Ancaman Leptospirosis di Kala Banjir

Ilustrasi. (dok radarcirebon.com)

Merujuk pada data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), salah satu penyakit menular yang mengancam warga di daerah yang terkena banjir yakni Leptospirosis.

Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon meminta masyarakat waspada penyakit leptospirosis. Pasalnya, penyakit tersebut disebabkan bakteri leptospira, yang terbawa pada hewan seperti tikus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Cirebon Nanang Ruhyana mengatakan, bakteri tersebut biasanya berada di daerah rawan banjir. Maka, masyarakat harus waspada terhadap penyakit tersebut. Sebab, penyakit ini termasuk mematikan jika tidak ditangani dengan cepat.

“Yang patut diwaspadai yaitu leptospirosis atau bakteri yang timbul dari air seni tikus. Bakteri ini masuk melalui tubuh yang terluka. Penderita akan mengalami demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, sakit perut, nyeri pada hati dan ginjal,” ujarnya kepada Radar Cirebon

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira dan ditularkan oleh kotoran atau kencing hewan, khususnya hewan pengerat. Hewan penular paling jamak di Indonesia saat terjadi banjir adalah tikus. Tikus-tikus turut menyelamatkan diri saat banjir tiba, namun ia meninggalkan kotoran dan air kencingnya yang kemudian bercampur dengan air banjir. Dengan populasinya yang melimpah di sekitar tempat tinggal manusia, tikus-tikus bisa menjadi sumber utama penularan penyakit Leptospirasis.

Bakteri Leptospira menular yakni saat seseorang pergi ke daerah banjir tanpa perlindungan memadai seperti sepatu boots atau baju pelindung. Jika seseorang itu memiliki bekas luka, bakteri Leptospira akan mudah masuk. Hanya butuh beberapa hari untuk membuat orang tersebut jatuh sakit. Sayangnya, penyakit Leptospirosis tak memiliki gejala yang jelas. Biasanya orang yang terjangkit hanya merasa flu ringan hingga berat. Jika ada tanda-tanda demikian, ia harus segera dibawa ke rumah sakit.

Khusus terkait penyakit Leptospirosis di Indonesia, kejadian luar biasa (KLB) Leptospirosis pernah terjadi di Kabupaten Kota baru Kalimantan Selatan pada tahun 2014. Peningkatan kasus terjadi di Provinsi Jawa Tengah dan DKI Jakarta setelah terjadi banjir besar yang cukup lama. Data hingga November 2014, Kemenkes mencatat 435 kasus dengan 62 kematian akibat penyakit Leptospirosis.

Kemenkes menyadari betul ancaman ini. Mereka membagi langkah-langkah antisipasi untuk menghindari timbulnya penyakit Leptospirosis, yaitu: (1) menghindari adanya tikus yang berkeliaran di sekitar kita, (2) hindari bermain air saat terjadi banjir, terutama jika mempunyai luka, (3) menggunakan pelindung misalnya sepatu, bila terpaksa harus ke daerah banjir, dan (4) segera berobat ke sarana kesehatan bila sakit dengan gejala panas tiba-tiba, sakit kepala dan menggigil.

Penyakit menular selanjutnya adalah demam berdarah. Banjir otomatis membuat tempat nyamuk Aedes aegeypti untuk bertelur semakin banyak. Nyamuk pembawa virus demam berdarah ini juga akan berinduk di genangan-genangan air akibat hujan yang terus-menerus turun di kaleng bekas, ban bekas, dan tempat genangan lain. Kondisi ini membuat jumlah nyamuk Aedes aegypti semakin banyak dan membuat kesempatannya untuk menyebarkan penyakit demam berdarah makin tinggi.

 

Data dari Kemenkes RI menyebutkan jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia pada bulan Januari-Februari tahun lalu, serupa awal tahun ini saat musim hujan masih tinggi, ada 8.487 penderita DBD dengan jumlah kematian 108 orang. Golongan terbanyak yang mengalami DBD di Indonesia pada usia 5-14 tahun mencapai 43,44 persen dan usia 15-44 tahun mencapai 33,25 persen.

Masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap penyakit DBD mengingat setiap tahun kejadian penyakit DBD di Indonesia cenderung meningkat pada pertengahan musim penghujan sekitar Januari, dan cenderung turun pada Februari hingga ke penghujung tahun. Menurut Kemenkes, salah satu penyebab saat terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD di Indonesia terkait lingkungan yang kondusif untuk perindukan nyamuk, yakni kondisi banjir.

Penyakit lain yang kerap menyerang warga korban banjir adalah diare. Diare menyerang warga akibat lagi-lagi kebersihan yang tak terjaga, seperti tak mencuci tangan dengan bersih memakai sabun atau meminum sembarang air tanpa memastikan telah direbus dengan matang. Diare muncul dengan gejala khas yakni mengencernya feses dan intensitas buang air besar yang tinggi, biasanya lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Pasien harus dirujuk ke puskesmas terdekat untuk penanganan lanjut.

Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA juga salah satu penyakit menular yang biasanya menyerang warga saat banjir. Penyebab ISPA dapat berupa bakteri, virus dan, berbagai mikroba lainnya. Gejala utama dapat berupa batuk dan demam, jika berat dapat disertai sesak napas dan nyeri dada.

Penanganannya menurut Kemenkes meliputi: (1) istirahat, (2) pengobatan simtomatis sesuai gejala, (3) mungkin diperlukan pengobatan kausal untuk mengatasi penyebab, (4) meningkatkan daya tahan tubuh, dan (5) mencegah penularan pada orang sekitar, antara lain dengan menutup mulut ketika batuk, tidak meludah sembarangan dan lain sebagainya.

Ada tambahan penyakit menular lain seperti gatal-gatal akibat infeksi kulit, hal ini bisa ditangani dengan obat-obatan yang bisa diperoleh di apotek. Ada pula penyakit saluran pencernaan seperti demam tifoid. Dalam hal, ini faktor kebersihan makanan memegang peranan penting. Selalu perhatikan sumber makanan Anda dan jangan sampai banjir membuat Anda terpaksa memakan makanan basi atau yang tak layak masuk perut.

Hal penting lain yang tak boleh dilupakan yakni semakin buruknya penyakit kronik yang mungkin memang sudah diderita. Hal ini terjadi karena penurunan daya tahan tubuh akibat musim hujan berkepanjangan, apalagi bila banjir terjadi sampai berhari-hari. Penting untuk menjaga kesehatan dengan makan makanan bergizi dan istirahat cukup adalah. Anda juga perlu mendatangi pusat kesehatan terdekat jika ada gejala-gejala seperti telah diuraikan di atas. (*)