Dari Jokowi, Syahrini hingga Pintu-pintu Romantis

Catatan Perjalanan Haji
YANTO-S-UTOMO

YANG tersisa dari Madinah. Banyak pengalaman yang tak terlupakan selama di kota itu. Dari hal-hal serius, seperti prosesi ibadah hingga sesuatu yang ringan. Semua indah untuk dikenang.

Dari prosesi ibadah yang paling terkesan, tentu salat dan berdoa di Raudah. Taman surga yang luasnya hanya 15 x 22 meter tersebut memang lokasi yang sangat mustajab. Untuk sampai ke lokasi antara mimbar dan Makam Rasulullah itu yang penuh perjuangan. Selama 24 jam nonstop selalu ramai. Antrean panjang dan berdesak-desakkan selalu menghiasi jamaah yang hendak ibadah di karpet warna khusus tersebut.

Selain tempatnya yang istimewa, keluar dari Raudah disambut sangat istimewa pula. Melalui depan makam orang paling istimewa, Rusulullah SAW. Juga ada makam dua sahabat beliau. Abubakar Shidiq dan Umar bin Khattab.

Pengalaman yang ringan ringan tentu banyak. Misal ketika berangkat atau pulang dari masjid di lorong hotel banyak yang berjualan apa saja. Dari makanan hingga sovenir. Para pramutoko tersebut sedikit-sedikit bisa berbahasa Indonesia. Bahkan ada yang bisa bahasa Jawa dan Sunda.

Kalau ada jamaah yang lewat selalu bilang “mampir dulu”. Kemudian menyebut nama. Kalau yang jamaah lelaki dipanggil “orang ganteng”. Kalau perempuan dipanggil “cantik”.

Masih ada lagi. Kalau yang jamaah pria pakai songkok Melayu warna hitam dipanggil “Pak Jokowi”. Kalau pakai peci haji dipanggil “Syaiful Jamil” atau “Rafi Ahmad’.

Kalau ibu-ibu pakai mukena tidak pakai kacamata dipanggil “Mama Dedeh”. Tapi kalau yang pakai mukena dan pakai kaca mata hitam dipanggil “Syahrini”. Dan kalau perempuan agak muda yang lewat dipanggil “Ayu Ting Ting”.

Yang lucu lagi jamaah kita terpaksa ganti peci. Dari songkok Melayu ke peci haji warna coklat. “Malas dipanggil Jokowi terus kalau pakai peci hitam. Pakai peci haji saja, walaupun dipanggil Syaiful Jamil, gak masalah,” kata salah seorang jamaah. Saya kurang paham mengapa enggan dipanggil Jokowi.

Ada lagi yang menarik. Di Madinah itu banyak pintu. Tapi ada beberapa pintu yang menarik. Setidaknya ada 5 pintu yang menarik perhatian banyak orang. Sadar atau tidak sadar. Yakni pintu 15, 16, 22, 25 dan 26. Pintu 15, 16, 25 dan 26 itu khusus perempuan. Sementara  22 itu pintu utama. Yang di depannya ada jam. Juga banyak burung dara.

Mengapa pintu pintu itu menarik?

Pintu pintu itu selalu terjadi peristiwa romantis 5 kali sehari. Di pintu-pintu itu biasanya suami istri melepas berpisah sementara untuk salat. Kemudian di pintu-pintu itu pula, suami atau istri menunggu siapa yang datang lebih duluan. Istilahnya pintu-pintu itu “meeting point'” suami istri.

Memang di Madinah pintu masuk laki-laki dan perempuan terpisah. Sama dengan di Indonesia. Hanya kalau di Masjid Nabawi sangat tegas. Pintu-pintu perempuan dijaga lebih ketat.

Nah khusus di depan pintu 22 itu lebih romantis lagi. Di tempat itu kalau menghadap utara ada tugu jam dan ada burung dara berterbangan. Jika menghadap ke selatan tampak Masjid Nabawi yang begitu gagah. Di depan pintu 22 itulah biasanya suami istri bergandengan tangan berfoto. Bisa berlatar belakang masjid atau tugu jam. Dihiasi dengan burung dara yang berterbangan tambah tampak mesra.

Banyak yang tidak sadar kejadian-kejadian di pintu-pintu romantis tersebut. Kalau tidak percaya jika berkunjung ke Nabawi perhatikan baik-baik. Jangan hanya ingat Bin Dawood, mal persis di depan Masjid Nabawi,  bila pasca salat.

Masih banyak pengalaman bila berkunjung ke Madinah. Namun soal Jokowi, Syahrini dan pintu-pintu romantis, sungguh sangat menarik perhatian. Terutama perhatian saya. (*/bersambung)