Istri Bupati Pesan Korban Kekerasan Harus Berani Melapor

Kabupaten Cirebon
ILUSTRASI-KEKERASAN

CIREBON–Untuk menekan angka kekerasan di Kabupaten Cirebon, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) menggelar kampanye anti kekerasan di Balai Desa Kedung Bunder, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Selasa (16/10).

Acara itu dihadiri Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A), Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), kuwu se-Kecamatan Gempol, Wakil Ketua DPRD Hj Yuningsih SH, Kabid PPA Hj Wiwin Winarni SSos MSi, dan Kepala BPPKB H Supadi Priyatna SH MSi.

Ketua P2TP2A Hj Wahyu Tjiptaningsih SE MSi mengatakan, kekerasan terhadap perempuan dan anak cenderung mengalami peningkatan. Menurut data yang dimiliki P2TP2A, sampai bulan Oktober 2018, tercatat 30 kasus kekerasan dialami anak-anak dan perempuan di Kabupaten Cirebon.

“Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun lalu sebanyak 27 kasus. Oleh karenanya, perlu semuanya saling bergandengan tangan, menekan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujar istri bupati Cirebon tersebut.

Dia juga mengindikasikan, kekerasan yang kerap terjadi dalam rumah tangga, masalah utamanya adalah faktor ekonomi. “Tingkat perceraian di Kabupaten Cirebon sangat tinggi. Dan, penggunaan ponsel pada anak-anak seperti pisau bermata dua. Ketika ini digunakan untuk hal yang positif, akan sangat bermanfaat. Jika sebaliknya, akan banyak memberikan efek negatif,” paparnya.

Dia berpesan kepada korban untuk berani melapor jika mengalami tindak kekerasan, baik itu kepada anak maupun perempuan. Sementara itu, Kepala BPPKB Kabupaten Cirebon H Supadi Priyatna SH MSi berharap, digelarnya kampanye tersebut agar dapat meminimalisir angka kekerasan. Dia juga berupaya dalam menangani kasus dengan memberikan sosialisasi dan mengampanyekan antikekerasan di wilayah Cirebon. Serta bersedia melakukan pendampingan bila terjadi kasus serupa menimpa di Kabupaten Cirebon.

“Kampanye antikekerasan bukan hanya di Gempol. Kemarin kita adakan di Sumber. Hal ini dilakukan sebagai upaya meminimalisir kasus kekerasan. Salah satunya dengan menyosialisasikan atau mengampanyekan serta melakukan pendampingan bila terjadi kasus kekerasan menimpa anak-anak dan perempuan,” tutur Supadi.

Dia menambahkan, peningkatan jumlah kekerasan terhadap anak dan perempuan salah satu faktornya adalah kesadaran masyarakat untuk berani melapor. “Peningkatan boleh jadi karena adanya kesadaran masyarakat yang selama ini tidak pernah melapor,” imbuhnya. (ade-magang)