Derasnya Arus Sungai Cisanggarung, Jembatan Dukuhpicung Putus

JEMBATAN-CIPICUNG
AMBRUK: Jembatan Gandol, Desa Cipicung, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, putus akibat arus deras sungai Cisanggarung. Foto: M Taufik/Radar Kuningan

KUNINGAN – Tepat setahun lalu, jembatan Gandol yang berada di Dusun Karangsari, Desa Dukuhpicung, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, nyaris roboh lantaran derasnya sungai Cisanggarung. Sejak itu, jembatan Gandol belum ada perbaikan.

Sabtu (9/2) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB, jembatan yang menjadi akses alternatif masyarakat Dusun Mayung dan Dusun Gandol serta dusun lainnya menuju Desa Dukuhpicung, benar-benar putus. Kini jembatan Gandol hanya menyisakan fondasi bagian ujungnya saja.

Praktis warga di desa tersebut semakin sulit untuk saling berkunjung. Apalagi membawa hasil pertanian menuju ke pasar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ambruknya jemabatan Gandol tersebut.

Saleh, warga setempat menerangkan, jembatan ini sebenarnya bukan jalan utama antar kecamatan. Hanya saja warga di kedua kecamatan dari Luragung dan Ciwaru kerap menggunakan jalur ini untuk menuju ke pasar karena lebih cepat sampai.

Namun, sejak setahun lalu kendaraan roda empat tidak bisa melintas lantaran jembatan sebagian sudah patah akibat terjangan banjir yang cukup hebat. Kini, kondisinya sama sekali sudah tak bisa dilalui karena benar-benar ambruk.

“Dan Jumat hanya bisa dilalui satu kendaraan roda empat. Itu sebenarnya sudah hampir ambruk sejak tahun lalu. Kendati sudah melaporkan kejadian itu tahun 2018 lalu, namun jembatan tersebut tak kunjung diperbaiki pemerintah daerah. Ya dibiarkan begitu saja,” katanya.

Dia menerangkan, hujan deras yang berlangsung berjam-jam membuat arus Sungai Cisanggarung yang melintasi wilayah Dukuhpicung mulai naik. Akibatnya, arus sungai meluap dan menerjang tiang penyangga jembatan yang memang kondisinya sudah retak-retak sejak tahun lalu.

“Mungkin karena arus sungai yang deras membuat tiang jembatan tak kuat menopangnya. Akhirnya ambrol terbawa air sungai. Saat kejadian, kami tidak tahu karena berlangsung malam hari. apalagi lokasi jembatan juga cukup jauh dari permumikan warga,” katanya diamini sejumlah warga lainnya.

Sementara Kepala BPDB Kabupaten Kuningan, Agus Mauludin membenarkan ada jembatan yang ambruk. Menurut dia, berdasarkan laporan yang diterima lembaganya, kejadian ambruknya jembatan alternative yang berada di Desa Dukuhpicung, hari Sabtu dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.

“Kami mendapat laporan telah terjadi jembatan putus di Desa Dukuhpicung. Pagi harinya, kami langsung menerjunkan tim untuk memantau ke lokasi bencana banjir. Badan jembatan itu tahun lalu sudah patah karena terjangan banjir. Untuk penangannya, kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait,” papar Agus Mauludin kepada Radar, Sabtu (9/2).

Akibat terputusnya jembatan Gandol, kata dia, warga di beberapa dusun yang ada di Desa Dukuhpicung terpaksa memutar ke Ciwaru dengan jarak tempuh sekitar 10 kilometer.

“Panjang jembatan yakni 30 meter dengan lebar 2,5 meter. Artinya, jembatan ini sebelum putus hanya bisa dilalui satu kendaraan roda empat. Dan memang jembatan Gandol hanya jembatan alternative saja. Meski begitu, jembatan ini menjadi urat nadi bagi warga saat mengangkut hasil pertanian,” terang dia.

Karena itu, pihaknya tengah berkoordinasi dengan pihak terkait dalam upaya penangannya. Apakah nantinya akan dibuatkan jembatan darurat agar aktivitas warga tidak terganggu, atau menunggu pembangunan jembatan secara permanen oleh pemerintah daerah.

“Fokus kami dalam penanganan pasca bencananya. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Lokasi jembatan juga lumayan jauh dari pemukiman warga. Tidak ada kerusakan rumah warga. Selain di Dukuhpicung, sejumlah wilayah di Kabupaten Kuningan juga terkena bencana alam,” papar Agus.

Dia menambahkan, beberapa wilayah yang mengalami bencana akibat hujan deras yang berlangsung sampai Jumat malam yakni banjir di Desa Bayuning, Kecamatan Kadugede, longsor yang menerjang dua rumah di Desa Jamberama Kecamatan Selajambe, dan longsor di Desa Cimenga, Kecamatan Subang.

“Kami mengimbau kepada masyarakat terutama yang berada di wilayah rawan bencana untuk selalu harus waspada karena curah hujan cukup tinggi. Kemudian terus melakukan koordinasi dengan petugas,” imbaunya.

Sehari sebelumnya, sejumlah wilayah di Kabupaten Kuningan dilanda bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan pohon tumbang pasca diguyur hujan deras cukup lama, Jumat (8/2) sore hingga malam.

(Baca: Kuningan Dikepung Bencana Usai Hujan 6 Jam)

Berdasarkan informasi dihimpun, bencana banjir melanda Desa Babatan, Kecamatan Kadugede, puluhan rumah tergenang hingga kedalaman mencapai satu meter lebih. Kapolsek Kadugede AKP Madjid mengungkapkan, banjir yang melanda Desa Babatan terjadi sekitar pukul 17.30 WIB.

Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 15.00 WIB menimbulkan peningkatan volume air dari selokan yang melintas desa tersebut hingga akhirnya meluap dan menggenangi permukiman warga.

Banjir menyebabkan puluhan rumah warga termasuk kantor Desa Babatan, puskesmas dan posyandu dan gedung serbaguna tergenang. Akibat banjir tersebut, banyak perabotan warga yang tergenang seperti kasur, sofa dan lainnya.

Sementara itu data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten, hujan deras Jumat sore juga menyebabkan tanah longsor di Perumahan Cigadung Regency. Sebanyak 10 unit rumah mengalami rusak berat dan ringan. Tanah longsor terjadi akibat aktivitas perataan tanah di bawah permukiman warga oleh pihak pengembang.

Tembok penahan tebing (TPT) di Perumahan Cigadung longsor sehingga menyebabkan 10 rumah di dekatnya rusak. Ada enam yang rusak sedang seperti tembok belakang ambruk dan empat rumah mengalami rusak ringan berupa retak-retak.

Hujan deras juga menyebabkan sejumlah pohon tumbang dan menutup akses jalan di dua lokasi berbeda, yaitu di Desa Sindang, Kecamatan Lebakwangi dan Kelurahan Cigadung, Kecamatan Cigugur. (ags/fik)

Yuk! Baca Juga, Berita Terkaitnya

Terkini Lainnya