Gawat! Sungai di Kuningan Tercemar, Debit Air Tanah Turun Drastis

Kabupaten Kuningan
Ilustrasi-Pencemaran-AirIlustrasi-Pencemaran Air

KUNINGAN-Banyak berdirinya kompleks permukiman yang dibangun developer, gudang, pertokoan dan lainnya membuat area terbuka di Kabupaten Kuningan mengalami penyusutan. Terlebih dalam 10 tahun terakhir ini, area terbuka yang dijadikan bangunan terus berkembang hingga pelosok pedesaan.

Akibatnya, lahan pertanian, ladang dan kebun yang semula menjadi daerah resapan air sekarang sudah tertutup bangunan. Ini menyebabkan air hujan tidak bisa meresap ke dalam tanah lantaran terhalang hamparan aspal dan juga lapisan tembok. Dampak lainnya yang dirasakan masyarakat secara langsung adalah berkurangnya debit air tanah.

Dari pantauan Radar Kuningan, lahan terbuka yang semula persawahan kini sudah banyak berubah menjadi bangunan. Di sepanjang jalan raya Cilimus, Ciawigebang, Luragung dan juga Ancaran, lahan pertanian semakin tergerus. Banyak bangunan baru berdiri dan menyebabkan lahan pertanian terkooptasi menjadi kompleks pemukiman, perdagangan maupun sekolah.

“Untuk luas lahan yang beralih fungsi, mungkin datanya ada di instansi terkait. Namun secara kasat mata, areanya sudah cukup banyak. Sedangkan pemerintah daerah hingga saat ini belum mencetak sawah baru sebagai penggantinya,” sebut pemerhati lingkungan, Didi.

Dia memaparkan sejumlah wilayah yang lahannya beralih fungsi karena perkembangan zaman. Seperti Cilimus, Jalaksana, Kuningan, Ciawigebang, Luragung bahkan hingga Cibingbin. Berdirinya bangunan baru tentu akan menimbulkan konsekuensi yang harus ditanggung oleh masyarakat itu sendiri di sekitarnya.

Misalnya air hujan yang tidak langsung meresap ke tanah, debit air bawah tanah yang terus menyusut, sungai tercemar, timbulnya sampah organik dan non organik. “Ya itu konsekuensi yang harus ditanggung masyarakat. Memang secara ekonomi mampu mendongkrak, tapi dari sisi lingkungan juga ada dampak negatifnya. Inilah yang harus dicarikan solusi oleh pemerintah daerah untuk mengatasinya,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan H Amiruddin SSos MSi tak menampik jika debit air bawah tanah mengalami penurunan dalam sepuluh tahun terakhir ini. Padahal di era 70 tahunan, membuat sumur artesis tidak harus dalam. Namun sekarang bisa mencapai puluhan meter baru keluar air. “Kalau tahun 70-an, menggali sumur cukup sampai lima meter air sudah keluar. Sekarang sih harus puluhan meter. Bahkan di kantor saya kedalaman sumur bor lebih dari 40 meter. Itu membuktikan jika debit air bawah tanah setiap tahunnya mengalami penurunan,” kata Amiruddin kepada Radar Kuningan.

Bukan hanya debit air bawah tanah saja yang menurun, kata dia, melainkan juga kondisi sungai-sungai di Kabupaten Kuningan. Dari catatannya, ada enam sungai mengalami pencemaran salah satu di antaranya tercemar dengan skala berat yakni Sungai Citamba. Hal ini tidak terlepas dari prilaku masyarakat itu sendiri.

“Ada enam sungai yang sudah tercemar, dan Sungai Citamba yang paling parah. Kondisi air sungainya sudah terpapar bakteri yang membahayakan kesehatan masyarakat. Butuh upaya serius dalam mengatasinya. Bukan hanya oleh pemerintah saja namun juga perlu dukungan dari masyarakat,” katanya.

Menurut dia, untuk mengatasinya yakni meminta masyarakat untuk tidak membuang limbah ke sungai. Kemudian juga para peternak sapi di Cigugur juga harus direlokasi ke lahan yang jauh dari sungai.

“Suka tidak suka, limbah dari peternakan sapi di Kecamatan Cigugur itu ada yang masuk ke Sungai Citamba. Ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Idealnya, peternakan sapi itu dijadikan satu area dan lokasinya harus jauh dari sungai maupun permukiman penduduk. Selama ini kan kandang sapi itu mayoritas berada di belakang rumah penduduk. Dan masyarakat juga jangan membuang limbah rumah tangganya ke sungai. Jadi, untuk mengatasinya harus menyeluruh bukan parsial,” ungkapnya. (ags)