Gerakan Restorasi Sungai Indonesia

187

SUDAH menjadi pemandangan umum bahwa sungai-sungai di Indonesia dewasa ini mengalami kondisi yang paling buruk setelah 70 tahun merdeka. Air sungai terutama di wilayah perkotaan, pemukiman dan industri mempunyai kandungan BOD, COD, ph dan bakteri Coli yang jauh diluar batas yang diijinkan, artinya air sungai ini sudah sangat tercemar (KLHK, 2014). Demikian juga kelas sungai turun secara serempak menuju klas IV air kotor, penuh limbah dan sampah. Harapan bangsa ini untuk kembali mempunyai sungai yang bersih, sehat, produktif dan lestari rasanya sudah pupus.

Namun, akhir tahun 2014,sayup-sayup terdengar geliat gerakan komunitas penggiat sungai di Indonesia (Jogjakarta, Jakarta, Bandung, Makasar, Banjarmasin, Klaten, Surakarta, Cirebon, Pelakongan dll) bangkit memecah kebuntuan dengan menginisiasi Gerakan Restorasi Sungai Indonesoa (GRSI).

Mulai terlihat dinamika intensif komunitas penggiat sungai melalui diskusi-diskusi intensif, merencakan dan melaksanakan aksi nyata membersihkan sungai di Jogjakarta. Komunikasi intersif antar individu dan kelompok ini dilaksanakan dengan Hand Phone memanfaatkan applikasi Whatsapp (WA). Tidak disadari, saat  gerakan ini berumur 10 bulan, ternyata capaian kerjanya luar biasa dan mendapat pengakuan dari masyarakatluas baik di Jogja maupun di luar Jogja.

Gerakan Restorasi Sungai adalah gerakan untuk menyelamatkan dan mengembalikan sejauh mungkin sungai pada kondisi alamiahnya yang bersih, sehat, produktif dan lestari serta bermanfaat semaksimal mungkin bagi manusia dan lingkungannya secara berkelanjutan. GRSI di Jogjakarta diinisiasi oleh komunitas sungai, akademisi Perguruan Tinggi, Kementrian terkait dan Satuan Kerja Pembangunan Daerah (SKPD).

Mereka tergabung erat dalam WA grup dimana penulis salah satu penggiat dan administrator atau moderator gerakan tersebut. Posting diskusi harian dalam grup ini mencapai 200-250 posting dengan kualitas substansi bagus. Posting-posting di Grup WA ini ternyata menggelinding sangat cepat, memotivasi anggotanya untuk melakukan kegiatan nyata mebersihkan dan menjaga sungai.  Maka munculah pola gerakan masyarakat yang dari menit ke menit, jam ke jam dan hari ke hari tidak pernah lekang berdiskusi, merencanakan, mencari dana, melaksanakan aksi kerjabakti bersih sungai dll.

Dengan makin dinamisnya gerakan ini, maka masyarakat sepanjang alur sungai dari hulu, tengah dan hilir terus terpacu untuk berproses membentuk lembaga forum komunitas.  Maka, disamping komunitas sungai yang sudah lama terbentuk, juga bermunculanlah komunitas-komunitas baru lengkap dengan kepengurusannya diberbagai alur sungai..

Rupanya gerakan ini tidak berhenti di satu lokasi, komunitas sungai dari berbagai kota juga tumbuh dengan secara langsung dan tidak langsung terimbas oleh gerakan atau secara mandiri  tumbuh secara alamiah, kemudian mengebangkan sayap pengaruhnya dengan mendukung dan memotivasi komunitas sungai di kota-kota lain seperti komunitas sungai Ciliwung, Citarum, Bengawan Solo, Cirebon dll.

Saat ini sudah terbentuk 37 forum komunikasi gerakan restorasi sungai berbasis WA, yang aktif diantaranya GRSI Jogjakarta, GRSI Solo, GRSI Bogor-Jakarta, GRSI Klaten, GRSI Semarang, dan GRSI Makasar.

Mengapa virus Gerakan Restorasi Sungai ini bisa berkembang sangat pesat  dan juga menjalar ke kota-kota diseantero Indonesia? Berdasarkan pengamatan dan hasil mengikuti langsung dalam gerakan ini, sebenarnya faktor paling penting adalah bahwa ternyata hampir semua masyarakat masih punya rasa sayang atau cinta terhadap sungai di sekitar mereka.

Ketika masyarakat diingatkan dan diajak untuk menyelematkan sungai umumnya tidak menolak, bahkan bersedia untuk ikut berperan. Mereka juga menginginkan sungainya bersih, sehat, indah serta lestari kembali seperti dulu. Dengan cinta, maka munculan forum-forum komunitas sungai secara sukarela.

