Benarkah Kita Keturunan China? Sejarah Cirebon Ini Dianggap Jadi Buktinya

4290
Vihara Dewi Welas Asih, Kota Cirebon.

Peryaaan Imlek 2016, CNN Indonesia menurunkan laporan unik berjudul “Siapakah Orang China?” Laporan hasil wawancara dengan Ketua Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia Sutrisno Murtiyoso itu mengungkapkan, orang-orang yang sekarang kita sebut “orang Indonesia” menurut penelitian adalah mereka yang memiliki keturunan orang-orang Austronesia di China.

Bahkan,  catatan Dagh-Register gehouden int Casteel Batavia, tahun 1681 Kesultanan Cirebon mengirim tujuh orang bangsawan dengan Jaksa Pepitu ke  Batavia untuk minta perlindungan karena akan diserang Mataram.  Lima orang dari tujuh Jaksa Pepitu, antaranya “chinees” (orang China). Benarkah? Berikut laporan lengkapnya.

BENARKAH “orang Indonesia asli” ialah mereka yang benar-benar masyarakat Indonesia? Atau benarkah yang diklaim sebagai “orang China” adalah sebenar-benarnya orang China? Bagaimana jika fakta tersebut ternyata berkebalikan?

Dari sejumlah literatur yang berhasil dihimpun CNN Indonesia, sejarah mengenai orang Indonesia dan China nyatanya memiliki kaitan dan terentang sejak ribuan tahun yang lalu. Orang-orang dari daratan, atau yang disebut China tercatat ‘berpetualang’ ke Nusantara sejak 3 hingga 4 ribu tahun lalu.

Bahkan, orang-orang yang sekarang kita sebut “orang Indonesia” menurut penelitian adalah mereka yang memiliki keturunan orang-orang Austronesia di China. Ialah Ketua Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia Sutrisno Murtiyoso yang mengungkapkan hal tersebut saat dijumpai di kediamannya di Bandung. Di mana simpulan tadi ia peroleh dari penelitian yang ia kerjakan dengan mengumpulkan dokumentasi di seluru kelenteng di wilayah Jawa dan Bali.

Dalam deskripsi Sutrisno, masyarakat Austronesia di China direpresentasikan masyarakat yang menyerupai masyarakat Flores, Batak, Dayak yang artinya bukan seperti “orang China” yang kita kenal pada umumnya: berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka berkulit cokelat dan bermata bulat.

Dalam suatu teori, Sutrisno bilang ketika es mencair dan permukaan air naik pada 10 ribu tahun lalu, orang-orang dari Nusantara ini pindah ke utara, yakni ke China. Ketika di utara sudah mampu bertani, mereka mengalir dan kembali ke Indonesia lagi.

Ini sejalan dengan teori yang mengatakan bahwa Taiwan merupakan tempat asal persebaran orang-orang Austronesia. Dari Taiwan, mereka melayari Filipina, turun ke Selat Makassar. Kemudian terbagi dua: ke barat hingga mencapai pulau-pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Semenanjung. Yang ke timur terbagi dua, melayari Halmahera dan Laut Flores.

Orang-orang Austronesia masih ada di China hari ini, tapi jadi minoritas.

KEDATANGAN ORANG HAN

Pada masa yang lebih muda atau 300-400 SM pada masa Dinasti Chou, China sudah mengenal cengkih padahal saat itu penghasil cengkih di muka bumi ini hanyalah Maluku. Orang Romawi pada zaman yang sama juga sudah kenal cengkih dan pala.

“Rasanya tidak mungkin orang Romawi sendiri yang datang ke Maluku, melainkan lewat banyak tangan hingga tiba di Romawi. Tapi kalau orang China, mungkin saja, karena orang-orang Austronesia pelaut,” ujar Sutrisno.

