Akibat Banjir, Ratusan Hektare Sawah di Kabupaten Cirebon Terancam Puso

TERANCAM PUSO: Ratusan hektare lahan pertanian di sejumlah wilayah di WTC terendam banjir. Kondisi tersebut membuat tanaman padi terancam puso. FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON – Sejumlah petani di beberapa wilayah terdampak banjir kemarin pantas ketar-ketir. Pasalnya, banjir yang terjadi selama empat hari berturut-turut tersebut, merendam ratusan hektare lahan pertanian.

Para petani pun khawatir jika tidak ada solusi. Kondisi tersebut bisa mengakibatkan para petani merugi karena gagal panen. Yang lebih parah, nantinya hal tersebut bisa memicu kenaikan harga-harga kebutuhan pokok yang lain dan membuat harga-harga kebutuhan pokok yang ada saat ini, menjadi lebih mahal lagi.

“Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mau ngapain juga bingung. Musuhnya banjir, cuma bisa pasrah saja,” ujar Wadiman (45) salah seorang petani warga Desa Japura Bakti saat ditemui Radar Cirebon, Senin (12/2).

Menurutnya, sudah beberapa hari terkahir ini sawah miliknya seluas kurang lebih satu hektare terendam air banjir. Dia khawatir hal tersebut akan berdampak pada kondisi tanaman yang baru berumur sekitar 2 bulan.

“Kalau pengaruh ke tanaman pasti ada. Kita sudah pasrah, hasilnya juga biasanya tidak akan maksimal. Sekarang juga sampah banyak benar, dibawa banjir sekarang masuk dan mengotori sawah,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon, Tasrip Abubakar kepada Radar mengatakan, banjir yang menerjang Kabupaten Cirebon beberapa hari terakhir sedikit banyak akan berdampak kepada para petani.

“Ancaman yang nyata itu puso. Jika tanaman padi terendam berhari-hari itu risikonya bisa puso. Tinggal lihat saja umur tanamannya, apalagi yang sudah ada bulir padinya,” tutur Tasrip.

Sejauh ini, menurut Tasrip, pihaknya masih berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memetakan berapa cakupan lahan pertanian yang diterjang banjir. Namun dari kondisi tersebut, untungnya banjir tidak menerjang kawasan-kawasan lumbung padi yang berada di wilayah barat dan utara wilayah Kabupaten Cirebon.

“Dampak ke produktivitas pasti ada. Untungnya hanya sebagian wilayah saja yang diterjang banjir. Tidak seluruh wilayah, bahkan daerah daerah lumbung padi kayak Ciwaringin, Susukan, Kaliwedi, Gegesik, Panguragan dan Arjawinangun saat ini aman,” bebernya.

Ditambahkan Tasrip, untuk wilayah timur rata-rata usia tanaman padi saat ini sekitar 35 hari sampai dengan 45 hari, sehingga relatif aman. Hanya yang menjadi perhatian HKTI adalah kondisi petani palawija dan holtikultura yakni petani cabai dan bawang yang bakal rugi besar kalau terendam banjir berhari-hari.

“Padi bila terendam lima hari lebih akan puso, sedangkan tanaman cabai dan bawang jika terendam tiga hari, maka akan busuk. Nah petani holtikultura ini yang ancaman kerugiannya besar, karena harga komoditinya lumayan mahal,” ungkapnya. (dri)

Content Protection by DMCA.com