Jadi TKI Ilegal di Saudi, Tangisan Ibu Kandung Korban: Tolong Anak Saya

Warta Migran
KORBAN-TRAFFICKINGKENANGAN: Tarina menunjukkan foto anaknya, Mila Wati. Anak ketiga dari empat bersaudara tersebut menjadi TKI ilegal di Arab Saudi, bahkan diduga jadi korban trafficking. FOTO: CECEP NACEPI/RADAR CIREBON

CIREBON – Nahas, Mila Wati (20), warga Blok Posong, Desa Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, terjerumus dalam jasa penyaluran TKI ilegal. Akibatnya, Mila nyaris diperkosa orang tidak dikenal di Arab Saudi.

Diduga, Mila jadi korban perdagangan manusia (trafficking). Bahkan, Mila hampir tewas karena penyakit sesaknya kambuh.

Namun, Mila masih beruntung. Di tengah jalan usai dibuang orang tak dikenal tersebut, masih ada yang mengasihani. Mila lalu diserahkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Arab Saudi.

Diceritakan Tarina (50), ibu kandung Mila, sebelum berangkat ke Arab Saudi, putrinya itu sering bermain dengan Sopiah, salah satu tetangga perusahaan penyalur TKI ilegal berinisial MD. Dari situlah awal Mila terbujuk dengan ucapan MD untuk berangkat ke luar negeri tanpa biaya sepeser pun. Malah, Mila diberi uang Rp 1 juta.

“Padahal, Mila itu punya penyakit sesak napas sejak kecil. Bahkan sering kumat. Akibatnya, Mila tidak biasa kerja berat. Saya tidak setuju Mila jadi TKI. Tapi karena terbujuk MD, anak saya akhirnya terbujuk juga,” ujar Tarina saat ditemui di kediamannya.

Pada pertengahan Maret 2018, Mila izin kepada orang tuanya untuk berangkat jadi TKI secara mendadak. Kemudian langsung berangkat menjadi TKI di Arab Saudi dengan perusahaan jasa penyalur yang tidak dikenal Mila.

“Saya tidak tahu jelas prosesnya, tiba-tiba Mila izin berangkat. Anehnya, Mila kan punya penyakit sesak napas, tapi lolos medical check up. Karena keinginan Mila kuat, jadi saya tidak bisa mencegahnya,” katanya.

Sesampainya di Arab Saudi, Erni, kakak Mila, yang berada di Qatar, mengabari keluarga di Cirebon bahwa Mila sudah sampai di Arab Saudi. Selama dua pekan, Mila bekerja di rumah majikannya sebagai pembantu rumah tangga.

Namun, selama itu pula Mila sering menangis karena sesak napasnya kambuh dan sakit perut. Majikannya lalu membawa Mila ke klinik untuk pengobatan.

“Kalau menurut cerita, majikan Mila ini orang sibuk. Saat kerja, Mila tiba-tiba pingsan, kemudian pas bangun ada di apartemen bersama dengan laki-laki yang tidak dikenal dengan perawakan tinggi dan hitam. Usai bangun, Mila nangis terus, sehingga dibuang di jalanan,” tutur Tarina sambil menangis.

Masih beruntung, di tengah jalan masih ada yang peduli. Mila dibawa ke KBRI untuk dirawat.

“KBRI pernah menelepon bahwa Mila berangkat menggunakan paspor pariwisata. KBRI juga menyuruh laporan ke polisi untuk menuntut praktik TKI ilegal. Tapi saya nggak ngerti. Jadi ya saya biarin saja,” kata Tarina.

Indikasi trafficking itu semakin kuat saat Tarina hendak menyelesaikan secara kekeluargaan dengan MD yang membuka praktik TKI ilegal, malah mendapat tekanan. MD menekan keluarga Mila membayar uang tebusan sebesar Rp 30-Rp 50 juta sebagai ganti rugi agar Mila bisa pulang.

“MD malah menyalahkan saya. Disangkanya Mila kabur, padahal kan pingsan. Kata mereka sih, Mila sudah dibeli di sana (Arab Saudi) sebesar Rp 50 juta. Jadi, kalau Mila mau kembali, kami harus bayar Rp 50 juta. Saya orang tidak ngerti. Tolong anak saya. Saya pengin anak saya kembali ke rumah, itu saja,” tutur sambil menangis. (cep)