Derbent, Pusat Peradaban Islam Masa Lampau Rusia

Benteng tertua di Rusia, Naryn-Kala, terletak di kota Derbent di Republik Dagestan. Salah satu pemandangan paling menakjubkan adalah apa yang disebut "Gerbang Hari Kiamat" yang merupakan sisa-sisa dari situs suci Islam untuk ritual. (Serguei Fomine/Global Look Press)

JEJAK Islam di Rusia sangatlah kuat. Islam sudah masuk ke Rusia pada pertengahan Abad ke-7 di Kota Derbent, Republik Dagestan.  Rusia adalah sebuah bangsa dengan peradaban yang berbeda dengan masyarakat Eropa pada umumnya. Nilai-nilai Timur, termasuk Islam, memberikan pengaruh signifikan dalam proses pembentukan peradaban bangsa ini.

Kota Derbent, salah satu kota Rusia yang bersejarah. Kota itu memiliki benteng dan masjid tertua di Rusia. Didirikan pada abad ke-6 SM, kota Derbent di Republik Dagestan sejak lama dianggap sebagai kota tertua di Rusia.

Namun, setelah reunifikasi Krimea pada 2014, gelar tersebut kembali disandang oleh Kerch yang didirikan pada abad ke-7 SM. Meski begitu, warga Derbent percaya bahwa kota mereka berusia lebih dari 5.000 tahun.

Pada zaman kuno, Derbent dikenal sebagai “Gerbang Kaspia”. Karena lokasinya yang strategis — terletak di pesisir Laut Kaspia yang terisolasi di antara gunung dan perairan — kota itu dianggap sebagai pertahanan utama untuk melindungi “Kekaisaran Persia yang beradab” dari “gerombolan kaum barbar yang liar dari utara”.

Sepanjang sejarahnya yang berusia ratusan tahun, Derbent telah berkali-kali diinvasi. Kota itu bahkan telah puluhan kali beralih kepemilikan dari satu penguasa ke penguasa lain, termasuk bangsa Persia, Arab, Turki, dan Mongol. Kota ini menjadi milik Rusia sejak 1813.

Di kota Derbent terdapat benteng tertua di Rusia, Naryn-Kala. Berarti “Benteng Cerah” dalam bahasa Turki, benteng tersebut didirikan pada abad ke-6 oleh bangsa Persia ketika Derbent berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Sasani. Di benteng tersebut terdapat “Gerbang Hari Perhitungan”. Inilah salah satu peninggalan penting umat Islam. Dibangun pada abad ke-10 dan ke-11, gerbang itu diyakini sebagai pintu menuju dunia lain.

Selain itu, beberapa peneliti juga percaya bahwa gereja tertua (dibangun pada abad ke-4) juga terletak di Derbent, di dalam Benteng Naryn-Kala. Namun, teori tersebut diragukan dan menuntut lebih banyak penelitian arkeologis.

Masjid Juma, yang juga terletak di Derbent, adalah masjid tertua di Rusia serta di seluruh wilayah bekas Uni Soviet. Dibangun pada tahun 734 setelah Kekhalifahan Umayyah merebut Derbent, masjid itu menjadi salah satu pusat persebaran Islam ke seluruh daerah yang kini masuk dalam wilayah Rusia modern.

Persebaran Islam telah mencapai Derbent (Daghestan) dan daerah-daerah di Kaukasus pada abad ketujuh masehi atau satu hijriyah melalui misi-misi ekspedisi penjelajahan bangsa Arab muslim.

Kawasan Kaukasus memiliki posisi dan peranan strategis bagi hubungan ekonomi perdagangan yang menghubungan kawasan Eropa Timur, Asia Tengah, dan Timur Tengah yang mendorong persebaran Islam secara damai.

Wilayah Daghestan, Chechnya, dan Ossetia merupakan gerbang bagi persebaran Islam. Kawasan ini pun memiliki basis Islam tradisional yang kuat di Rusia. Umumnya, masyarakat Kaukasus adalah kaum Sunni dengan Mazhab Hanafi (Chechnya, Kaukasus Utara) dan Mazhab Syafi’i (Daghestan).   Sementara Syiah mengalami persebaran yang pesat di kawasan Asia Tengah khususnya di Azerbaijan.

Pada 922 Masehi, Kerajaan Bulgaria di Volga, di bawah pemerintahan Almysh telah mengadopsi Islam sebagai agama resmi. Hal ini menjadikan Bulgaria Volga menjadi negara muslim pertama di kawasan Eropa Timur.

Sementara itu, Kristen Ortodoks baru secara resmi dianut orang Rusia pada 988 Masehi, ketika Pangeran Vladimir dari Kiev melakukan pembaptisan massal dan menjadikan agama Kristen Timur tersebut sebagai agama resmi.

Walaupun perjalanan sejarah selanjutnya menunjukkan kedekatannya dengan Peradaban Barat, namun nilai-nilai Timur yang sudah terlanjur terjalin merupakan sebuah realitas yang tak terhapuskan. Ini yang pada gilirannya menempatkan Rusia pada posisi khusus yang menghubungkannya antara peradaban Timur dan Barat.

Saat ini, ada lebih dari 60 etnis yang tinggal di Derbent. Yang mengejutkan, dari 124 ribu penduduk, hanya 3,5 persen saja yang berdarah (etnis) Rusia. Kelompok etnis terbesar yang menghuni kota itu adalah orang-orang Lezgin (33 persen), Azerbaijan (32 persen), dan Tabasaran (15 persen).

Terletak tak jauh dari perbatasan Azerbaijan, Derbent adalah kota Rusia paling selatan. Musim gugur di sini sangat hangat, sedangkan musim dinginnya pendek dan sejuk, dan hanya Laut Kaspia yang “menyelamatkan” orang-orang dari teriknya matahari musim panas. (*)

 

Berita Terkait