Fenomena Gunung Es Diabetes Melitus; Sering Terabaikan, Telat Diagnosa

104
Ilustrasi (dok pojoksatu)

 

Setiap 14 November, masyarakat internasional memperingati Hari Diabetes Sedunia. Peringatan ini merupakan kampanye kesadaran global yang terhadap diabetes mellitus. Penyakit tidak menular yang penderitanya terus mengalami peningkatan pesat. Termasuk di Kota Cirebon.

===========================

GAYA hidup tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi makanan yang tidak dimoderasi, dapat berdampak pada kondisi kesehatan seseorang. Salah satunya diabetes melitus. Keterlambatan diagnosa merupakan masalah utama diabetes di Indonesia.

Pasien umumnya terdiagnosa setelah diabetes menimbulkan komplikasi. Gejala penyakit yang satu ini memang timbul bertahap. Waktunya berbulan-bulan hingga tahunan. Akibatnya, penyakit ini seringkali diabaikan.

“Kebanyakan pasien diabetes yang berobat sudah komplikasi. Ada yang rusak saraf matanya, ada yang datang-datang ginjal dan jantungnya bermasalah,” ujar dokter spesialis penyakit dalam RS Putera Bahagia, dr Indraji Dwi Mulyawan SpPD MKes, kepada Radar, Senin (13/11).

Indraji menilai, penyakit diabetes layaknya fenomena gunung es. Dari waktu ke waktu, jumlah penderita diabetes cenderung terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. “Yang terdeteksi hanya yang sudah komplikasi saja, padahal jumlahnya lebih dari itu,” katanya.

Ketika seseorang dinyatakan positif diabetes, Indraji menekankan, kunci utama kesembuhan ialah komitmen untuk mengendalikan penyakit tersebut dan menghindari komplikasi lebih lanjut. Menjaga perilaku hidup sehat, olahraga secara teratur, mengatur asupan karbohidrat dan gula, serta mematuhi instruksi pengobatan dari dokter harus dilakukan secara efektif.

Dijelaskannya, ada empat tipe penderita diabetes. Diabetes tipe 1, lebih disebabkan karena kerusakan sel beta pada pankreas akibat reaksi antomium. Pada tipe ini, hormon insulin sudah tidak bisa diproduksi dan kerusakan ini terjadi ketika masih anak-anak atau setelah dewasa. Penderita harus mendapatkan suntikan insulin setiap hari.

Diabetes tipe 2, disebabkan oleh resistensi hormon insulin. Karena reseptor insulin di permukaan sel berkurang, meskipun jumlah insulin tidak berkurang. “Kondisi pada diabetes tipe ini lebih disebabkan karena obesitas, diet tinggi lemak, kurang olahraga dan faktor keturunan,” ujarnya.

Kemudian diabetes tipe 3, atau diabetes gestasional. Penyakit ini biasanya terjadi selama proses kehamilan, yang kemudian akan menghilang setelah melahirkan. Meskipun demikian, kondisi ini juga bisa menetap terjadi pada seorang wanita, meskipun ia sudah melahirkan. Diabetes gestasional memang tidak mematikan, namun berisiko tinggi menyulitkan ibu saat persalinan.

Beberapa kondisi seperti tensi darah tinggi dan eklampsia menghantui ibu yang mengidap diabetes gestasional. Lalu, diabetes tipe lain, merupakan jenis diabetes yang ditimbulkan bukan karena faktor genetik, gaya hidup atau kehamilan. “Biasanya ini terjadi karena adanya penyakit lain atau karena adanya infeksi berat,” jelas Indraji, didampingi Humas RS Putera Bahagia, Amelia

Selain menjelaskan tipe diabetes, Indraji pun menyampaikan bahwa diabetes menyebabkan komplikasi. Komplikasi yang berhubungan dengan diabetes sangat kompleks dan multifaktor.

Mekanisme yang tepat bagaimana keadaan defisiensi insulin ini dapat memicu terjadinya gangguan metabolik dan vaskuler serta jaringan yang rentan masih merupakan dugaan yang sangat spekulatif.

Komplikasi tersebut yakni makroangiopati adalah gangguan pada pembuluh darah besar. Itu didasari adanya stres oksidatif pada lapisan sel permukaan pembuluh darah akibat gula darah tinggi.

Pembuluh darah besar yang dimaksud antara lain di otak, pembuluh darah jantung, serta pembuluh darah di kaki. “Makroangiopati ini dapat berakibat fatal. Misalnya gangguan pada pembuluh darah jantung, dapat mengakibatkan terjadinya serangan jantung,” tuturnya.

Ada juga komplikasi mikroangiopati, adalah gangguan pada pembuluh darah kecil. Seperti misalnya di ginjal dan di mata. Mikroangiopati di pembuluh darah mata sebagai contoh dapat mengakibatkan gangguan penglihatan.

Sedangkan neuropati merupakan gangguan pada saraf, terutama saraf tepi dan saraf otonom. Pada gangguan di saraf tepi keluhan yang dirasakan pasien adalah kesemutan, terutama di ujung-ujung tangan dan kaki.

Komplikasi tersebut, kata Indraji, tidak terjadi seketika. Namun, membutuhkan waktu cukup panjang. “Terjadinya komplikasi itu dapat dicegah dengan pengendalian gula darah yang baik,” tuturnya.

Pengendalian gula darah dapat dilakukan dengan lima cara, yaitu edukasi, terapi nutrisi medis, aktivitas fisik yang baik, bila perlu obat-obatan, dan alat pengendali untuk memantau kada gula.

“Yang sudah kena harus rutin kontrol. Dan yang menjadi catatan adalah sampai saat ini diabetes belum ada obat untuk menyembuhkan, hanya bisa mengontrol kadar gula agar tetap stabil,” jelasnya.

Sementara itu, untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait diabetes, RS Putera Bahagia akan menggelar edukasi medis tentang diabetes.

Acara tersebut menghadirkan narasumber dr Sutiadi SpPD, konsultasi gizi gratis oleh Ratnawati Amd GZ, senam diabetes dan demo masak makanan untuk penderita diabetes di Auditorium 2 RS Putera Bahagia pada 18 November mendatang. (mike dwi setiawati)