Awas! Banjir Ancam Cirebon

Kabupaten Cirebon
Bidang SDA DPUPR Kota Cirebon melakukan normalisasi di Sungai Kedungpane, sebagai antisipasi datangnya musim hujan. FOTO: AGUS RAHMAT/RADAR CIREBONBidang SDA DPUPR Kota Cirebon melakukan normalisasi di Sungai Kedungpane, sebagai antisipasi datangnya musim hujan.FOTO: AGUS RAHMAT/RADAR CIREBON

CIREBON-Banjir yang terjadi pada akhir Februari 2018 lalu, benar-benar menjadi momok menakutkan. Tidak hanya menyebabkan kerugian materil, banjir yang diklaim sebagai banjir terparah dalam 20 tahun terakhir tersebut, juga merenggut korban jiwa. Lalu, apa persiapan pemerintah dan warga dalam menghadapi musim hujan yang sudah di depan mata?

Puncak musim hujan diprediksi akan terjadi pada bulan Januari dan Februari 2018. Meskipun tidak akan setinggi pada saat musim hujan yang terjadi pada awal tahun 2018, namun hujan yang akan terjadi masih tergolong kategori hujan dengan intensitas tinggi.

Hal tersebut disampaikan Forecaster BMKG Jatiwangi Ahmad Faa Izyin saat dihubungi Radar Cirebon. Menurutnya, berdasarkan pengamatan cuaca dari citra satelit dan pergerakan awan, BMKG mempunyai prediksi atau prakiraan cuaca yang terjadi sampai tiga bulan mendatang.

“Sesuai data yang ada, untuk prediksi musim hujan puncaknya Januari dan Februari. Intensitasnya paling tinggi, bisa sampai 400 mm lebih. Tapi ini lebih kecil ketimbang musim hujan yang terjadi pada musim hujan sebelumnya. Pada saat puncak, intensitas hujan bisa sampai 500 mm lebih,” ujarnya.

Namun demikian, hujan yang berada di atas 400 mm tersebut, menurut Ahmad, masih tergolong hujan dengan intensitas tinggi dan harus diantisipasi. “Kalau prediksi untuk hujan memang tidak sampai setinggi kemarin. Tapi ini masih tergolong hujan dengan intensitas tinggi. Harus waspada terutama terhadap potensi banjir dan longsor serta pohon tumbang,” imbuhnya.

Sementara itu, Penjabat Bupati Cirebon Dr Ir H Dicky Saromi MSc menyampaikan, di Kabupaten Cirebon hingga bulan Oktober mengalami bencana banjir sebanyak 13 kali di 117 Desa, bencana longsor enam kali di enam desa. “Bahkan secara nasional, Kabupaten Cirebon masuk dalam indeks peringkat ke 107 rawan bencana, dan peringkat ke 7 rawan bencana di Provinsi Jawa Barat,” tutur Dicky.

Dalam hal ini, pihaknya pun telah menandatangani Surat Keputusan (SK) No 360/BPBD tahun 2018. Dan SK ini berlaku dari tanggal 1 November 2018  hingga 31 Mei 2019. “Dan pada bulan ini, adalah masa siaga darurat bencana,” ungkapnya.

Pada saat pelaksanaan apel kesiapsiagaan, pihaknya berharap mampu meminimalisasi korban akibat dampak bencana. “Bilamana potensi bencana itu tiba, kita sudah menyiapkan upaya dan berbagai langkah persiapan. Baik SDM, mobilisasi, serta peralatan agar selalu siaga,” jelasnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon H Dadang Suhendra menambahkan, saat ini prioritas tanggap bencana ada di wilayah timur yakni di Kecamatan Ciledug, Pasaleman dan Waled. “Ada tujuh titik sungai dan tanggul kita benerin dan normalisasi. Yakni di Kecamatan Ciledug, Pasaleman dan Ciledug,” katanya.

Ditambahkannya ada sekitar 450 personel yang diterjunkan dalam tanggap darurat bencana. BPBD Kabupaten Cirebon juga menerima bantuan plang (papan petunjuk) berupa jalur evakuasi, titik kumpul atau rambu-rambu petunjuk arah bila terjadi bencana. “Plang ini dipasang di 16 kecamatan. Termasuk tiga kecamatan rawan bencana di WTC. Ini merupakan langkah untuk mengurangi risiko bencana,” katanya.

Selain melakukan upaya tersebut, pihaknya juga memberikan pelatihan keterampilan dan mencanangkan desa tanggap bencana (Destana, red). Tujuannya, agar desa-desa tersebut mampu memberikan pertolongan awal dan tahu apa yang dilakukan saat bencana terjadi. “Untuk pertama kita lakukan di dua desa. Yang pertama Desa Wanakaya dan yang kedua Desa Gemulung Lebak. Ini untuk awal. Nantinya akan kita lakukan untuk desa-desa lainnya juga,” bebernya.

Menurutnya, bencana yang terjadi selama kurun waktu 2018 membuat banyak kerugian. Terutama karena banyaknya infrastruktur yang mengalami kerusakan. Kerugian tersebut terdiri dari kerugian yang diderita Pemkab Cirebon akibat hancurnya infrastruktur dan kerugian yang dialami warga, termasuk matinya ribuan ekor ternak dari mulai kambing, ayam dan sapi yang terendam banjir. Sejumlah antisipasi dan upaya pengurangan resiko bencana pun sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Jika ditotal, kerugian mencapai Rp141 miliar. Bencana tersebut dimulai sejak awal tahun hingga Oktober 2018.

Berbagai bencana yang melanda Kabupaten Cirebon antara lain, longsor dan gerakan tanah yang terjadi sebanyak enam kali di lima kecamatan dan delapan desa. “Akibat longsor dan gerakan tanah ini, sedikitnya ada 43 rumah rusak. Yang terdampak adalah 55 kepala keluarga dengan 218 jiwa dan dua jembatan rusak,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon Dadang Suhendra.

Bencana lainnya adalah angin puting beliung dan cuaca ekstrem yang melanda sebanyak 10 kali di berbagai titik di Kabupaten Cirebon. “Angin puting beliung dan cuaca ekstrem ini melanda lima kecamatan dan delapan desa. Jumlah rumah yang rusak mencapai 303 rumah, 223 kepala keluarga dengan 232 jiwa yang terdampak,” tukasnya. (dri/via/den)