Innalillahi, Bocah 6 Tahun Meninggal Gara-gara Di-Bully Teman Sepermainan

KORBAN-BULLY
Sri Ani Lestari (38) warga Desa Parakan, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka, memperlihatkan foto anaknya yang menjadi korban bully oleh teman sepermainannya. Foto: Istimewa/Radar Majalengka

MAJALENGKA – Sri Ani Lestari (38) warga Desa Parakan, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka, tidak kuat menahan kesedihan pasca kehilangan anak kesayangannya. Sang anak, Fatir Ahmad, meninggal dunia karena menjadi korban bullying teman sepermainannya. Sri tidak henti-hentinya menangis saat tahu Fatir Ahmad menjadi korban bully itu.

Ani menceritakan, pada akhir Agustus lalu, dirinya melihat korban sedang bermain dengan beberapa teman di kompleksnya di wilayah Bekasi. Saat sedang bermain, dirinya meminta anaknya tersebut untuk masuk ke rumah untuk mandi. Namun, si korban menolak dengan alasan masih ingin bermain memutari kompleks tersebut.

“Sekitar lima menit sebelum kejadian pemukulan, saya meminta Fatir mandi, tapi dia menolak. Saat saya ingin masuk ke dalam rumah karena Fatir masih ingin bermain. Belum sempat masuk, saya mendengar Fatir menangis. Sontak saya langsung menghampiri dan mempertanyakan apa yang terjadi,” ujarnya.

Setelah menghampiri, Ani langsung mendapatkan informasi dari teman Fatir bahwa anaknya telah dipukul dan ditendang teman sepermainannya. Mendengar informasi tersebut, dirinya langsung menanyakan anaknya.

“Ketika saya tanya, sakit gak dek? Anak saya menjawab tidak. Karena anak saya menjawab kayak gitu dan tidak kelihatan ada luka. Sementara saya tidak menegur anak itu dan saya tidak memperpanjang permasalahan tersebut karena tidak ingin ribut dengan tetangga,” ujarnya.

Sehari setelah kejadian, Fatir sempat muntah-muntah. Pada hari berikutnya, Fatir tidak bisa menggerakkan tangannya. Terdapat tiga benjolan di sekitar ketiak bocah tersebut.

Tidak hanya itu, rahangnya pun bengkak. Sri sempat memanggil tukang urut untuk penanganan pertama. Namun dini hari berikutnya, Fatir justru kejang-kejang.

Sri dan sang suami pun membawa Fatir ke rumah sakit. Sempat ditolak beberapa rumah sakit, Fatir akhirnya mendapat perawatan di Rumah Sakit Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur.

Sempat diduga menderita tetanus, namun dokter akhirnya menyebutkan jika penyakit Fatir diduga karena ada sesuatu yang salah di bagian rahangnya. Sayangnya, kondisi Fatir semakin kritis hingga akhirnya menghembuskan napas pada 30 Agustus. Jenazah Fatir pun dimakamkan di Desa Parakan, Kecamatan Leuwimunding. (ono)

Berita Terkait