Inin Suhini, Petugas Damkar Perempuan Satu-satunya di Kuningan

473
Inin Suhini merupakan petugas damkar perempuan satu-satunya di Kabupaten Kuningan berharap jadi PNS. Foto:Taufik/radarcirebon.com

 

KUNINGAN – Bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran (Damkar) yang penuh tantangan dan risiko tinggi, kini tak lagi menjadi domain dilakoni kaum pria.

Inin Suhini (37) membuktikan ketabuan tersebut dengan menjadi perempuan pertama dan satu-satunya petugas pemadam kebakaran di Kabupaten Kuningan.

Menjalani pekerjaan sebagai petugas Damkar, sudah dilakoni Inin sejak dua tahun terakhir ini.

Ibu dua anak ini tak merasa canggung saat berjibaku memadamkan api ataupun membantu rekan kerjanya melaksanakan tugas lain seperti saat menjinakkan tawon, mengusir ular dari rumah warga ataupun memberikan penyuluhan tentang kedaruratan bencana kebakaran.

“Tekanan air saat memegang pipa pemadam sangat kuat sehingga dibutuhkan posisi kuda-kuda yang kuat pula. Kalau posisi kuda-kuda sudah pas, kita bisa dengan mudah mengendalikan semprotan air ke sumber api,” ujar Inin berbagi tips bagaimana teknik saat bertugas memadamkan api, Kamis (20/4).

Inin pun menceritakan pengalaman yang paling berkesan selama menjadi petugas Damkar adalah saat membantu rekannya mengusir sarang tawon di Kampus Uniku beberapa waktu lalu.

Saat itu beberapa rekan kerjanya tersengat tawon hingga harus mengalami demam akibat bisa tawon tersebut, namun heran tak satu ekorpun tawon yang menghampiri dan menyengat dirinya.

“Saya juga heran, kenapa saya tidak terkena sengatan. Padahal beberapa teman saya meskipun ada di bawah bersama saya ada yang tersengat,” ¬†ujar Inin.

Bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran perempuan satu-satunya tidak menjadikan Inin rendah hati ataupun malu. Bahkan, ada perasaan bangga ketika dia bisa turut serta membantu rekan-rekannya menjalankan tugas memadamkan kebakaran dan lainnya.

“Banyak suka duka bekerja sebagai petugas Damkar. Sukanya saya merasa senang bisa menolong masyarakat yang terkena musibah, dan dukanya saya suka ikut sedih saat melihat kerugian yang diakibatkan oleh kebakaran tersebut,” kata Inin.

Sebenarnya, pekerjaan sehari-hari Inin di UPT Damkar Kuningan adalah sebagai staf administrasi yang seharusnya duduk manis di belakang meja. Namun demikian, Inin kerap diikutsertakan melakukan tugas pemadaman bersama rekan-rekan lainnya terutama saat terjadi kebakaran pada siang hari.

Kesibukannya sebagai petugas pemadam kebakaran tidak menjadikan Inin lupa tanggung jawab sebagai seorang istri untuk suami dan ibu untuk dua putra putrinya. Inin masih bisa menyempatkan membuatkan sarapan pagi untuk keluarganya sebelum berangkat kerja dan menyempatkan bermain dengan dua anaknya saat sore hari sepulang kerja.

“Saya hanya bisa membantu ikut memadamkan saat terjadi kebakaran di siang hari. Sedangkan pada malam hari, saya diberi kompensasi untuk di rumah mengurus anak dan suami,” ucap Inin.

Ketika ditanya takut atau tidak menjadi pemadam, dia mengaku sebenarnya juga memiliki sedikit kekhawatiran. Tetapi, demi tugas, rasa takut atau khawatir harus disingkirkan. “Takut sih ada karena namanya juga api, tetapi saya kan sudah diberikan pelatihan khusus,” jelasnya.

Di Hari Kartini ini, Inin mengaku, berterima kasih kepada pejuang emansipasi itu sehingga dirinya kini bisa bekerja sejajar dengan kaum pria sebagai petugas pemadam kebakaran.

Namun demikian, dia berharap kesetaraan posisi tersebut juga dibarengi dengan kesetaraan fasilitas dan kesejahteraan agar bisa menjalani setiap tugas dengan tenang.

“Status kepegawaian saya di UPT Damkar masih tenaga honorer dengan upah masih di bawah UMR. Mudah-mudahan di Hari Kartini ini ada perhatian dari pemerintah daerah untuk saya supaya bisa diangkat sebagai PNS atau setidaknya bisa mendapatkan fasilitas jaminan kesehatan dan keselamatan kerja mengingat risiko yang saya hadapi saat bertugas cukup berbahaya,” harap Inin. (taufik)