Alsintan Ancam Keberadaan Buruh Tani

penggunaan-alsintan-(2)
MENGUNTUNGKAN BURUH TANI: KT Sri Rahayu III Desa Kongsijaya Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu menggunakan transplanter sebagai upaya percepatan tanam, namun tak mengurangi pendapatan buruh tani. FOTO: ANANG SYAHRONI/ RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU – Petani di Indramayu kini sudah tidak ragu lagi menerapkan alat mesin pertanian (alsintan). Keberadaan alat mesin pertanian ini dirasa bisa memangkas biaya dan waktu.

Namun sayangnya, keberadaan alat mesin pertanian itu mengancam keberadaan buruh tani yang biasa membantu petani dalam proses menanam dan panen.

Ketua KT Sri Rahayu III, Kecamatan Widasari Yazid Bustomi mengatakan, penggunaan alsintan memiliki banyak keunggulan khususnya dari segi biaya. Hanya saja, keberadaan alsintan juga memberikan dampak sosial, yakni mengurangi tenaga buruh tani.

Untuk itu, dia merasa butuh solusi, agar penggunaan alsintan tidak mengganggu mata pencaharian buruh tani. “Walau menggunakan transplenter, kelompok kami tetap menggunakan jasa buruh tani. Karena jangan sampai dampak penggunakan alsintan malah mengurangai pendapatan buruh tani,” ujarnya.

Menurutnya, penggunaan alsintan seharusnya bisa menopang pendapatan buruh tani. “Untuk itu kami berupaya agar buruh tani tidak kehilangan pekerjaannya. Buruh tani kita pekerjakan tidak secara tradisional seperti biasa, namun dipekerjakan untuk mengoperasikan alsintan,” ujarnya.

Konsep itu, kata dia, bisa cukup membantu para buruh tani. Bahkan, kata dia, kerja buruh tani tidak semerepotkan saat harus bekerja secara konvensional. “Buruh tani tidak bekerja terlalu keras dan tetap dapat pembagian hasil,” ujarnya.

Sementara, PPL Kecamatan Widasari Try Suseno sangat mengapresiasi konsep yang diterapkan KT Sri Rayahu III Desa Kongsijaya Kecamatan Widasari. Karena tetap memberdayakan buruh tani dalam penggarapan lahannya walaupun dalam prosesnya menggunakan alsintan.

Menurutnya penggunaan alsintan harus diperhitungkan dampak sosialnya. Apalagi di Indramayu masih banyak masyarakat yang berpencaharian sebagai buruh tani.

“Sangat baguslah adanya ide seperti itu, jadi konsep KT Sri Rahayu III tidak merugikan buruh tani dan juga tetap memanfaatkan teknologi pertanian,” ujarnya. (oni)

Content Protection by DMCA.com