Hadiah dari Syekh Quro Untuk Kanjeng Sunan

1799
MASJID ASTANA: Masjid Astana Agung atau lebih dikenal dengan Masjid Dog Jumeneng Sangkaka Ratu adalah salah satu masjid unik yang ada di kompleks Astana Gunung Jati. ILMI YANFA'UNNAS/RADAR CIREBON

KEBERADAAN Masjid Astana Agung atau lebih dikenal Masjid Dog Jumeneng Sangkaka Ratu yang berada di kompleks area Astana Gunung Jati, menjadi daya pikat tersendiri bagi para peziarah dari luar kota. Tidak hanya dari segi namanya, lebih dari itu masjid yang memiliki design unik ini diperkirakan sudah berumur sekitar 8 abad yang lalu. Masjid ini sengaja dibangun secara berundak, mengikuti kontur tanah yang berada di area tersebut.

Salah seorang warga Gunung Jati, Suproni, menyebutkan Masjid Dog Jumeneng juga lazim dikenal masyarakat sebagai Masjid Sangkaka Ratu atau Masjid Syekh Syarif Hidayatullah. Masjid ini memiliki sejarah yang unik. Menurut cerita warga, asal muasal dari nama Dog Jumeneng diambil dari kisah berdirinya masjid tersebut. Konon, dahulu Syekh Quro, ulama asal Karawang, yang merupakan teman dari Syekh Datul Kahfi, menghadiahkan bangunan masjid itu untuk Kanjeng Sunan Gunung Jati. Syekh Datul Kahfi sendiri tak lain adalah guru dari Ibundanya Sunan Gunung Jati, Syarifah Mudaim atau Nyi Mas Rara Santang dan Kakaknya Pangeran Cakrabuana.

Sebagai seorang ulama yang cukup terkemuka, Syekh Quro telah melihat bahwa Sunan Gunung Jati ini akan menjadi wali besar. Sehingga ia pun menghadiahkan bangunan masjid itu untuk bekal syiar Kanjeng Sunan di tanah Jawa. “Menurut cerita sih, Syekh Quro itu memindahkan masjid ini dari Karawang ke Gunung Jati dengan cara diterbangkan dengan sekejap, sehingga munculah nama Dog Jumeneng, yang artinya dalam bahasa Indonesia, ialah muncul secara tiba-tiba,” ungkapnya.

Masjid Dog Jumeneng yang dipindahkan itu, kata Suproni, berasal dari Pulau Batah, di Karawang. Kini, keberadaannya sangat bermanfaat bagi para peziarah. Masjid itu kerap digunakana untuk salat lima waktu, salat Jumat dan salat hari raya. Masjid itu terdiri dari lima undakan, dan memiliki bangunan utama 20 x 20 meter persegi. Bangunan itu, kata Suproni, menghadap langsung ke makam Sunan Gunung Jati yang berada di depan masjid. “Bangunan utama inilah yang awalnya berdiri. Kemudian dikembangkan dan diluaskan hingga bisa menampung banyak jemaah,” tambahnya.

Suproni menyebutkan sama halnya dengan di Masjid Sang Cipta Rasa. Pintu di bangunan utama Masjid Dog Jumeneng hanya dibuka setiap malam Jumat hingga salat Jumat berakhir. “Pintu utama hanya dibuka satu kali dalam satu minggu,” tukasnya.

Ada beberapa peninggalan masjid yang masih asli, yakni mimbar dan kontruksi kayu yang masih dipertahankan. Hingga kini, masjid itu sudah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan. (jml)

BAGIKAN