Gambaran Semangat untuk Turut Membangun Indonesia

Jalan Sehat Sarungan, Santri Pun Turun ke Jalan

HSN-KOTA-CIREBONPAKAI SARUNG: Santri mengikuti jalan sehat sarungan menyambut Hari Santri Nasional, Minggu (14/10). FOTO: JAMAL SUTEJA/RADAR CIREBON

Santri dan sarung menjadi dua hal yang kerap diidentikan. Sampai-sampai ada sebutan kaum sarungan. Itulah kenapa, jalan sehat menyambut Hari Santri Nasional (HSN) pesertanya harus pakai sarung.

JAMAL SUTEJA, Cirebon

MENURUT catatan sejarah, sarung sesungguhnya berasal dari Yaman. Ensiklopedi Britanica menyebutkan, sarung menjadi pakaian tradisonal masyarakat di sana. Atau yang biasa disebut futah. Sarung juga dikenal dengan nama izaar, wazaar, atau ma’awis.

Dalam perkembangan berikutnya, sarung di Indonesia jadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Kemudian telah menjadi identitas. Tak terpisahkan dengan kaum santri. Hampir di semua pondok pesantren tradisional, para santri menggunakan sarung dalam keseharian. Bagaimana bila jalan sehat pakai sarung?

Pemandangan itu tang terlihat, Minggu (14/10). Ratusan santri turun ke jalan. Sejak pukul 07.00 WIB, mereka berkumpul di Sekretariat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Cirebon, Jalan Arya Kemuning.

Setelan sarung dan kopiah hitam. Santri antusias mengikuti jalan sehat dengan mengibarkan beragam atribut. Jalan sehat sarungan sendiri digelar untuk pertama kalinya. Sekaligus mulai meramaikan semarak menjelang Hari Santri Nasional. “Kita ingin mengajak masyarakat, juga menyemarakan HSN 22 Oktober nanti,” ujar Ketua Panitia, H Romdji, kepada Radar.

Jalan sehat juga dimeriahkan dengan pembagian door prize kepada peserta yang beruntung. Hadiahnya, mulai dari sarung, barang elektronik hingga sepeda. Romdji menambahkan, kegiatan ini terselenggara berkat kebersamaan pengurus PCNU dan warga NU Kota Cirebon. Padahal, waktu persiapannya terbilang singkat. “Kami juga terima kasih kepada Ketua Tanfidziah PCNU Kota Cirebon Ust Yusuf SE MM, dan juga Rois Syuriah Dr KH Syamsudin,” sebutnya.

HSN sendiri rencananya dipusatkan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Komplek Alun-alun Kasepuhan. Di lokasi yang sama dilaksanakan Festival Tajug Nusantara. Selain itu bakal ada juga diskusi hukum yang dilakukan oleh Kajian Masyarakat Cermat (Jimat) membahas mengenai usulan adanya RUU Ponpes.

Usulan ini diharapkan bisa digolkan di DPR RI. Pihaknya mendorong RUU itu nantinya direkomendasikan ke Fraksi PKB DPR RI agar bisa menjadi undang-undang.

Dijelaskan dia, Hari Santri sendiri merupakan momen bersejarah. Sebab santri ikut juga memperjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini menjadi spirit para santi agar terus ikut berkiprah dalam membangun bangsa saat ini dan ke depan.

Semangat jalan sehat diharapkan ikut membangun masyarakat Indonesia yang sehat. Jalan sehat sendiri menempuh rute Kantor PCNU Kota Jalan Arya Kemuning, Jalan Ampera, Jalan Tentara Pelajar, Jalan Sukalila, Jalan Siliwangi, Jalan Kartini, Jalan Cipto, dan kembali ke lokasi semula. “Kita harapkan para santri terus berkiprah dalam membangun bangsa Indonesia,” terangnya.

Peringatan Hari Santri sendiri menjadi bagian upaya pemerintah dalam mengapresiasi peranan santri dan pesantren. Peringatan hari santri ini, bukan sebatas pemerintah tidak hanya bagaimana santri punya hari kebesaran. Akan tetapi juga sudah saatnya, pemerintah lebih memperhatikan dalam mengelola pesantren sebagai lembaga pendidikan non formal yang sudah banyak melahirkan banyak tokoh.

Romdji menambahkan, basis kemandirian pesantren dan santri perlu dikelola dengan baik oleh pemerintah. Peringatan hari santri ini bukan hanya milik Nahdlatul Ulama sja. Tapi milik semua umat muslim yang merupakan para pelajar yang bermukim untuk menuntut ilmu agama. Hanya saja, saat ini identiknya, santri itu hanya dari kalangan NU. “Hari santri ini milik seluruh masyarakat,” ucapnya. (*/dilengkapi abdul hapid-magang)