Bung Pata Terus Melestarikan Lukisan Kaca Cirebon

Kota Cirebon
Pata Suparta Seniman dan dalang melukis di sanggarnya. FOTO:ABDUL HAPID BADRUDIN / RADAR CIREBONPata Suparta Seniman dan dalang melukis di sanggarnya.FOTO:ABDUL HAPID BADRUDIN / RADAR CIREBON

CIREBON-Dulu disakralkan, kini lukisan kaca dari Cirebon dipandang tak lebih sebagai kerajinan berharga murah. Ada di posisi antara hidup dan mati. Para pegiat seni di Kota Cirebon tidak mendapatkan dukungan fasilitas atau ruang untuk mengapresiasikan hasil karyanya kepada publik. Ini juga berlaku pada mereka pegiat seni tradisi. Salah satunya lukisan kaca.

Pata Suparta (63), seniman dan dalang yang makan asam garam di bidang seni. Dari dunia perwayangan, ke lukis kaca. Juga seni rupa dan lukisan. “Waktu di Jakarta ada demo besar-besaran, pengaruhnya sampai ke kampung. Dalang wayang nggak aku. Orang ricuh siang malam,” cerita Pata, soal peralihan profesinya yang berteparan dengan reformasi.

Lukisan kaca dipilih. Lantaran punya filosofi. Salah satu objek lukisannya wayang. Dituangkan dalam kaca. Yang filosofinya ialah berkaca. Juga jernih dalam berfikir dan tidak asal melangkah.  Dari lukisan kaca, ia dapat menjelajahi Indonesia. Pameran dari satu kota ke kota lainnya. Juga ikut berbagai ajang. “Intinya kita ya kerja, ya melestarikan budaya Cirebonnya,” katanya.

Sekarang, peminat lukisan kaca mulai berkurang. Kalah dengan barang impor. Sedangkan lukisan kaca masih manual. Di samping itu harganya lumayan mahal karena hand made. Bukan diproduksi menggunakan mesin.

Di Cirebon sendiri, tinggal satu atau dua orang saja yang meminati lukis kaca. Itu pun karena orang tersebut mengeri budaya Cirebon atau ngerti tata susila. Kondisi penjualan yang lesu ini sudah terjadi lima tahun terakhir. Kendati demikian, Pata berusaha tetap bertahan dengan profesinya. Tetap melukis. Membuat karya dari balik jernihnya kaca. (pid-mg)