Begini Kronologi Tukang Becak Sadis Bunuh Tetangganya

KORBAN-TUKANG-BECAK-SADIS
TIBA DI RUMAH DUKA: Jenazah Alifah usai dilakukan otopsi di RS Bhayangkara Indramayu. FOTO: NURHIDAYAT/RADAR CIREBON

CIREBON – Pembunuhan yang menggemparkan Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jumat malam (11/1) masih menjadi buah bibir warga. Kemarin, usai dilakukan outopsi di RS Bhayangkara Indramayu, jenazah Alifah (50) tiba di rumah duka, di RT 2 RW 3 Desa Tuk.

Jenazah korban tiba pukul 15.40 WIB. Setibanya di rumah duka, langsung disambut isak tangis keluarga dan tetangga yang sudah berkumpul menanti kedatangan jenazah korban. Bahkan, anak korban Maemunah (33), jatuh pingsan saat melihat jenazah ibunya.

Setelah sempat disemayamkan beberapa saat, istri Nandar (50) itu kemudian disalatkan di musala untuk selanjutnya dimakamkan di pemakaman Sigaga Desa Tuk.

(Baca: Sadis, Tukang Becak Habisi Nyawa Tetangganya Sendiri)

Pagi sebelum kedatangan jenazah, Radar Cirebon sempat berbincang dengan Maemunah. Ia kembali menceritakan kronologis kejadian yang menimpa ibu kandungnya tersebut.

Maemunah bercerita, awal mula peristiwa memilukan itu terjadi ketika dirinya, ibunya dan beberapa anggota keluarga tengah menonton televisi, sekitar pukul 22.00 WIB. Tiba-tiba dari arah luar terdengar kaca jendela pecah. “Ada yang mecahin kaca. Terus saya nengok, ada apa kan,” tuturnya.

Tak lama, pelaku Saelani (47) masuk dan langsung mengayunkan golok berkali-kali ke tubuh korban. Melihat kejadian itu, Maemunah bergegas membawa kedua anaknya keluar melalui pintu belakang rumah. Sedangkan adiknya, Sarif berlari menuju kamar ayahnya sambil mengunci pintu. “Ibu aku sudah nggak berdaya,” ujarnya.

Belum puas, pelaku juga sempat berniat membunuh anggota keluarga yang lain. Saelani sempat mencoba berusaha membuka pintu kamar Nandar. Namun usahanya gagal karena terkunci rapat.

“Tadinya penginnya semua sekeluarga (dibunuh, red), untungnya saya lari sama anak dua. Terus bapak di sini di kamar sama adik. Pintu dikunci,” cerita Maemunah.

Maemunah melanjutkan, dirinya bahkan sempat melihat korban saat masih sadar. “Saya tahu, pas dipukul (dibacok, red) sama golok itu di depan mata saya sendiri jeh. Yang dipukul punggung duluan. Baru kepala terus tangan. Darahnya banyak banget, Mas,” sambungnya.

Sementara itu, Mendi (50) tetangga korban, mengaku sempat mendengar ketika pelaku memecahkan kaca jendela rumah korban. Namun, saat itu ia tidak menyangka jika peristiwa tersebut merupakan pembunuhan. “Nggak nyangka, kirain cek-cok biasa, masalah keluarga gitu kan. Nggak taunya ada kejadian ini,” katanya.

Saat kejadian, dia tengah berada di rumahnya yang tak jauh dari rumah korban. Karena penasaran, ia keluar rumah dan mengamati dari jauh. “Tapi nggak kelihatan, karena lampunya mati, mungkin kilometernya dimatikan sama pelaku,” imbuhnya.

Setelah membunuh korban, pelaku tidak mau keluar. Ia bahkan kembali memecahkan kaca jendela, ketika warga berusaha masuk. Warga kemudian berusaha memancing dengan memanggil Kholid, teman akrab pelaku. “Terus Pak Kholid manggil, dia keluar. Diajak ngobrol, terus baru ada aparat,” katanya.

Namun, saat itu petugas belum tahu jika pelaku pembunuhan adalah Saelani. “Jadi saya kasih tahu, itu pelakunya, sambil berteriak. Tapi pas mau ditangkap dia lari,” katanya.

Saat kabur, pelaku masih membawa senjata tajam yang digunakan untuk menghabisi korban. Ia lari hendak menuju Desa Kedung Dawa Kecamatan Kedawung. Saat melarikan diri, pelaku bahkan sempat melukai warga lain di pinggir jalan.”Dia bacok lagi, korbannya namanya Pak Tuban. Di pinggir jalan dekat pom mini itu. Akhirnya ditangkap di situ juga,” tuturnya. (day)