Andai Pram Ada, Bumi Manusia Rasa Hanung

Bumi Manusia | Sutradara: Hanung Bramantyo | Produser: Frederica | Pemain: Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva de Jongh, Sha Ine Febriyanti, Donny Damara, Giorgino Abraham, Jerome Kurnia, Peter Sterk, Robert Alexander Prein, Chew Kin Wah, Christian Sugiono | Produksi: Falcon Pictures | Genre: Drama | Durasi: 172 Menit | Rilis: 15 Agustus 2019

FILM yang ditunggu-tunggu, Bumi Manusia akhirnya resmi dirilis di bioskop sejak 15 Agustus kemarin. Sejak itu pula, film garapan Hanung Bramantyo ini menjadi trending di media massa seperti Twitter.

Dalam celotehnya di Twitter, Ariel Heryanto, berucap: “Novelnya dilarang. Sebagian pembacanya dipenjara bertahun-tahun. Pengarangnya ditahan belasan tahun tanpa diadili. Lalu dibebaskan tanpa dibersihkan namanya. Tanpa maaf negara terhadap novelis dan keluarganya. Apalagi ganti rugi. Kini novel itu jadi komoditas.”

 

Hanung meracik karya Pramoedya Ananta Toer ala kekinian. Imbasnya berbelok dari keotentikan novelnya.

Hanung mengaku ingin “menghidupkan” kembali sosok Pramoedya di tengah generasi muda. Dia menyayangkan banyak generasi muda tidak mengenal siapa itu Pramoedya Ananta Toer.

Hal ini juga ditegaskan Astuti, anak perempuan Pramoedya yang turut hadir di konferensi pers di Yogyakarta, Selasa Astuti mengatakan, ia dan cucu Pramoedya, Angga, sering berkeliling ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus untuk memperkenalkan sastrawan itu.

“Orang-orang dalam Bumi Manusia adalah simbol, bagaimana sikap Nyai Ontosoroh, siapa itu Minke. Untuk memperkenalkan Pram kembali, kami sekeluarga pada saat itu pergi ke daerah-daerah, universitas, sekolah. Namun ternyata kurang efektif, hanya menarik ratusan orang saja. Setelah dirilis film ini, kami berharap akan ada jutaan orang mengenal Pram,” kata Astuti.

Minke (diperankan Iqbaal Ramadhan) mengalami kegalauan akut terhadap hidup yang dipilihnya dan berkelindan dengan dua hal itu. Di satu sisi ia seorang anak bupati yang mengenyam pendidikan Eropa: bersekolah dengan anak-anak Belanda dan Indo (blasteran bumiputra dengan Eropa) pada zaman peralihan. Di sisi lain cintanya kandas karena aturan kolonial yang sangat rasialistis akhir abad ke-19.

Setidaknya begitu gambaran yang disuguhkan sineas Hanung Bramantyo dalam Bumi Manusia. Film drama yang diangkat dari tetralogi pertama Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer bertajuk sama. Karya sastrawan yang disebutkan Hanung, sebagai karya yang acap dibaca secara sembunyi-sembunyi di masa Orde Baru.

Memang Hanung tak menyertakan periode waktu. Namun soal era sangat nampak lantaran Minke salah satu pemuda HBS Hogere Burgerschool (setara SMP-SMA) Surabaya yang turut antusias melihat perayaan penobatan Wilhelmina menjadi Ratu Belanda, 6 September 1898.

Tetapi di lain pihak, Minke melihat sendiri bagaimana dampak modernisasi yang masuk ke Hindia Belanda di masa itu. Mulai dari kapal uap, kereta api uap, hingga teknologi komunikasi telegraf dan telegram. Serbuan teknologi Eropa yang kian memisahkan jurang antarkelas di kehidupan sosial Hindia Belanda. Betapa makin kuat penindasan yang terasa antara kelas Eropa dan bumiputra.

Sementara itu dari sesama kawan HBS-nya pula, Robert Suurhof (Jerome Kurnia), ia mengenal bidadari Indo, Annelies Mellema (Mawar Eva de Jongh). Tidak butuh waktu lama untuk Minke jatuh hati. Dalam selingan kisah asmara keduanya itu pula Minke melihat kenyataan yang tak biasa.

Bahwa ibu Annelies yang seorang nyai, Ontosoroh alias Sanikem Sostrotomo (Sha Ine Febriyanti), justru yang memegang kendali sebuah bisnis perkebunan, Boerderij Buitenzorg di Wonokromo milik pasangan sang nyai seorang Belanda, Herman Mellema (Peter Sterk).

Herman justru lebih banyak foya-foya. Mabuk-mabukan hampir saban hari di rumah pelesir Baba Ah Tjong (Chew Kin Wah). Robert Mellema (Giorgino Abraham), kakak Annelies, setali tiga uang. Enggan meneruskan sekolah dan memandang hina Minke sebagai kalangan bawah bumiputra.

Hubungannya dengan gadis Indo itu turut jadi perhatian orang tua Minke yang seorang Bupati Bojonegoro. Ayah Minke (Donny Damara), menegurnya dengan keras karena menganggap Minke meninggalkan budaya dan tradisi Jawa. Sementara Minke hanya bisa curhat pada ibunya: “Saya hanya ingin menjadi manusia bebas yang hidup di bumi manusia dengan segala perkaranya”.

Kembali ke Wonokromo, Minke mulai dihadapkan dengan perkara yang sudah lama mengganggu hatinya. Tak lain antara jurang pemisah antara kaum yang “terperintah” (bumiputra) dan “memerintah” (Eropa). Baik soal kasus kematian Herman Mellema dan hak asuh Annelies dan harta waris Herman yang digugat putra Herman dari istri pertama, Maurits Mellema (Robert Alexander Prein).

Halaman: 1 2

Berita Terkait