Banyak Diziarahi Pengunjung, Jumlah Ikan Dewa Tidak Pernah Bertambah

3111
CAGAR BUDAYA: Balong Kramat Darmaloka menjadi kawasan cagar budaya yang dilestarikan keberadaannya. AGUS PANTHER/RADAR KUNINGAN

Balong Keramat Darmaloka Kecamatan Darma

Setiap wilayah di Kabupaten Kuningan sudah bisa dipastikan memiliki tempat karuhun atau situs yang dikeramatkan. Banyak situs purbakala di Kabupaten Kuningan yang sudah dimasukkan sebagai kawasan cagar budaya yang harus dilestarikan. Seperti situs Buyut Salam di Desa Sangkanerang, Kecamatan Jalaksana, Sumur Tujuh Cibulan di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, dan juga balong kramat Darmaloka di Desa/Kecamatan Darma.  

Agus Panther, Kuningan

Situs Balong Kramat Darmaloka sendiri diketahui peninggalan masa lalu dan kerap dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Balong ini berjarak sekitar 1 km dari objek wisata Waduk Darma ke arah barat di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Di objek wisata yang berada di kaki Gunung Ciremai seluas 3 hektare tersebut terdapat lima kolam yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat dan dikelilingi oleh pepohonan tropis yang menjulang tinggi dan memiliki udara pegunungan yang sejuk. Objek wisata ini tak hanya menyajikan keindahan kolam berair jernih dengan ikan dewa berukuran besarnya, namun juga sejarah yang melatarbelakangi awal mula dibangunnya balong kramat oleh seorang utusan Sunan Gunung Jati untuk menyebarkan agama Islam di Kabupaten Kuningan.

Tak heran jika objek wisata ini banyak dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah terutama pada malam Jumat Kliwon untuk mencari berkah. Berdasarkan keterangan para tetua desa, Balong Kramat Darmaloka dibangun oleh seorang utusan Sunan Gunung Jati bernama Syeh Rama Haji Irengan sekitar tahun 1670 Masehi. Nama Darmaloka berasal dari kata Darulmai yang berarti nagara cai atau negara air karena sebagian besar sumber air di Kabupaten Kuningan berasal dari Darma.

Konon, kolam ini dibangun hanya dalam kurun waktu satu malam saja bersamaan dengan dibangunnya beberapa kolam lain yang serupa di Kabupaten Kuningan yaitu Balong Cibulan, Cigugur dan Pasawahan. “Syeh Rama Haji Irengan bersama beberapa sahabat ulama lain membangun beberapa kolam di Kabupaten Kuningan, yang kesemuanya berhasil tercipta hanya dalam kurun waktu satu malam. Pembangunan kolam-kolam tersebut awalnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan air bersih untuk masyarakat sekitar,” cerita pengelola Objek Wisata Damaloka, Odik Sondikar.

Menurut Odik, kolam Darmaloka adalah yang terakhir dibangun oleh Syeh Rama Haji Irengan bersama para sahabatnya. Oleh sebab itu, para ulama tersebut pun kemudian merayakannya dengan menggelar syukuran dengan makan bersama di pinggir kolam tersebut. Konon, terjadi sebuah peristiwa yang menakjubkan usai acara makan-makan para syeh tersebut ketika tulang belulang ikan yang tersisa dan dibuang ke dalam kolam tiba-tiba hidup layaknya ikan normal. Tak lama setelah kejadian itu, kemudian banyak bermunculan ikan-ikan berukuran besar yang kini masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan ikan dewa atau oleh warga sekitar menyebutnya ikan Kancra Bodas. “Sejak zaman dulu jumlah ikan dewa di Darmaloka selalu tetap, tidak pernah berkurang atau bertambah. Kalaupun ada yang mati, oleh kami tidak dibuang begitu saja melainkan dikuburkan dengan layak,” kata Odik.

Objek wisata Darmaloka banyak dikunjungi wisatawan terutama para peziarah pada saat libur nasional dan saat malam Jumat Kliwon. Keindahan alam pegunungan dan barisan pohon tropis, menjadikan tempat wisata ini sangat nyaman sebagai tempat rekreasi bersama keluarga atau sekedar menyegarkan pikiran dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Untuk menarik minat para pengunjung, pihak pengelola menyediakan fasilitas tambahan seperti terapi ikan, kolam renang anak dan toko cenderamata. (*)

BAGIKAN