Awas Ancaman Krisis Pangan, Pemerintah Pusat Cabut Subsidi Benih Padi

Kabupaten Cirebon
via--padi-benih-(2)Areal persawahan di Kabupaten Cirebon terancam tidak dapat swasembada pangan dan surplus padi, lantaran benih padi dicabut di MT 2 tahun 2018 ini.FOTO:NUR VIA PAHLAWANITA/RADAR CIREBON

CIREBON-Subsidi benih padi di musim tanam (MT) 2 gadu tahun 2018, telah dihapus pemerintah pusat. Pencabutan subsidi benih padi ini sangat disesalkan para petani di Kabupaten Cirebon.

Kepada Radar Cirebon, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon Tasrip Abu Bakar menuturkan, dicabutnya benih padi bersubsidi, menyurutkan para petani untuk melakukan masa tanam ke-2.

Sebelumnya, para petani membeli benih padi subsidi dengan varietas Impari 30, Impari 32, dan Impari 33 dengan hanya membayar Rp2.500/kg. Dikarenakan subsidi benih tersebut dihapus, maka petani membeli benih padi dengan harga Rp12.500/kg.

“Kami kecewa benih padi subsidi dicabut, sebelumnya subsidi varietas benih impari yang disubsidi pemerintah menjadi andalan kami, karena benih ini tahan hama dan wereng. Karena dicabut dan harga benih varietas impari mahal, maka jelas dampaknya akan menyengsarakan petani,” tegas Tasrip kepada Radar Cirebon.

Menurut Tasrip, pemerintah yang secara resmi menghapuskan subsidi benih padi dipastikan akan membuat gairah bertani semakin menciut. Dampaknya, benih padi yang selama ini hanya Rp2.500/kg, akan menjadi Rp11.000- 12.500/kg.

Harga tersebut, bisa saja akan jauh lebih tinggi saat memasuki musim tanam. Permintaan benih akan tinggi dan pasar bebas diberlakukan. “Saat benih padi unggulan menjadi mahal, petani pun malas bertani. Kondisi ini bisa menyusutkan area sawah. Jika area tanam padi berkurang, tentu pupuk subsidi juga tidak terserap maksimal. Awas, kondisi ini berpotensi menyebabkan krisis pangan,” tutur Tasrip.

Lebih lanjut, ujar Tasrip, di Kabupaten Cirebon ada 2.900 kelompok tani dan 412 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Dan saat benih padi unggulan bersertifikat menjadi mahal, maka para petani memilih benih sendiri yang kualitasnya tidak terjamin. Akhirnya, benih yang beredar di kalangan petani adalah yang berkualitas rendah dengan rendemen yang tidak maksimal.

“Dicabutnya subsidi benih ini, tak hanya menyurutkan semangat petani. Kita semua mengaku kecewa, apalagi saat ini mereka sedang menyiapkan varietas baru,” ungkapnya.

Varietas dari benih padi Impari 30, Impari 32, dan Impari 33 ini digadang-gadang mampu menggantikan varietas Ciherang yang selama ini sudah menjadi andalan petani. Impari disinyalir akan menghasilkan panen hingga 10 ton per hektare. Sedangkan Ciherang 6 ton per hektare area penanaman padi. Rasa dua varietas ini hampir sama. Hanya saja, produktivitas Impari lebih unggul.

“Kalau sudah demikian, apalagi harga benih semakin mahal, maka kita akan beralih melakukan tanam jarwo (jajar legowo) dengan varietas yang kurang bagus dibandingkan impari, seperti Varietas Ciherang, Cidenok, Pak Tiwi dan lainnya,” tandas Tasrip.

Senada dengan Tasrip, petani asal Desa/Kecamatan Gegesik, Syamsudin mengaku geram dengan kebijakan pemerintah yang tidak pro petani. “Saya geram dengan kebijakan yang tidak berpihak kepada petani. Kita mengharapkan tidak hanya subsidi pupuk saja yang diberikan, melainkan subsidi benih harus diberikan, sehingga bisa sinkron. Keduanya, pupuk dan benih sangat dibutuhkan. Pemerintah harusnya ada untuk petani, mengapa kini malah menekan? Kalau begini terus bukan swasembada pangan apalagi surplus padi, tapi Indonesia justru semakin terpuruk,” sesalnya. (via)