Lebih kurang 1000 tahun lalu, sudah terjadi hubungan antara orang-orang Han dengan orang-orang di Nusantara. Suku Han yang tinggal di sepanjang sungai Han, di China Utara inilah yang, menurut Sutrisno, sejatinya disebut orang China.

Kedatangan mereka mulai banyak dan signifikan pada zaman Majapahit, abad ke-13 dan 14.  Hukum di Jawa kala itu, orang asing boleh kawin dengan perempuan Jawa, tapi anak jadi milik ibu, tak pernah milik bapaknya.

Pada waktu itu tenaga manusia serta jumlah penduduk adalah yang paling penting, dan penguasa tahu sekali faktor ini. Akibatnya, sampai abad 17-18 praktis secara legal tidak ada orang China di Jawa karena jadi orang Jawa semua.

Salah satu bukti adalah catatan Dagh-Register gehouden int Casteel Batavia. Tahun 1681 Kesultanan Cirebon membuat perjanjian dengan Batavia untuk minta perlindungan karena takut diserang Mataram. Mereka lari ke Batavia karena dianggap lebih aman.

Utusan dari  Cirebon ke Batavia untuk menandatangani perjanjian adalah tujuh pejabat Jaksa Pepitu, semacam  Dewan Penasihat. Perjanjian itu sekarang masih tersimpan di Arsip Nasional.

Penjaga benteng Kastil Batavia yang bertugas mencatat, melaporkan ada tujuh orang dari Cirebon, lima di antaranya “chinees” (orang China). Padahal tak tertulis nama China satu pun di dalam catatan, semua nama bangsawan. Penjaga menuliskan “chinees” hanya berdasarkan wajah.

Lantas dari mana jalannya ada orang China bergelar bangsawan?

Tak lain, anak yang berbapak China dan beribu Jawa tadi banyak yang membantu bapaknya berdagang, sehingga kepandaian mereka dalam ilmu berhitung di atas rata-rata. Sultan Cirebon lantas merekrut orang-orang dengan kemampuan demikian untuk bekerja untuk kraton dan memberi mereka nama bangsawan.

Orang-orang China kemudian benar-benar datang dalam jumlah banyak adalah sewaktu Jan Pieterszoon Coen mendirikan Batavia pada 1600-an awal. Coen tidak punya penduduk karena penduduk Sunda Kelapa baru saja diusir, sedangkan orang Belanda hanya puluhan orang.

“Mau pakai orang setempat, orang Banten dan Mataram, mana dia percaya? Mereka baru saja diusir, masa dipakai untuk bangun kota, nanti malah mencelakakan dirinya,” ujar Sutrisno.

Coen, yang pernah di Taiwan saat Taiwan dikuasai VOC, akhirnya mengambil orang-orang Taiwan yang perangainya sudah sangat dia kenal. Agen yang jadi penghubungnya mendatangkan banyak orang dari Hokkian, sekarang Provinsi Fujien, di wilayah Selatan, pesisir yang berhadap-hadapan dengan Taiwan.

Orang-orang China yang baru datang ini bukanlah pedagang. Mereka para tukang: tukang kayu, tukang aduk pasir, tukang bikin kapur, dan tenaga kasar lain yang keterampilannya sangat dibutuhkan untuk membangun kota.

Sejak abad ke 17 sampai akhir 19 yang datang ke Jawa adalah orang-orang Hokkian. Karena itu, mayoritas orang China di Indonesia adalah orang Hokkian.

Tak heran ketika penyebutan “Sincia” (tahun baru) dilarang Orde Baru, maka yang dipopulerkan adalah “Imlek” (tarikh bulan) yang diambil dari dialek Hokkian. Istilah resminya, “Yinli”, semakin ditinggalkan.

Istilah “Tiongkok” dan “Tionghoa” pun berasal dari dialek Hokkian, padahal sebutan resmi yang diterima seluruh suku di China dan tidak mengandung pretensi apa-apa adalah “Cungkuo”. (cnnindonesia)

BAGIKAN