Cuaca Labil, Hasil Panen Garam Tidak Optimal

dri---garam-(8)Sejumlah petani di Desa Waruduwur Kecamatan Mundu mulai memanen garam, kemarin. Hasil panen perdana saat ini belum sesuai harapan karena terhambat panas yang belum maksimal.FOTO:ANDRI WIGUNA/ RADAR CIREBON

MUNDU–Petani garam di Kabupaten Cirebon semringah. Pasalnya tiga hari menjelang lebaran, mereka melakukan panen perdana garam krosok. Meski baru sebagian petani yang panen, namun hal ini disambut baik, karena hasil panen bisa membantu para petani menyambut hari raya.

Suwandi (42), warga Dusun II Desa Waruduwur mengatakan, musim kemarau dan panas yang intens sudah berlangsung sebulan terakhir. Kondisi ini membuat petani lebih mudah menggarap lahan tambak. “Kita sudah mulai sebulan sebelumnya. Dari mulai menyiapkan lahan, memperbaiki instalasi irigasi dan mulai memproses air laut menjadi garam. Kalau dihitung dari awal prosesnya sekitar satu bulan. Tapi kalau dihitung dari air masuk ke dalam tambak itu sekitar 1 sampai dua mingguan,”ujar Suwandi.

Namun demikian, saat ini proses pembuatan yang dilakukan petani tambak garam relatif membutuhkan waktu yang lebih lama. Hal tersebut dikarenakan panas yang ada saat ini belum maksimal. Meskipun hujan sudah tidak turun, namun awan tebal masih sering menghalangi panas matahari. “Kalau cuacanya normal bisa cepat. Cuma memang sering terbentuk awan tebal di atas, jadi panasnya belum maksimal, waktu penggarapan pun praktis lebih lama, otomatis hasilnya pun tidak maksimal,”imbuh Suwandi.

Sementara itu, tokoh petani penggarap lahan tambak garam, Sabri mengatakan beberapa wilayah Kabupaten Cirebon sudah mulai melakukan penan perdana garam. Namun diakuinya kondisi ini belum merata karena masih banyak lahan yang baru dipersiapkan untuk memproduksi garam.

“Harga saat ini masih lumayan tinggi. Tergantung kualitasnya. Jika kelas satu, otomatis mahal, masih di angka Rp2.500. Saat ini sudah ada beberapa daerah yang mulai panen seperti Asjap, Mundu dan sebagian wilayah Pangenan,”ungkapnya. (dri)