Belajar Propaganda Politik: Tentang Stanley Greenberg dan Indonesia

Sehubungan dengan adanya hiruk pikuk informasi dan analisa mengenai isu keterlibatan Stanley Greenberg dalam pesta demokrasi dan pemilu di Indonesia. BPN Prabowo Sandi Ungkap Informasi Dugaan Jokowi Gunakan Konsultan Amerika Serikat. TKN Joko Widodo Ma’ruf Amin Bantah Jokowi Gunakan Jasa Konsultan Amerika Serikat

Hal menjadi sangat penting sebagai bagian pembelajaran publik untuk lebih teliti dan dalam berita yang belum dapat dikonfirmasi kebenarannya.

Sebelum membaca artikel ini, sesuai dengan etika mohon dimaklumi apabila penulis tidak dapat membuka seluruh bukti-bukti dalam bentuk dokumen otentik. Namun hal ini tidak mengurangi validitas proses penelitian yang dilakukan untuk dapat melakukan pengecekan sumber-sumber yang dirujuk dalam artikel ini.

Bahwa sebagai bahan-bahan untuk penjelasan mengenai isu mengenai Stanley Greenberg merupakan konsultan Jokowi juga pernah muncul dalam Pilpres 2014. Namun hingga saat ini, belum ada bukti Jokowi menjadi klien Stanley Greenberg. Bahkan, saat itu dikembangkan oleh sebuah akun twitter yang dikenal dengan nama @triomacan2000 yang juga dipopulerkan melalui website berita www.asatunews.com.

Artikel ini jangan dipandang sebagai sebuah dukungan politik ataupun bantahan yang memojokkan sesama anak bangsa yang giat bersemangat dalam memperbaiki bangsa melalui narasi-narasi intelektual, perdebatan, diskusi mendalam yang mendorong perubahan Indonesia menjadi lebih baik. Selain itu, meskipun berbau politik, penulis tidak mencampuri urusan politik dalam negeri, khususnya dalam persaingan menuju kekuasaan melalui mekanisme pemilu.

Penulis akan memulai tulisan artikel ini pada saat isu mengenai Stanley Greenberg merupakan konsultan Jokowi juga pernah muncul dalam Pilpres 2014.

Pertama, berdasarkan konfirmasi kepada Kantor Greenberg Quinlan Rosner Research, belum pernah ada satupun tokoh Indonesia yang menggunakan Jasa Stanley Greenberg baik untuk pencitraan maupun pemenangan pemilu. Bila anda di Amerika Serikat silahkan kunjungi kantornya yang beralamat di 10 G Street, NE Suite 500, Washington DC. Bila anda ingin kontak per-telepon silahkan kontak +1 202 478 8300 atau Fax +1 202 478 8301. Jawaban resminya adalah demikian, TIDAK BENAR ada upaya pencitraan ataupun upaya mendorong salah seorang tokoh Indonesia menjadi Presiden.

Beberapa pihak mungkin akan mendebat bahwa pekerjaan Stanley Greenberg bersifat rahasia dalam deal dengan peranan Arkansas Connection (Ingat kisah Bill Clinton dan pengusaha keluarga Riyadi). Kerahasiaan client sangat mungkin terjadi karena ada Undang-Undang di AS yang melarang pembocoran identitas client tanpa izin sang client. Sehingga tidak memungkinkan bagi siapapun dari Indonesia untuk mendesak pengungkapan siapa yang menyewa Lembaga Greenberg tanpa adanya delik hukum atau perintah pengadilan. Hal inilah yang dimanfaatkan pelaku-pelaku propaganda entah untuk kepentingan kelompok atau demi uang merancang suatu argumentasi karena akan sangat sulit dilakukan penyelidikan yang akurat.

