Ibu Kota ke Kalimantan dan Atlantis

PRESIDEN Republik Indonesia Joko Widodo, dalam Sidang Bersama DPR dan DPD RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Jumat (16/8), secara resmi menyebut akan memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan.

“Dengan memohon ridho Allah SWT, dengan meminta izin dan dukungan dari Bapak Ibu Anggota Dewan yang terhormat, para sesepuh dan tokoh bangsa terutama dari seluruh rakyat Indonesia, dengan ini saya mohon izin untuk memindahkan ibu kota negara kita ke Pulau Kalimantan,” kata Jokowi dalam Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Jakarta, Jumat (16/8/2019).

Ia menyebut, Ibukota negara bukan hanya simbol identitas bangsa, tetapi juga representasi kemajuan bangsa.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta izin memindahkan ibu kota Negara ke Pulau Kalimantan menjelang 17 Agustus 2019 di gedung parlemen ini, mengingatkan penulis akan teori Atlantis.

Salah satunya Dhani Irwanto, seorang peneliti sejarah dan penulis buku Atlantis: The Lost City is in Java Sea.

Ia mengungkapkan, benua Atlantis dalam cerita Plato digambarkan sebagai negeri kaya raya yang hilang di bawah laut berada di Pulau Kalimantan.

Dalam tulisan Taman Eden Terdapat di Kalimantan karya Dhani Irwanto diungkapkan wilayah yang dihipotesiskan sebagai Taman Eden dihuni oleh orang Dayak, penduduk asli Kalimantan. Bagian tengah wilayah ini ditutupi oleh hutan tropis, yang menghasilkan rotan, damar dan kayu berharga seperti ulin dan meranti. Dataran rendah di bagian selatan didominasi oleh rawa gambut yang bersinggungan dengan banyak sungai.

Iklim di wilayah ini adalah bercuaca basah zona khatulistiwa dengan delapan bulan musim hujan dan 4 bulan musim kemarau. Curah hujannya adalah 2.700 – 3.400 mm dengan rata-rata 145 hari hujan setiap tahunnya.

Pegunungan Muller-Schwaner membentang dari timurlaut ke baratdaya wilayah tersebut, 80% terdiri dari hutan lebat, rawa gambut, hutan bakau, sungai, dan lahan pertanian tradisional. Daerah dataran tinggi di bagian timurlaut adalah terpencil dan tidak mudah dijangkau. Gunung tak berapi yang tersebar di daerah ini antara lain Kengkabang, Samiajang, Liangpahang dan Ulugedang. Pegunungan Meratus terdapat di sepanjang bagian timur wilayah tersebut. Gunung-gunungnya memiliki puncak yang berkabut, sungai-sungai yang menyeberang, hutan yang lebat, lembah yang curam dan memiliki formasi karst bergerigi. Pegunungan ini dihuni oleh orang Dayak Meratus yang “semi-nomaden”, dengan adat dan agama yang kuat dan memainkan musik yang sakral.

Peneliti yang jug pakar hidrologi tersebut berani mengklaim bahwa Benua Atlantis yang hidup 11 ribu tahun lalu, terletak di Indonesia, tepatnya di Kalimantan bagian selatan dan Laut jawa.

Berdasarkan temuan data di lapangan, menggunakan pendekatan gambar geografi, iklim, tata letak dataran dan kota, hidrolika sungai, dan saluran, hasil bumi, struktur sosial, adat istiadat, mitologi, dan kehancurannya terinci, termasuk dimensi dan orientasinya, kata Dhani, Atlantis memang berada di Indonesia.

Hal itu mengacu pada cerita filsuf Yunani, Plato dalam Timaeus and Critias. Memang ia bukan yang pertama menebak Benua Atlantis berada di Indonesia. Sebelumnya, peneliti asal Brasil, Arysio Nunes dos Santos sudah menulis buku bahwa Atlantis berada di Indonesia.

Bahkan, DR Wahyu Triyoso adalah salah satu periset yang tergabung dalam Tim Katastropik Purba berhasil menemukan jejak sungai purba di beberapa segmen dataran Sundaland. Selama ini perdebatan tentang apakah ada dataran Sundaland dan peradabannya menjadi perdebatan serius di kalangan masyarakat akademik dan masyarakat dunia.

Pengajar di jurusan Geofisika ITB ini menjelaskan sungai purba ini berada dalam kisaran di saat ketinggian air laut berada di bawa 132 meter dari saat ini (dalam 20 ribu tahun terakhir).

“Jejak Sungai purba bukan sikap latah sekedar pembuktian hipotesa Sundaland. Jika kita tarik dan kita refleksikan ke hazard purba, kita musti mulai merenungi gagasan punctuated unifomitarianism secara lebih serius. Target dan fokus utamanya adalah mapping dan mengkuantifikasi paleo hazard atau hazard purba,” kata Wahyu di Jakarta hari ini (18/2).

Temuan Sundaland ini cocok dengan temuan Profesor Openheimer, guru besar genetik dari Oxford University yang banyak mempelajari sejarah peradaban. Openheimer berpendapat bahwa paparan Sunda (Sundaland) adalah merupakan  cikal bakal peradaban kuno atau dalam bahasa agama sebagai Taman Eden. Istilah ini diserap dari kata dalam bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut taman firdaus.

Prof Aryso Santos asal Brazil, penulis buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found yang bikin heboh karena menyebut benua Atlantis yang hilang sebagaimana disinyalir oleh Plato (427-347 SM) sebagai sumber peradaban manusia saat ini adalah ada di Sundaland.

Sundaland adalah hamparan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Langka, dan Indonesia bagian Barat meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa dan terus ke arah timur. Atlantis berpusat di Indonesia bagian barat sekarang. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Penulis: Dhian Arief Setiawan, Wartawan tinggal di Cirebon

 

 

Berita Terkait