Gila! 4 Pemuda Cabuli ABG Cantik yang Sudah Tak Berdaya

Insiden 24 jam
PENCABULAN-pixabayIlustrasi. Foto: Pixabay.com

CIREBON – Nasib malang menimpa RA. Gadis 14 tahun warga Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, itu jadi korban pencabulan. Anak baru gede (ABG) cantik itu dicabuli empat pelaku secara bergiliran.

Kenapa RA bisa takluk? karena sebelumnya dicekoki dengan biji kecubung  yang dicampur nasi. Tak hanya menjadi korban pencabulan, RA sampai tidak sadarkan diri  selama dua hari karena mabuk berat.

Ketua RW setempat, Wahyudi (48) menuturkan, kejadiannya bermula pada Selasa (11/9) sekitar pukul 20.00 WIB. Malam itu RA dijemput oleh AD (20) warga Desa Muara Kecamatan Suranenggala yang tak lain adalah pacarnya.

AD mengajaknya jalan-jalan. Setelah puas lalu ke tempat mereka biasa nongkrong di sebuah tempat masih sekitar wilayah Suranenggala.

Di tempat nongkrong itulah RA bertemu dengan teman-teman AD yaitu PR, SN dan SY. Sekitar pukul 23.00, RA diperdaya dengan cara memakan nasi yang sudah dicampur dengan biji kecubung. Korban yang tidak mengetahui memakannya hingga tandas.

Beberapa saat kemudian pengaruh kecubung bereaksi. RA mulai mabuk sampai jatuh pingsan. Rupanya dalam kondisi hilang kesadaran itulah, RA dibawa ke rumah PR di Desa Suranenggala. Kebetulan malam itu kondisinya sangat sepi.

Sungguh keji. Semalaman RA yang masih ABG menjadi “budak nafsu” keempat pelaku. “Jadi setelah tidak sadar, korban dibawa ke rumah salah satu pelaku yang berada di Suranenggala. Di situ korban digauli oleh mereka,” cerita Wahyudi.

Pagi harinya, Rabu (12/9) sekitar pukul 06.30 WIB, RA yang saat itu masih terpengaruh kecubung  diantarkan ke rumahnya oleh para pelaku. Kepada orang tuanya, mereka mengaku menemukan korban di jembatan sudah dalam keadaan tidak sadar.

Meski curiga dengan gerak gerik tersangka, pihak keluarga hanya membiarkan para pelaku pergi begitu saja. Sesaat para pelaku pun lolos dari jeratan hukum.

“Dengan kondisi yang tidak sadar itu, kita sempat curiga. Jadi kita tanya, tapi mereka mengaku telah menolong korban di jalanan. Kita masih tetap curiga. Jadi para pelaku kita foto saja kemudian dibiarkan pulang,” papar Wahyudi.

Merasa khawatir dan curiga dengan kondisi RA yang pingsan, orang tua korban langsung melacak komunikasi terakhir handphone­-nya. Ditemukanlah nomor yang mencurigakan. Kemudian pemilik nomor tersebut dipancing oleh keluarga korban untuk ketemuan.

“Yang punya nomor itu tidak mengaku, sampai kita pancing untuk datang dan diinterogasi. Rupanya, yang punya nomor juga dijebak para pelaku. Ternyata, pelaku yang berinisial AD saat janjian dengan korban menggunakan nomor tetangganya. Yang punya nomor berinisial AL kita dipaksa untuk menjemput AD,” kata Wahyudi.

AD lalu dijemput tetangganya untuk dibawa ke rumah korban. Semua yang ada di rumah kaget bukan kepalang. Ternyata AD adalah sosok laki-laki yang mengantar pulang korban pada pagi itu.

AD didesak untuk mengakui apa yang terjadi. Di situlah AD akhirnya buka mulut. Disebutkan ada tiga orang lainnya yang telah melakukan tindakan bejat. Sedangkan AD mengaku hanya memegang dan mencumbui saja.

Babinsa Desa Adidarma Kopda Taibun kepada Radar Cirebon mengungkapkan, dia mendapatkan laporan dari warga langsung ke lokasi. Untuk melakukan pendampingan dan mengamankan pelaku. Kemudian diserahkan ke Polres Cirebon Kota untuk dilakukan pengusutan lebih lanjut.

“Ada empat pelaku yang melakukan dengan modus nyekoki pakai kecubung. Baru ada dua pelaku yang diamankan. Yakni SY (17) dan AD (20) yang merupakan warga Kecamatan Suranenggala. Sedangkan dua lainnya PR dan SN masih dalam pencarian polisi. SY (17) dijemput di sekolahnya,” kata Babinsa Kopda Taibun.

Pantauan Radar Cirebon di rumah korban Kamis (13/9), beberapa temannya yang bersimpati terlihat menjenguk. Sedangan korban sendiri yang baru siuman segera dibawa ke RSUD Gunungjati untuk dilakukan visum.

Kemudian dilanjut pemeriksaan oleh anggota Unit Perlindungan Anank dan Perempuan (PPA) Polres Cirebon Kota. “Saat sadar, korban dendamnya luar biasa dengan tindakan bejat dari empat pelaku itu,” imbuh Wahyudi. (cep/khoirul anwarudin-magang)