Dinkes Prihatin Terjadi KLB Difteri di Majalengka

ILUSTRASI

MAJALENGKA–Dinas Kesehatan (Dinkes) Majalengka mengaku prihatin terkait ditetapkanya Jawa Barat sebagai salah satu daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri. Kepala Dinas Kesehatan H Alimudin SSos MM MMKEs menyebutkan, meski di kota angin tergolong tidak ada suspect difteri namun pihaknya tetap melakukan langkah antisipasi.

“Kita tetap melakukan tindakan preventif. Apalagi Pemprov Jawa Barat sudah mentapkan KLB terkait kasus di kabupaten lain. Majalengka pernah merasakan kasus serupa yang menyatakan KLB pada tahun 2016 lalu,” kata Alimudin.

Mengacu pada kasus empat warga yang terinfeksi bakteri difteri di blok Loji Desa Ligung Kecamatan Ligung Februari tahun lalu, pihaknya terus berupaya melakukan tindakan preventif. Apalagi dari empat orang tersebut, satu diantaranya meninggal dunia. Sehingga pihaknya melakukan koordinasi dengan seluruh puskesmas termasuk Puskesmas Ligung.

Namun setelah dilakukan cek penyelidikan epidemiologi (PE), tidak ditemukan satu kasus di wilayah Ligung. Dinas Kesehatan berharap hal ini tidak terjadi baik di Ligung maupun sejumlah daerah di wilayah Majalengka lainnya.

“Mudah-mudahan kasus tahun kemarin merupakan yang terakhir dan tidak ada lagi. Sebetulnya bakteri ini muncul karena minimnya kesadaran masyarakat, terhadap vaksinasi serta tidak tersentuh imunisasi DPT Sama sekali,” paparnya.

Untuk meminimalisasi atau mencegah bakteri ini kembali muncul, diukur dari tingkat keberhasilan imunisasi DPT. Pelaksanaan imunisasi sangat penting dilakukan sejak dini, sehingga perlu kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi DPT secara lengkap karena merupakan perlindungan yang lebih efektif.

Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat kota angin untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Gerakan masyarakat (Germas) melalui PHBS dan menjaga lingkungan dengan baik, juga berperan sebagai bagian dari upaya preventif.

Kepala Puskesmas Ligung Endang Triana SST menambahkan, pihaknya menyatakan sudah melakukan beberapa penyelidikan epidemiologi di beberapa titik dan desa. Hasilnya tidak ada korban maupun terduga. Namun Puskesmas tetap mengantisipasi setiap ada keluhan dari warga, dengan langsung menyelidiki dan melakukan tindakan preventif sekaligus penyuluhan.

“Alhamdulillah di Kecamatan Ligung tidak ada kasus seperti tahun lalu. Memang beberapa hari lalu ada laporan dari warga, namun itu bukan terduga difteri melaikan laporan DBD. Tapi setelah dilakukan PE bukan DBD melainkan tifus. Kita masih meneliti melalui uji lab terkait warga Ligung Lor yang diduga menderita DBD,” tambahnya.

Menurutnya, bakteri difteri muncul akibat kegagalan imunisasi anak waktu kecil yang tidak masuk DPT dengan baik dan benar. Sebagai contoh kasus tahun lalu kondisi lingkungan tidak mendukung imunisasi, selain itu kondisi lingkungan juga kurang sehat.

“Berdasarkan catatan korban difteri tahun lalu karena memang anaknya ditinggal orang tuanya (yatim piatu), dan tidak ada catatan imunisasi di Posyandu. Kita dorong agar masyarakat melakukan imunisasi lengkap guna mencegah kasus ini dikemudian hari,” pungkasnya. (ono)

BAGIKAN