Komunitas yang sudah terbentuk, secara horizontal saling berkomunikasi, dan memfasilitasi serta mendorong kolompok masyarakat di bagian hulu atau hilirnya untuk menggalang dan mendeklarasikan dirinya menjadi forum komunitas sungai dan segera dapat bekerjasama dengan komunitas yang sudah ada dan menjalankan aksi nyata merestorasi sungai.

Dengan rasa sayang atau cinta, maka para akademisi dari Perguruan Tinggi setempat juga turut mendukung, bergerak bersama mahasiswa turun ke sungai membersihkan sampah dan menanam tanaman pinggir sungai.

Dosen-dosen dengan berbagai disiplin ilmu yang terkait sungai dan lingkungan sangat termotivasi untuk bisa mengirimkan mahasiswanya praktikum mata kuliah terkait langsung di sungai dan sekaligus membersihkan sungai.

Program ini selanjutnya disebut program Student Goes to River. Sebagai cotoh di Jogjakarta ada kurang lebih 310.000, di Makasar sebanyak 50.000 lebih mahasiswa dan di kota2 kota lainnya,  yang sebagian besar harus menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) secara rutin, maka jika tenaga dan pikiran semua mahasiswa tersebut dapat difokuskan untuk restorasi dan menjaga sungai, maka dapat dipastikan dalam waktu tidak lama sungai-sungai sudah menjadi bersih dan sehat kembali.

Gerakan budaya masyarakat juga bermunculan seperti kegiatan Merti Sungai Code, Festifal Sungai Code di Jogjakarta, festifal sungai  Jeneberang di Sulawesi, festifal sungai Banjarmasin di Kalimantan dll  yang sarat dengan pertunjukan budaya menyadarkan masyarakat untuk membuktikan rasa cintanya terhadap sungai.

Bahkan salah satu aktor terkemuka nasional (Slamet Raharjo Sentilan Sentilun) bulan Juni 2015 karena cinta dan ketertarikannya dengan sungai, bersediadinobatkan di pinggir sungai Code oleh komunitas sungai sebagai Duta Sungai.  Bila seniman, pelukis dan budayawan lainnya ikut arus restorasi sungai, gerakan ini akan mencapai tujuannya dengan cepat, karena sungai adalah salah satu poros budaya bangsa. Rekan-rekan media cetak dan elektronik dan media sosial di Jogjakarta, rupanya juga ikut andil dalam gerakan restorasi sungai ini, meraka slalu mewartakan kegiatan-kegiatan bersih sungai.

Kementerian terakit (seperti PU-Pera dan  KLHK, Pariwisata), Gubernur, Dinas Provinsi (seperti PU-ESDM, BLH) dan Dinas Kabupaten, melihat adanya perubahan paradigm di komunitas sungai, mereka mulai secara intensif membantu memfasilitasi berbagai program terkait dengan air dan sungai. Selanjutnya program-program terkait sungai pada tahun 2016 dan berikutnya sudah mulai memasukkan program-program yang diusulkan komunitas. Sehingga diharapkan tahun depan masyarakat semakin aktif bekerjasama dengan SKPD dan berbagai fihak terkait dalam melaksanakan restorasi sungai.

Gerakan Restorasi Sungai ini mempunyai “ruh” atau jiwa yaitu “Cinta dan Kebersamaan”. Cinta diartikan sebagai rasa cinta terhadap sungai dan terhadap setiap individu dan kelompok manapun yang sama-sama memperjuangkan satu tujuan yaitu“penyelamatan sungai”. Kebersamaan diartikan bahwa penyelamatan sungai harus dilaksanakan oleh setiap elemen masyarakat dengan konsep kebersamaan dan gotong-royong,  saling asah, saling asuh dan saling asih, memahami dan menerima keterbatasan masing-masing fihak.

Ruh inilah yang memotivasi seluruh elemen gerakan untuk terus-menerus menjalankan kegiatan restorasi sungai sampai kapanpun, dan model gerakan seperti inilah yang mungkin sedang dicari oleh banyak fihak guna menyelesaikan masalah yang sifatnya kronis dan masal.

Terakhir, Gerakan Restorasi Sungai di berbagai kota detik ini masih sangat dinamis berjalan dengan energi masyarakat yangtidak ada habisnya. Masyarakat  nantinya boleh berbangga, bahwa jika orang mau melihat sungai di perkotaan yang masih bersih, maka datanglah ke kota saya.  Namun masyarakat juga harus menyadari tentang tanggung jawabnya untuk terus-menerus mendukung komunitas-komunitas sungai tetap eksis bergerak merestorasi sungai di kota dan daerahnya masing-masing dan menghembuskannya ke seluruh Nusantara sehingga sungai kita lestari, bersih, sehat  dan jaya. (*)

Penulis : Dr Ing Ir Agus Maryono
Dosen Pascasarjana S2-S3 UGM Jogjakarta dan
Koordinator Gerakan Restorasi Sungai Indonesia (GRSI)