Geng Motor Ngamuk, Pelajar di Bogor Tewas Dibacok

1259
Juan Gibran meninggal akibat dibacok geng motor. FOTO:POJOKSATU.ID

BOGOR–Geng motor kembali beraksi di Bogor. Mereka menyerang pelajar Bogor, Juan Gibran Harefa (16). Akibatnya, warga Desa Pedurenan, Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor, itu tewas.

Korban dibacok dua orang tak dikenal yang sedang berkonvoi dengan sembilan temannya menggunakan sepeda motor, Kamis (9/11).

Informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 18.30 WIB. Ketika itu korban dibonceng rekannya, Gugun (17), mengendarai motor Honda Beat warna merah dari Gunungsindur menuju Parung.

Ketika melintas di wilayah Pedurenan, korban hendak berhenti sejenak. Saat itulah korban didatangi sekelompok orang dengan berkonvoi menggunakan sepeda motor. Pelaku langsung membacok korban hingga meregang nyawa.

“Belum sempat turun, tiba-tiba ada dua orang tidak dikenal mengendarai sepeda motor datang dari belakang. Seorang di antaranya langsung membacok korban. Akibatnya korban bersimbah darah,” papar Gugun seperti yang disampaikan saat memberi keterangan ke aparat polisi.

Lepas kejadian, Gugun beserta rekan korban lainnya langsung memberi pertolongan dan membawa Juan ke Rumah Sakit (RS) Insani Parung. Karena alat yang tidak memadai, korban kemudian dirujuk ke RS Duafa Kemang.

Setelah mendapat tindakan medis dari rumah sakit, korban meninggal dunia sekitar pukul 19.30 WIB. Sedangkan pelaku yang membacok korban kabur mengendarai sepeda motor ke arah Parung.

Tak terima nyawa anaknya hilang, ayah korban, Sanata Harefa (42), melapor ke pihak kepolisian. Atas dasar laporan Lp/B/ /XI/2017/sektor, tanggal 10 November 2017 ini, kepolisian mengejar pelaku.

Guna melengkapi perkara Pasal 80 Ayat 3 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, petugas Polsek Gunungsindur juga meminta keterangan rekan korban, Gugun (17), Hafiz (17) dan Riyan (16) sebagai saksi.

Wakapolsek Gunungsindur AKP Ahmad Wirjo membenarkan peristiwa tersebut. Wirjo mengaku telah mengamankan beberapa barang bukti berupa satu stel baju dan celana pramuka, sebuah sweater warna merah-hitam dan sebuah ikat pinggang.

“Semua saksi masih berstatus pelajar dan tinggal satu wilayah dengan korban. Mereka dimintai keterangan karena bersama korban saat kejadian,” katanya.

Hingga kini pihak kepolisian masih mendalami motif di balik pembunuhan tersebut. Apalagi, menurut Wirjo, tempat kejadian perkara memang sering dijadikan tempat nongkrong anak-anak muda di malam hari.

“Kalau malam kan suka dipakai ngetrek anak-anak muda, sebagian menimbulkan perkelahian. Bisa saja ada motif balas dendam atau memang ulah geng motor. Tapi kami masih dalami untuk memastikan motif di balik kejadian ini karena kedua pelaku masih dalam pengejaran,” tuntasnya. (sir/ryn/c/ram/run/metropolitan/pojoksatu)