Di Indonesia, Jumlah Janda Baru Setiap Tahun Meningkat

Trend Hari Ini
ceraiIlustrasi-Perceraian

Merujuk data Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung, tingkat perceraian keluarga Indonesia dari waktu ke waktu memang semakin meningkat. Pasca reformasi politik di Indonesia tahun 1998, tingkat perceraian keluarga Indonesia terus mengalami peningkatan. Data tahun 2016 misalnya, angka perceraian mencapai 19,9% dari 1,8 juta peristiwa. Sementara data 2017, angkanya mencapai 18,8% dari 1,9 juta peristiwa.

Jika merujuk data 2017, maka ada lebih 357 ribu pasang keluarga yang bercerai tahun itu. Jumlah yang tidak bisa terbilang sedikit. Apalagi terpapar bukti, perceraian terjadi lebih banyak pada usia perkawinan di bawah 5 tahun. Kebanyakan kasus perceraian dilakukan oleh pasangan yang berusia di bawah 35 tahun. Selain itu, meningkatnya jumlah pernikahan muda selama sepuluh tahun terakhir berbanding lurus dengan meningkatnya angka perceraian.

Dalam kurun waktu tiga terakhir (2015-2017) tren perkara putusan (inkracht) perceraian di Pengadilan Agama seluruh Indonesia saja mengalami peningkatan. Misalnya, jumlah perkara pengajuan cerai talak (suami) dan cerai gugat (istri) di 29 Pengadilan Tinggi Agama pada tahun 2015 tercatat totalnya sebanyak 394.246 perkara (cerai talak: 113.068 dan cerai gugat: 281.178 perkara) dan yang diputus sebanyak 353.843 perkara (cerai talak: 99.981 dan cerai gugat: 253.862 perkara).

Tahun 2016 tercatat sebanyak 403.070 perkara (cerai talak: 113.968 dan cerai gugat: 289.102 perkara) dan yang diputus sebanyak 365.654 perkara (cerai talak: 101.928 dan cerai gugat: 263.726 perkara). Sedangkan tahun 2017, tercatat totalnya sebanyak 415.848 perkara (cerai talak: 113.987 dan cerai gugat: 301.861) dan yang diputus sebanyak 374.516 perkara (cerai talak: 100.745 dan cerai gugat: 273.771). Sehingga, tren perkara perceraian yang diputus dalam tiga tahun terakhir itu kisaran 353.843 hingga 374.516 perkara.

Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung, Abdul Manaf membenarkan tren angka perceraian setiap tahunnya mengalami peningkatan terutama sejak terjadinya krisis ekonomi moneter 1997-1998 silam hingga saat ini yang berpengaruh pada tingkat angka perceraian di berbagai daerah “Betul, tren perceraian setiap tahun meningkat,” ujarnya kepada awak media.

Tingkat perceraian tertinggi ketiga se Indonesia ada di Kabupaten Cirebon. Kabupaten Cirebon menduduki peringkat perceraian ketiga tertinggi setelah Kabupaten Indramayu dan Kota Cimahi.

Angka perceraian di Kabupaten Cirebon termasuk tinggi. Sejak Januari 2018 sampai akhir Agustus kemarin, atau masuk 8 bulan, sebanyak 4.957 pasangan berubah status menjadi janda dan duda.

Tak heran, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin pun mengaku prihatin dengan data-data ini. Buat Lukman, terjadi pergeseran luar biasa terkait substansi dan kesakralan perkawinan yang dianut semua agama. Dia menduga, sebagian generasi saat ini menganggap perceraian itu, bukan semata karena ketidakcocokan antara suami istri, tetapi karena sesuatu yang bisa direncanakan.

“Karena mereka sebelum nikah, sudah saling bersepakat, antara pasangan laik-laki dan perempuan, kalau kita nikah dua tahun saja, atau tiga tahun saja, setelah itu kita cerai,” kata Lukman di Palu, Sulteng, awal pekan lalu.

Menurutnya, pernikahan adalah peristiwa sangat sakral. Dan ini berlaku buat agama manapun. Saat dua orang melakukan perjanjian atas nama Tuhan. “Tapi yang terjadi sekarang, buat Lukman, justru terjadi pergeseran nilai. Terjadi degradasi atau penurunan pemaknaan pernikahan itu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Lukman,  pendidikan bagi orang tua jauh lebih penting. Hanya dengan orang tua yang baik, akan melahirkan anak-anak yang berkualitas. Selama ini banyak masyarakat tidak mendapatkan pendidikan sebagai orang tua, karena menjadi orang tua itu sangat susah.

“Sebelum generasi muda kita menjadi ayah dan ibu nantinya, mereka harus diberikan wawasan yang baik, agar angka perceraian dan kekerasan rumah tangga tidak semakin meningkat,” pungkasnya.

Sementara, di Bandung, angka perceraian di Kota Bandung dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan. Hingga tahun 2018, tercatat ada 9.993 janda muda di Kota Bandung.

Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) tahun 2018, jumlah janda yang ada di Kota Bandung terdiri dari 7.989 orang cerai hidup dan 2.004 orang cerai mati.

Keberadaan janda di Kota Bandung tersebar hampir rata di 30 kecamatan. Namun, janda muda terbanyak ada di Kecamatan Kiaracondong terdiri dari 410 orang cerai hidup dan 110 orang cerai mati.

Jumlah janda muda ini meningkat dibanding dua tahun terakhir. Tercatat pada tahun 2016, janda muda di Kota Bandung terdiri dari 7.562 orang cerai hidup dan 2.379 orang cerai mati atau total 9.941 orang.

Peningkatan cukup menonjol terjadi di 2017. Tercatat ada 8.053 orang janda muda cerai hidup dan 2.242 orang cerai mati. Jumlah tersebut bahkan lebih tinggi dari tahun ini untuk semester pertama.

Secara keseluruhan, saat ini penduduk perempuan di Kota Bandung mencapai 1.210.521 orang lebih sedikit dari penduduk laki-laki yang mencapai 1.230.196 orang.

Di Karawang, angka penceraian di Kabupaten Karawang cukup tinggi. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir yakni 2017-2018, tercatat peningkatan perkara perceraian di Pengadilan Agama Karawang. Dari data Pengadilan Agama klas 1 A Karawang tahun 2017, ada 3.714 perkara atau 90,34 persen dari total perkara 4.011 yang masuk, merupakan kasus perceraian. Pada semester satu 2018, ada sekitar 954 kasus perceraian yang masuk. (*)