Bangsal Witana, Bangunan Awal Cerbon Ki Danusela

Bangsal Witana, Kraton Kanoman

Rabu (12/9/2018) malam pukul 20.00 WIB di Keraton Kanoman akan dibacakan Babad Cirebon. Pembacaan babad tersebut merupakan rangkaian dari Hari Jadi ke-649 Kota Cirebon.

Pembacaan Babad Cirebon berlangsung di Bangsal Witana. Pepohonan tua yang rimbun, seakan sedang berada di masa lalu. Banyak simbol bernuansa filosofis dipahatan kayu Witana, ukiran-ukirannya mengundang tanya arti makna bagi siapa pun yang mengunjungi Bangsal Witana Keraton Kanoman.

Di langit-langit Bangsal Witana terdapat ukiran menunjukkan angka Candra Sengkala menandakan tahun renovasi komplek pada 1561 Saka atau sekitar 1639 Masehi.  “Candra sangkala itu menunjukkan angka 1561 Saka atau 1639 masehi. Angka tersebut menunjukkan tahun renovasi Witana pada era Pangeran Mas Zainul Arifin Panembahan Ratu,” ucap Juru Bicara Keraton Kanoman, Raja Ratu Arimbi Nurtina.

Bangsal Witana difungsikan sebagai tempat lelakon sultan atau menimba ilmu kebatinan. Witana berasal dari kata bahasa Cirebon Kuna, yaitu “Awite Ana” yang berarti permulaan ada. Seluruh bangunan inti dan sakral di Keraton Kanoman menghadap ke Utara. Keraton Kanoman sendiri dalam sejarahnya tidak terpisahkan dengan penyebaran misi ajaran Islam, yang merupakan pengembangan keraton sebelumnya.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih

Menurut Arimbi, Bangsal Witana rumah bangunan pertama yang ada di Cirebon, yang dibangun oleh Ki Danusela alias Ki Gedeng Alang-alang.  “Ki Gedeng Alang-alang membuka lahan di Tegal Alang-alang, tempat sekarang Bangsal Witana berada. Sekitar 1440 masehi, Dukuh Caruban mulai berdiri,” ungkapnya saat ditemui di Keraton Kanoman Cirebon, Rabu (12/9).

Lebih lanjut, Arimbi mengatakan pembentukan Dukuh Caruban itu dibantu Pangeran Walangsungsang alias Pangeran Cakrabuana. Saat pertama menjadi perdukuhan, lanjutnya, Ki Gedeng Alang-alang memimpi, sedangkan Walangsungsang menjadi Pangraksabumi. Tahun demi tahun penduduk Dukuh Caruban mulai bertambah.

“Awalnya perdukuhan, karena masyarakat tambahnya berubah menjadi pakuwuan hingga menjadi Kaprabon Caruban, saat itu Ki Gedeng Alang-alang wafat dan Walangsungsan menggantikannya,” tutur Arimbi.

Bangsal ini terletak di areal Keraton Kanoman paling belakang, tepatnya sebelah barat Kebon Jimat. Nama Witana berasal dari kata wiwit ana yang mengandung arti pertama kali ada rumah. Bangsal Witana adalah bekas rumah tinggal Ki Gedeng Tegal Alang-alang yang menjadi kuwu Cirebon pertama. Ki Gedeng Alang-alang membangun rumah tersebut pada abad ke-14 dengan bentuk bangunan joglo yang disangga dengan 4 (empat) tiang yang melambangkan empat kelima pancer. Arti empat kelima pancer yaitu sebagai gambaran empat malaikat Jibril, Mikail, Izrail, Isrofil, dan empat sahabat Nabi yaitu Abubakar, Umar, Usman, dan Sayidina Ali.

Dalam setiap tiangnya terdapat ukiran berbentuk teratai dan kembang wijayakusumah. Kembang teratai melambangkan kemandirian hidup, artinya jangan sampai mengandalkan orang lain, harus mandiri, dan hanya menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kembang Wijayakusumah mengandung arti harus mandiri jangan sampai merepotkan orang lain. Di bagian atap Bangsal Witana terdapat lambang matahari, yang mengandung filosofi bahwa matahari dapat menerangi dunia. Makna di sini bahwa keraton sebagai basis syiar Islam dapat memberikan penerang kepada masyarakat Cirebon.

Lambang matahari memberikan simbol penerang dari masa kebodohan ke arah peralihan, dari masa Hindu ke masa Islam. Selain itu terdapat lambang naga kamangmang berkula api, artinya bahwa hidup harus serius dan berpikir lebih maju. Di atas api ada burung, artinya harus berpikir lebih tinggi, pintar, menyeluruh. Burung akan selalu waspada dan berpikir luas. Di bagian depan sebelah kanan pada bangunan Witana terdapat pohon dewandaru yang menggambarkan masa peralihan dari Hindu ke Islam. Pohon ini ditanam pada abad ke-12. Di sebelah samping kiri bangunan Witana terdapat musala dan kolam yang digunakan untuk berwudhu.

Di halaman bangsal Witana terdapat dua buah hiasan berupa benda yang kokoh berukir bernama wadasan dan mega mendung yang melambangkan sebagai manusia harus berpendirian kuat, tegas, dan kuat dalam menghadapi tantangan. Hiasan mega mendung dan wadasan tersebut sering ditemukan dalam corak batik Cirebon. Motif wadasan ditemukan oleh Pangeran Cakrabuana, sedangkan motif mega mendung ditemukan oleh Sunan Gunung Jati. Di sebelah kiri bagian depan Bangsal Witana terdapat gapura yang melambangkan dua kalimah syahadat. Di sebelah kanan gapura terdapat menara.

Pada abad ke-15, menara tersebut digunakan untuk melihat hamparan laut, pantai, dan kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan Cirebon, disebabkan letak Bangsal Witana dan laut Cirebon hanya berjarak kurang lebih 500 m. Menara tersebut juga dijadikan sebagai tempat mengintai apabila ada musuh yang datang. Seiring perjalanan waktu laut Cirebon mengalami abrasi, hamparan laut sudah tidak kelihatan. Di sebelah kanan pelataran bangunan Witana terdapat sumur Witana. Sumur tersebut dibangun pada zaman kasultanan. Di depan bangsal Witana terdapat pasolatan yang di masa lalu digunakan sebagai tempat salat. Pada saat ini Bangsal Witana digunakan sebagai tempat peringatan ulang tahun Cirebon yang jatuh setiap tanggal satu Muharam. (*)