengan memisahkan jalur distribusi air bersih PDAM jalur Kalianyar dengan Gujeg, yang sebelumnya disambung menjadi satu. “Kita akan coba pisahkan jalurnya, sehingga nanti ada dua jalur di situ. Alhamdulillah hari ini (kemarin, red) pasokan sudah jalan. Kita juga turun ke lapangan bersama perangkat desa dan memastikan air pasokan dari PDAM berjalan tertib,” tukasnya. (dri)