Cara Melatih Anak Menulis

185
Deny Rochman

PUNYA anak yang bisa menulis tentu menjadi harapan banyak orang tua. Karena dengan memiliki kemampuan menulis pengetahuan anak lebih cepat bertambah. Bertambah cerdas, dewasa dan tumbuh menjadi manusia berkarakter mulia serta bisa meningkatkan populeritas. Manfaat inilah yang kini tengah dikejar oleh pemerintah melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Menulis itu merupakan alat pembentuk peradaban emas manusia. Tentu menulis yang tak sekadar menulis. Tapi menulis yang mampu mempengaruhi orang lain. Mempengaruhi untuk mau membacanya, bahkan bisa menggerakan dan mengikuti keinginan penulis. Tulisan yang mampu bermanfaat tidak saja bagi kebutuhan penulisnya tetapi juga bagi kemaslahatan banyak orang.

Faktanya tidak semua harapan orang tua bisa terpenuhi. Mereka tetap saja merasa kesulitan mengajari anaknya untuk menulis. Menjadikan kegiatan menulis sebagai ketrampilan dan kebiasaan. Sekalipun beberapa mereka sudah mendapatkan banyak pengajaran menulis di sekolah atau mengikuti pelatihan khusus. Anak tetap anak, mereka tetap asyik dengan dunia bermainnya bahkan ada juga yang semakin gandrung dengan hiburan di televisi, gadget dan internet.

Kegiatan menulis memang kemampuan yang sulit dan tertinggal daripada kemampuan lainnya seperti berbicara dan mendengarkan yang sudah dilatih sejak bayi. Anak baru mengenal ilmu menulis saat mulai sekolah, khususnya pada usia sekolah menengah. Sama halnya kemampuan lainnya, menulis pun harus melalui proses latihan tiada henti.

Peran orang tua menjadi penting dalam mengembangkan dan mendalami kemampuan menulis anak. Guru di sekolah terbatas waktu dalam memberikan pemantapan kemampuan menulis anak apalagi jika sampai tahap terampil. Terbatas karena pengalamannya. Terbatas perhatiannya dengan jumlah siswa satu kelas satu sekolah sangat banyak. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua dalam membangun budaya menulis bagi anak.

Pertama, sampaikan kepada anak manfaat menulis bagi dirinya. Manfaat menulis tidak hanya mampu menuangkan ide gagasan dalam bentuk tulisan. Tetapi juga mengikat makna apa yang ditulis sehingga mempercepat jumlah pengetahuan yang diperoleh dalam jangka waktu lama. Pada akhirnya kegiatan menulis bisa dirasakan manfaatnya baik dari sisi sosial, psikologi, kesehatan maupun ekonomi.

Kedua, kenalkan dunia menulis kepada anak sejak dini. Saat waktu luang, sering-seringlah mengajak anak berkunjung ke toko buku, perpustakaan, bazar atau acara diskusi buku. Biasakan orangtua di rumah berlangganan bacaan untuk anak-anak, termasuk memberikan hadiah buku pada momen momen tertentu.  Bacaan yang bergizi, bacaan yang bisa membangkitkan jiwa,  bukan merusak jiwa.

Ketiga, mulai latihan menulis dari aktivitas sehari-hari anak. Orangtua tidak perlu repot-repot apalagi sampai stres melarang anak-anaknya tidak boleh main ini main itu. Melarang nonton ini melihat itu, sesuatu yang menjadi kebiasaan dan kesenangan anak. Larangan tersebut justeru membuat anak akan membenci kegiatan menulis karena ada tekanan psikis.

Buat komitmen bersama anak tentang kebiasaan hidupnya sehari-hari harus berbasis tulisan. Apapun kegiatan anak, apakah saat di sekolah, bermain, menonton televisi dan sebagainya, harus dituliskan dalam laporan tertulis. Anak yang suka sinetron, mintalah untuk menceritakan kembali jalan cerita episode sinetron dalam bentuk tulisan. Begitu juga bagi anak yang hobi olahraga atau bermain lainnya tugaskan menulis ceritanya.

Berikan anak sebuah buku catatan harian yang bisa menjadi media menulis dia. Secara periodik buku catatan harian itu diminta untuk diperlihatkan dan dibacakan ulang oleh anak di depan orangtuanya. Akan lebih baik cerita itu bisa didokumentasikan dalam bentuk file di komputer sehingga lebih tahan lama saat dibutuhkan kelak.

Bila orang tua memiliki rezeki, tidak ada salahnya anak yang usia remaja diberikan smartphone sebagai sarana menulis. Namun tetap dengan kontrol yang baik dalam penggunaanya. Dengan ponsel android terkoneksi internet ini anak akan leluasa menuliskan ceritanya kapan pun dimanapun tanpa menunda lama dengan suasana hati menyenangkan.  Ada foto, ada tulisan langsung dibaca teman-teman media sosialnya.

Keempat, ikut sertakan anak untuk mengikuti lomba menulis. Mengikuti lomba menulis sebagai ajang merangsang kemampuan menulis anak. Kompetisi yang terjadi akan menjadi tantangan dan menumbuhkan kemampuan menulisnya. Apalagi dengan hadiah yang menarik akan mendorong anak semakin semangat untuk menulis.

Melalui pola latihan menulis seperti itu, keterampilan anak tidak saja pada pengembangan kemampuan menulis. Pada bagian lain, seperti membacakan kembali tulisan yang dibuat, akan melatih kemampuan berbicara atau menyampaikan pendapat. Terlebih jika dalam proses tagihan tersebut ada ruang diskusi atau tanya jawab antara orangtua dan anak perihal laporan kegiatan yang ditulisnya.

Melatih kemampuan menulis anak terhadap kegiatan sehari-harinya membuat kegiatan menulis bukan sesuatu yang membosankan. Karena bahan materi yang ditulisnya selalu berbeda topik dan masalah setiap harinya. Lebih menyenangkan jika aktifitasnya diabadikan dalam foto dan tulisan yang terposting dalam media sosial atau website pribadi anak. Hebatnya lagi jika berbagai kegiatan tersebut bisa dibukukan dan diterbitkan. (*)

*Penulis adalah pecinta kegiatan literasi, Guru IPS SMPN 4 Cirebon

BAGIKAN