Kedua, dasar informasi dari tuduhan keterlibatan Greenberg adalah berdasarkan pada sebuah survey yang diberitakan dilakukan oleh Greenberg Quinlan Rosner Research terkait dengan 3 nama capres menjelang pemilu di Indonesia yakni Jokowi, Prabowo dan Aburizal Bakrie dan juga mengenai popularitas Partai Politik. Hal ini ramai diberitakan sejumlah media massa pada akhir September 2013, contohnya Suara PembaruanMerdekasigmanews.

Namun hanya asatunews yang cenderung memanfaatkannya untuk menyerang secara serius menjadi isu rekayasa pencitraan sebagaimana juga dilakukan oleh akun twitter @triomacan2000 dan beberapa akun twitter sejenis lainnya. Sayangnya sejumlah website yang dikelola kalangan Muslim juga mulai termakan oleh oleh propaganda hitam tersebut, karena akan sangat efektif untuk melemahkan dukungan publik dengan tuduhan keterlibatan Yahudi dalam politik nasional Indonesia.

Ketiga, akun @triomacan2000 menampilkan diagram yang menghubungkan sejumlah pihak terkait dalam rekayasa pencitraan Jokowi. Misalnya saja pencitraan tersebut didukung oleh konglomerat seperti Anthony Salim, James dan Mochtar Riyadi, serta politisi Pat Robertson (Republikan), Kristen Evangelist, China/RRC connection, Catholic Community, serta berbagai lembaga yang melambungkan salah seorang tokoh Indonesia untuk menjadi Presiden Boneka. Bahkan dalam kuliah twit-nya juga disebutkan mengenai keterlibatan Intelijen Militer China dan dikait-kaitkan dengan kasus Lippogate dalam politik dalam negeri AS.

 

 

Diagram tersebut diatas bukan saja dangkal melainkan juga janggal secara logika. Utamanya adalah mengenai kolaborasi China (Intelijen), agen (pengusaha Riyadi), Politisi (Republikan), Greenberg (Kiri – Demokrat) serta memasukan unsur Evangelist dan Catholic untuk pencitraan seorang tokoh Indonesia yang rencananya akan dijadikan Presiden Boneka.

Mengapa tidak logis? Karena unsur-unsur pendukung yang ditampilkan hampir semuanya berlawanan atau beroposisi baik secara kepentingan maupun ideologi. Satu-satunya yang dapat menjadi faktor pengikat dari unsur-unsur pendukung proyek pencitraan tersebut adalah “persepsi ancaman” terhadap Islam yang merupakan agama mayoritas dianut bangsa Indonesia.

Sehingga besar kemungkinan analisa dalam bentuk diagram diatas sengaja disusun untuk menarik perhatian umat Islam agar terbentuk persepsi tertentu terhadap salah seorang tokoh yang memiliki popularitas.

Kasus Lippogate sudah lama selesai, keluarga Riyadi tetap memiliki kekayaan yang signifikan dan memiliki hubungan baik dengan sejumlah tokoh penting di China. Anthony Salim cenderung apolitis dan jauh lebih profesional daripada Ayahandanya Soedono Salim dan lebih berkonsentrasi kepada Bisnis.

Pat Robertson dari Partai Republik adalah politisi Evangelist yang dianggap aneh dan memiliki pandangan radikal terhadap non-Kristen da Kristen non-Evangelic mungkin ada hubungan dengan James yang belum lama pindah menjadi Evangelist, tetapi belum ditemukan bukti kepentingan Evangelist terhadap Jokowi, terlebih dalam diagram juga dimasukan faktor komunitas Katholik baik melalui Ahok maupun langsung ke Jokowi.

Evangelist memiliki perbedaan mendasar dengan Katholik dalam hal organisasi dimana gereja Evangelist tergantung pada denominasi, sedangkan Katholik atau Katholik Roma memiliki hirarki organisasi yang dipimpin oleh Paus. Dalam hal penafsiran dan ajaran tentunya para penganutnya lebih memahami daripada penulis.

