oleh

Dahlan Iskan Menggebuk Impor Buah

“Kalo kita impor apel atau anggur dari luar negeri masih wajar, tapi kalo sudah impor pisang itu kurang ajar namanya” kata Dahlan Iskan, ia lantas membuat program penanaman pisang di PTPN VIII tahun 2012 lalu sekarang udah panen, garis bisnis penanaman pisang di sela-sela pohon karet adalah untuk memanfaatkan lahan menganggur. “Di antara satu pohon karet dengan pohon karet lainnya, ada lahan seluas 6 meter. Ada dua jenis produk tanaman tropis yang ditest di sela-sela lahan PTPN, Pisang jenis cavendish dan baranang, juga pepaya Calina.

Sudah ada 1200 hektar lahan pisang yang panen. “Kalau dulu maen karet, bisa enam tahun duit baru masuk, tapi kalo sudah dengan pisang baru 8 bulan duit sudah masuk ke perusahaan” kata Boss PTPN VIII Dadi Sunardi.

Arus impor buah asing memang sudah gila-gilaan. Ini yang memukul petani-petani buah di Indonesia, padahal dua dekade lalu, Indonesia merupakan pasar buah terbesar seluruh Asia. Buah-buah asli kita amat dikenal, seperti : manggis, kecapi, rambutan, duku dan duren. Tapi karena kebijakan yang lebih menitik beratkan industrialisasi lahan maka banyak lahan lebih dijual untuk pabrik, sementara pasar buah lokal dihancurkan. Pertama dengan keran importir yang dibuka lebar kedua, petani dipaksa untuk bertarung dengan infrastruktur jalan yang hancur. Jeruk Cina lebih mudah impor ketimbang jeruk pontianak.

Sebenarnya Indonesia bisa sepanjang tahun panen buah tropis, ini harus ada manajemennya. “Beda dengan Cina yang tidak bisa tanam buah-buahan tropis. Inilah yang saya sebut revolusi. Misalnya : Medan panen, Palembang sudah tua, Riau sudah berbunga, Jawa Barat mau berbunga, Sulawesi baru tanam. Sehingga sepanjang tahun ada panennya,” kata Dahlan suatu saat.

Gebrakan yang sudah jadi adalah membangun pasar pisang lokal dengan dorongan PTPN VIII yang punya 116 ribu hektar lahan, dan 1200 hektar sudah panen, sorgum yang 200 hektar sudah panen, singkong wonogiri yang bentuknya raksasa juga sudah panen. Tinggal bagaimana membentuk Manajemen Distribusi buah lokal Indonesia.

Ada jutaan hektar sebenarnya lahan di Indonesia berpotensi ditanami buah tropis, kita bisa menjadi pusat pangan dunia, tapi mata kita sekarang ini hanya melihat batubara yang selalu merusak lahan bangsa kita.

Anton DH Nugrahanto

di kutip dari “Rumah Kami”

News Feed