Bedah Buku Muslim Milenial: Membaca Peluang dan Tantangan Zaman

MUSLIM-MILENIALDISKUSI: Romzi Ahmad (berdiri) membahas kajian Muslim Milenial di hadapan puluhan mahasiswa pada acara bedah buku yang diprakarsai PC PMII Cirebon, Minggu (19/8) lalu. Foto: Ist/radarcirebon.com

CIREBON – Saat ini baik Kota maupun Kabupaten Cirebon sudah mulai beradabtasi dengan globalisasi dan modernisasi. Banyaknya hotel, mal, pabrik sampai dengan universitas menjadi penanda Cirebon beradaptasi dengan arus globalisasi dan modernisasi.

Dampaknya, Cirebon mengalami perubahan, baik sosial, kultur maupun struktur masyarakatnya. Hal itu juga terkait dengan faktor historis, di mana era Sunan Gunung Jati sampai Panembahan Ratu I menjadikan Cirebon sebagai daerah metropolitan dan kosmopolitan.

Orang Cirebon menyebutnya “Grage” atau Negara Gede. Keberadaan Cirebon yang dulu sebagai negara metropolit dan kosmopolit inilah yang kemudian menuntut generasi muslim milenial mampu membuat rekapitulasi sejarah agar langkahnya tepat dari hulu ke hilir.

Apa yang disebut muslim milenial sebenarnya mengacu pada generasi milenial. Yakni, generasi yang saat ini berusia belasan sampai tiga puluhan tahun.

Generasi ini disebut generasi milenial, karena memang usianya yang masih sangat muda. Namun, tantangan dan persoalan yang dihadapi sangat begitu besar dan kompleks.

Hal itu berbeda dengan tantangan zaman pada generasi sebelumnya yang masih dibilang stabil. Akan tetapi, tantangan zaman yang dihadapi generasi milenial atau muslim milenial, justru berbeda.

Generasi muslim milenial dihadapkan tantangan dan kondisi zaman yang tidak menentu dalam berbagai hal. Baik tantangan ekonomi, politik pendidikan, pergaulan, fasion, gaya bahasa dan lain sebagainya.

Tantangan dan kondisi itulah yang kemudian menuntun generasi muslim milenial untuk ikut aktif, kreatif dan inovatif dalam menjawab tantangan zaman. Selain itu, generasi muslim milenial juga diharuskan sensitif, kreatif, produktif, takwa, intelektual, sosial dan spiritual.

Semuanya dimaksudkan agar generasi muslim milenial mampu beradabtasi dengan kondisi zaman. Muslim milenial harus peka (sensitif) ketika hadir dalam beberapa forum diskusi, kajian dan pelatihan-pelatihan yang sifatnya menunjang skill atau keahlian yang nantinya dibutuhkan baik oleh masyarakat maupun dunia kerja industri.

Hal itu menjadi tema besar bahasan diskusi bedah buku Muslim Milenial yang diprakarsai Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam indonesia (PC PMII) Cabang Cirebon, Minggu (19/8) lalu. Dua narasumber yang juga penulis buku Muslim Milenial, Romzi Ahmad dan Fahd Pahdepie, hadir dalam diskusi yang digelar di aula Gramedia Cirebon itu.

Acara diskusi dihadiri puluhan mahasiswa dari berbagai kampus yang antusias menyimak dan menanyakan perkara seputar generasi milenial. Terkait karakteristik, kelebihan, kekurangan, peluang, juga tantangan generasi milenial.

Menurut Ketua PC PMII Cirebon Zaky Mubarak, bedah buku Muslim Milenial ini merupakan upaya untuk menggali dan menelaah isi kandungannya. Buku Muslim Milenial ini sangat menginspirasi bagi kalangan pembaca, terutama generasi muslim milenial itu sendiri.

Di samping memang gaya bahasanya yang mudah dipahami, adaptif dan responsif, buku ini juga ditulis sejumlah intelektual muda yang aktif dan produktif. Para penulis buku Muslim Milenial banyak memberikan motivasi dan optimisme agar mampu berkarya nyata di bidangnya tanpa melihat status sosial, posisi strategis dan lain sebagainya.

“Melalui bedah buku Muslim Milenial ini, kami, Pengurus Cabang PMII Cirebon membuat ruang kesadaran, pola pikir dan motivasi terkait peran dan keberadaan muslim milenial saat ini. Harapannya, generasi muslim milenial, khususnya di Cirebon, mampu menjawab tantangan zaman yang syarat akan pengaruh globalisasi dan modernisasi,” tutur Zaki. (rls)