Justru karena diagram tersebut diataslah menjadi suatu keyakinan bahwa propaganda @triomacan2000 terlalu dipaksakan dan belum matang untuk dipublikasikan menjadi polemik di tengah-tengah dunia sosial media. Andaikata saat itu @triomacan2000 belajar lebih teliti, tentunya akan dapat membangun suatu propaganda yang lebih baik dan meyakinkan.

Keempat, release hasil penelitian Greenberg Quinlan Rosner Research konon dilakukan “tertutup” namun kemudian dikutip sejumlah media massa. Pertanyaan selanjutnya tentu siapa yang melaksanakan survey tersebut di Indonesia?

Tentunya membutuhkan pelaksana lapangan bukan? Pada tahun 1999 dan 2004, lembaga yang menjadi rujukan bagi AS tentang dinamika demokrasi di Indonesia adalah National Democratic Institute (NDI). Bahkan NDI juga membesarkan nama Presiden SBY bersama-sama survey yang dilakukan LP3ES yang kemudian akhirnya SBY menjadi presiden RI pertama yang dipilih langsung oleh rakyat Indonesia. NDI sudah memiliki jaringan yang bagus di Indonesia dan mungkin satu-satunya lembaga yang dibiayai oleh Pemerintah AS dan memiliki misi demokratisasi di seluruh dunia.

NDI juga tercatat memiliki kerjasama erat dengan Greenberg Quinlan Rosner Research di berbagai negara. Apakah NDI yang melaksanakan survey Greenberg ataukah Greenberg yang mengklaim memiliki jaringan di seluruh dunia yang melaksanakannya sendiri belum dapat penulis pastikan.

Kelima, motivasi dibalik suatu berita dalam dunia politik memiliki banyak probabilita. Baik pencitraan maupun propaganda hitam memiliki tujuan mendapatkan perhatian publik. Sebuah berita yang baik adalah yang asli apa adanya dan tidak diwarnai terlalu banyak opini penulis yang menterjemahkan isi berita.

Misalnya dalam kasus Greenberg. Intisari berita adalah pada sekitar September 2013 Greenberg membuat laporan survey yang menujukkan elektabilitas Jokowi tertinggi. Opini yang terbangun oleh pendukung Jokowi adalah, bukti survey lembaga asing yang kredibel yang tidak mungkin direkayasa semakin meningkatkan kepercayaan rakyat Indonesia. Wajar bila survey lembaga asing hasilnya sama dengan survey-survey lembaga survey Indonesia. Pengakuan asing terhadap Jokowi semakin bertambah karena Greenberg Research yang berhasil menjadikan sejumlah tokoh di berbagai negara menjadi Presiden ternyata juga membuat survey tentang popularitas Jokowi sebagai Capres.

Namun sebaliknya opini oleh pihak yang tidak mendukung Jokowi adalah, Greenberg Yahudi merekayasa seluruh pencitraan Jokowi. Kospirasi Yahudi-Kristen-China dalam rekayasa popularitas Jokowi ternyata sebuah kebohongan yang memuakan rakyat Indonesia. Ternyata ada pihak-pihak tertentu yang menyewa Greenberg untuk rekayasa pencitraan Jokowi melalui berbagai media dan survey.

Silahkan direnungkan dan pelajari bagaimana sebuah proses propaganda politik bekerja dan mempengaruhi persepsi publik.

Akhir kata, artikel ini murni pembelajaran publik dan untuk dipelajari secara seksama bagaimana sebaiknya kita sebagai bangsa yang besar mau meluangkan waktu untuk mencermati dinamika di sekeliling kita termasuk bagaimana upaya-upaya mempengaruhi persepsi kita tentang diri kita dan pemimpin kita. (*)

Penulis: Dian A Setiawan, wartawan tinggal di Jawa Barat, email: dindingw@gmail.com

Yuk! Baca Juga, Berita Terkaitnya

Terkini Lainnya