Dorong Nelayan Lebih Ramah Lingkungan

NELAYAN-CIREBONIlustrasi. foto: Dok. Radar Cirebon

INDRAMAYU – PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) melaksanakan Program Konservasi Terumbu Karang Berbasis Masyarakat di Kabupaten Indramayu. Program ini berupaya mengubah kebiasaan nelayan konvensional di pesisir pantura Bumi Wiralodra yang seringkali menangkap ikan secara destruktif menjadi nelayan yang ramah lingkungan.

Dipilihnya Kabupaten Indramayu lantaran memiliki satu kesatuan wilayah kepulauan yang didaulat menjadi Kawasan Konservasi Laut Daerah Pulau Biawak dan sekitarnya. Sayangnya area yang menjadi wilayah penangkapan ikan bagi nelayan Indramayu dan sebagian Cirebon itu menjadi semakin rusak oleh penangkapan ikan secara destruktif.

Saat ini, perairan di sekitar kawasan kepulauan Biawak yang meliputi tiga pulau yaitu Pulau Candikia, Pulau Gosong dan Pulau Biawak, merupakan area memancing atau fishing ground bagi nelayan. Kegiatan penangkapan yang dilakukan terutama terjadi pada sekitar bulan September-November.

Media & Relations Manager PHE ONWJ, Ifki Sukarya menyebutkan pulau-pulau di sekitar perairan Biawak ini dilindungi oleh atoll Karang. Yakni kumpulan terumbu karang yang berbentuk melingkar atau hampir melingkar menyerupai cincin.

Akan tetapi kondisi ekosistem karang ini cukup mengkhawatirkan yang lebih banyak disebabkan penangkapan ikan secara destruktif, terutama dalam penggunaan alat tangkap illegal dan tidak diijinkan seperti cantrang, bom ikan dan penggunaan potas.

PHE ONWJ berinisiatif menggandeng Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB untuk melakukan program rehabilitasi Karang  berbasis masyarakat melalui program transplantasi.

“Program ini merupakan bentuk kepedulian perusahaan untuk menjaga ekosistem karang dengan melibatkan masyarakat setempat didalam upaya pengelolaan ekosistem terumbu karang secara bersama,” kata Ifki Sukarya.

Program yang bernama Orang Tua Asuh Karang atau OTAK ini diharapkan memberikan manfaat berkelanjutan baik bagi lingkungan, sosial maupun ekonomi yang akhirnya akan bermanfaat untuk masyarakat nelayan.

Program yang diinisiasi pada Oktober 2015 ini diawali dengan pembentukan kelompok dari masyarakat nelayan sebagai motor penggerak program. Kelompok masyarakat yang berbentuk Kelompok Usaha Bersama Untung Jaya (KUBU Jaya) ini kemudian diberikan pelatihan terpadu mengenai pendekatan pengelolaan ekosistem terumbu karang berbasis masyarakat seperti pengenalan struktur dan proses ekologi ekosistem terumbu karang, faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan dan upaya pengelolaan.

Selain itu, masyarakat lokal juga diajak secara bersama untuk menilai lokasi-lokasi yang cocok agar modul transplantasi karang yang akan dibuat dapat diturunkan dan tumbuh di sekitar perairan Biawak. Penentuan lokasi dilakukan dengan berbagai kriteria, antara lain kedalaman perairan tidak terlalu dalam, tidak terekspose, kejernihan perairan relatif baik, donor karang tersedia dengan baik dan akses menuju lokasi dapat ditempuh dan dicapai dengan relatif mudah.

“Pelibatan masyarakat dalam penentuan lokasi penurunan modul transplan ini sangat dibutuhkan, karena diharapkan masyarakat dapat terlibat aktif dalam setiap proses, baik mulai perencanaan hingga monitoring dan evaluasi,” ujar Yudi Wahyudin, Peneliti Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB.

Saat ini tepatnya 3 tahun setelah penanaman transplantasi karang, secara berkala dilakukan kegiatan monitoring dengan tetap melibatkan masyarakat nelayan juga. Kegiatan monitoring dan evaluasi program  dilakukan untuk memastikan keberhasilan program tersebut. Sebelum melakukan monitoring, masyarakat diberikan pengetahuan tentang cara monitoring dan menambal sulam karang yang mengalami kerusakan. Hal ini bertujuan agar KUBU Jaya bisa memantau perkembangan karang, monitoring dan evaluasi itu juga untuk  menambal sulam bilamana karang yang ditransplankan mengalami kerusakan.

Proses monitoring melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pemuda Olahraga, Budaya dan Pariwisata, dan Dinas Perhubungan (Kesyahbandaran) merupakan pertanda baik akan hadirnya keterpaduan program pengelolaan keanekaragaman hayati di Kabupaten Indramayu. Tentu saja, hal ini akan semakin memberikan dampak signifikan pada proses menuju keberhasilan desain kegiatan Pengelolaan Jasa Ekosistem Transplantasi Karang Berbasis Masyarakat di Perairan Kepulauan Biawak.

Selain itu, keberadaan program ini diharapkan menjadi ruang terbuka bagi upaya pemanfaatan jasa ekosistem transplantasi karang untuk menjadi sumber pendapatan bagi kemandirian masyarakat pecinta lingkungan hidup seperti KUBU Jaya ini yang mendedikasikan aktivitas kelompoknya untuk mencintai lingkungan hidup, terutama ekosistem pesisir dan laut di sekitar gugus Kepulauan Biawak.

Sumber pendapatan dimaksud adalah hadirnya potensi atraksi wisata terpadu yang dikolaborasikan dengan atraksi transplantasi karang di Pulau Gosong, Kepulauan Biawak Kabupaten Indramayu.  Kegiatan wisata terpadu dimaksud diantaranya adalah Mangrove track, Biawak view, Mercusuar view, Coastal camping, Diving and snorkeling dan Penurunan modul “honai” transplantasi karang.

KUBU Jaya siap untuk menjadi mediator dan fasilitator bagi aktivitas tersebut, baik untuk penyediaan sistem logistik, transportasi, perlengkapan diving & snorkeling serta disertai dengan SDM penyelam lokal terlatih bersertifikat. (kho)