oleh

Aroma Kejayaan Tembakau di Pesisir Utara Jawa

-Caruban Nagari-24 views

PETANI tembakau Kabupaten Majalengka menggelar panen raya tembakau rakyat di Desa Babakansari Kecamatan Bantarujeg, Kamis (22/8). Agenda tersebut menjadi istimewa, karena dihadiri banyak unsur baik dari pusat sampai daerah. Termasuk dihadiri para petani tembakau Majalengka.

Hadir dalam kesempatan tersebut Direktur Tanaman Semusim Kementerian Pertanian DR Ir Agus Wahyudi MS, Kepala Dinas Perkebunan Jabar Ir Doddy Firman Nugraha, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Majalengka Ir Iman Firmansyah MM, ketua DPD Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Barat Suryana, dan ketua pusat Asosiasi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo.

Kadis Perkebunan Jawa Barat Ir Doddy Firman Nugraha menyambut baik panen raya tembakau di Majalengka, karena menurutnya komoditas tembakau menyumbang devisa yang cukup besar. Bahkan pihaknya berharap luas tanam tembakau terus ditingkatkan, termasuk kuantitas dan kualitas hasil panen yang terus meningkat.

Hal senada disampaikan Kepala Distankan Majalengka, Ir Iman Firmansyah MM. Pemerintah mengembalikan kepada petani tembakau dalam bentuk DBHCT yang sejalan dengan visi Majalengka Raharja, khususnya petani tembakau yang sejahtera.

Iman menjelaskan, potensi luas tanam tembakau bisa mencapai 2.400 hektare. Namun saat ini hanya efektif 1.450 hektare di Kecamatan Bantarujeg, Malausma, dan Lemahsugih. Bidang perkebunan khususnya tembakau menurut Iman merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar.

“Tembakau membantu penghasilan petani, karena di wilayah selatan khususnya di lahan tadah hujan bisa ditanam di musim tanam kedua dan musim tanam ketiga,” jelas kadis.

“Dinas memiliki kewajiban meningkatkan kuantitas dan kualitas tembakau, serta meningkatkan kualitas kesejahteraan petani,” tandas Iman.

“Tembakau itu salah satu komoditas kontroversial, karena di satu sisi pemerintah membatasi penggunaan hasilnya tapi juga merupakan penyumbang devisa terbesar,” ungkapnya.

Produksi tembakau Majalengka sendiri di Jawa Barat menempati peringkat ketiga setelah Garut dan Sumedang. Untuk Desa Babakansari saja, hasil panen bisa mencapai 400 ton per tahun. Harga komoditas yang ditanam di Majalengka sejak tahun 70-an itu saat ini bisa mencapai Rp40 ribu per kilogram.

Panen raya di Desa Babakansari ini, mengingatkan salah satu bangunan bersejarah yang megah, yakni gedung British American Tobaccos (B.A.T), sebuah gedung tua dan megah yang dibangun pada zaman kolonial Belanda. Dahulu bangunan ini dijadikan Pabrik Rokok B.A.T yang memproduksi rokok yang sebagian produknya merupakan produk ekspor ke negara-negara Eropa.

Produk rokok yang diproduksi oleh perusahaan asal Inggris itu, seperti Lukcy Strike, Pall Mall, Ardath, Kansas, Commfill, dan lainnya. Sementara untuk produk rokok yang pernah dibuat oleh BAT di Indonesia sebelum tahun 1960 di yakni Double Ace, Gold Fish, Mascot, Medal, Kresta, Pirate, Bison, dan rokok khusus untuk militer.

Mungkin masih ada yang familiar dengan merek-merek rokok tersebut? Di pabrik Cirebon inilah dulu dibuatnya. Kini gedung BAT di Cirebon hanya saksi bisu kejayaan rokok-rokok tersebut.

Tak hanya rokok, dalam riwayatnya, kota pesisir utara Jawa ini masih meninggalkan jejak kejayaannya sebagai pusat perdagangan rempah dan tembakau di masa kolonial Belanda.

Diketahui, rokok kretek adalah rokok yang menggunakan tembakau asli yang dikeringkan, dipadukan dengan saus cengkih dan saat dihisap terdengar bunyi kretek-kretek. Rokok kretek berbeda dengan rokok yang menggunakan tembakau buatan. Kretek merambah Jawa Barat. Di daerah ini pasaran rokok kretek dirintis dengan keberadaan rokok kawung, yakni kretek dengan pembungkus daun aren. Pertama muncul di Bandung pada tahun 1905, lalu menular ke Garut dan Tasikmalaya. Rokok jenis ini meredup ketika kretek Kudus menyusup melalui Majalengka pada 1930-an, meski sempat muncul pabrik rokok kawung di Ciledug Wetan.

Sejarawan Belanda Bernard Hubertus Maria Vlekk, dalam karya monumentalnya Nusantara: History of Indonesia (1959), menyebut tanaman tembakau pertama kali dikenalkan di Asia lewat orang-orang Spanyol yang singgah di Filipina pada abad ke-16. Lambat laun, tembakau pun tiba di wilayah Nusantara dan mulai ditanam secara sporadis pada permulaan tahun 1600-an.

Tak butuh waktu lama sampai komoditas ini menjadi populer sehingga timbul upaya monopoli oleh Kompeni di tahun 1626. Di saat bersamaan, kebiasaan mengisap lintingan tembakau yang disulut ujungnya sudah menjadi fenomena kebudayaan di kalangan elite lokal. Merokok dianggap dapat menunjukan status sosial.

Menurut catatan duta VOC di Jawa abad 17 yang dikumpulkan Amen Budiman dan Onghokham dalam Rokok Kretek: Lintasan Sejarah dan Artinya Bagi Pembangunan Bangsa dan Negara (1987), Kesultanan Mataram merupakan lingkungan yang cukup bersahabat dengan kretek. Oleh beberapa orang utusan VOC, Sultan Agung dan Sunan Amangkurat I digambarkan sebagai sosok yang gemar menghisap tembakau dengan menggunakan pipa perak.

Memasuki abad ke-19, tembakau berubah menjadi salah satu komoditas unggulan Pemerintah Kolonial Belanda. Dengan harapan meraup penghasilan besar, tembakau mulai ditanam secara besar-besaran melalui sistem tanam paksa. Tak ayal, perkebunan tembakau pun bermunculan secara bertahap dari wilayah ujung timur Pulau Jawa, mulai dari Besuki, Kedu, Cirebon, sampai ke Batavia. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed