Asuransi Bantu Ringankan Korban Kecelakaan di laut

Cerita Tragis Nelayan Cirebon

673
PERLU ASURANSI: Nelayan Waruduwur, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, menyandarkan perahu. Profesi nelayan yang berisiko tinggi perlu adanya asuransi. Foto: Jamal Suteja/Radar Cirebon

PENGHASILAN tak menentu, bahkan bertaruh nyawa merupakan risiko pekerjaan bagi nelayan. Meskipun risiko yang tak sebanding, tak membuat para nelayan berhenti melaut.

Cerita tragis yang dialami Casman, nelayan asal Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, merupakan salah satunya. Kakinya melepuh karena terbakar saat hendak melaut.

Berbeda dengan Casman, nasib Wasim (36), nelayan asal Desa Waruduwur, lebih tragis. Dia bersama adiknya Apud mengalami kecelakaan di perairan Kabupaten Karawang.

Hingga kini jenazahnya belum ditemukan. Ina, istri Wasim hanya bisa pasrah. Begitu juga dengan Mamun, mertua Wasim.

Peristiwa nahas itu terjadi 2015. Wasim dan adiknya saat itu memang berencana untuk berlayar ke Muara Angke, Jakarta Utara, mencari rajungan. Saat akan berangkat, Mamun sempat mengobrol mengenai kondisi cuaca.

Kebetulan saat itu cerah. Mamun pun tak punya firasat buruk. Namun, tiba-tiba di tengah perjalanan ada angin kencang dan ombak yang menghantam perahu hingga terbalik.

“Kejadiannya jam 03.00 malam di perairan Karawang. Saya tahu waktunya karena ada nelayan dari perahu lain, yang juga perahunya terbalik, tapi dia masih bisa selamat karena pegang pelampung,” kata Mamun.

Mendengar kabar itu, Mamun meminta bantuan warga untuk mencari menantunya itu. Pencarian juga dilakukan oleh tim SAR. Bahkan Mamun rela merogoh kocek sampai Rp 50 juta untuk biaya akomodasi pencarian menantunya.

“Sampai 10 perahu dikerahkan. Itu kan perlu bensin dan makan selama pencarian,” tuturnya.

Namun hingga setengah bulan pencarian, hasilnya nihil. Dia hanya bisa pasrah. Sembari menyadari kecelakaan itu merupakan risiko bekerja di laut.

“Cuaca sekarang tidak bisa diprediksi, pas berangkat cerah tapi di perjalanan bisa berubah,” ucap Mamun yang juga bekerja sebagai nelayan itu.

Kejadian memang sudah berlalu dua tahun. Saat itu tak ada perlindungan asuransi bagi nelayan dari pemerintah.

Masih beruntung Wasim memiliki Kartu Nelayan dan terkaver dalam program asuransi dari Ditpolair Polda Jabar dan Cirebon Power. Sehingga dia masih bisa mengklaim asuransi sebesar Rp 10 juta.

Uang itu pun digunakan keluarga untuk biaya tahlilan. “Uangnya dapat 10 juta, hanya Wasim yang dapat asuransi. Adiknya gak dapat, ya akhirnya kami bagi dua untuk biaya tahlilan,” kata Mamun. (jamal suteja)