Jalan Hidup Nh. Dini “Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko” Berakhir di Tembalang

Trend Hari Ini

Sastrawan Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin meninggal dunia di Rumah Sakit Elisabeth Semarang pada Selasa (4/12/2018) pukul 16.00 WIB.

Humas Rumah Sakit Elisabeth, Probowatie Tjondronegoro menyampaikan bahwa novelis yang dikenal dengan nama pena Nh. Dini itu meninggal setelah menjalani perawatan beberapa jam setelah kecelakaan.

Nh. Dini meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan di jalan tol kilometer 10 Kota Semarang (tanjakan tol Tembalang Kota Semarang) sekitar pukul 11.15 WIB. Pada kecelakaan tersebut, mobil yang ia tumpangi tertabrak truk yang berjalan searah di depannya.

Jenazah sastrawan NH Dini rencananya dikremasi di Krematorium Ambarawa, Kabupaten Semarang, Rabu (5/12/2018), menurut keponakan sang novelis, Paulus Dadik.

 

Dadik menyebut NH Dini sebagai orang yang tidak mau merepotkan orang lain, termasuk keluarganya. Novelis itu, menurut dia, menjual seluruh hartanya dan memilih hidup di panti jompo.

“Beliau ingin hidup mandiri, tidak mau merepotkan keluarganya,” katanya.

Gambar mungkin berisi: 4 orang, termasuk Tjiptadinata Effendi dan Djoko Lelono, orang tersenyum

Sastrawan Indonesia Goenawan Mohamad juga turut menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya sastrawan dan novelis Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, yang lebih dikenal dengan NH Dini.

Perempuan kelahiran Semarang, 29 Februari 1936 itu, memang telah lama menjalani pengobatan lewat tusuk jarum. Dalam memoarnya yang bertajuk Pondok Baca Kembali ke Semarang (2011) ia menceritakan pertemuannya dengan Putu Oka Sukanta—pengarang dan ahli tanaman obat-obatan—yang membantu dirinya lewat cara tusuk jarum mengatasi pelbagai macam gangguan fisik seperti migren, pegal linu di bahu dan punggung, serta gangguan pencernaan.

Selain itu, Putu Oka Sukanta pun membantunya bertemu dengan Tjiong The Sin, ketua Yayasan Naturopathi, yang membantunya memulihkan kebugaran fisik. Nh. Dini pun menjadi pasien drg. Widya Adriana dan kerap berkonsultasi dengan ahli bedah mulut, Teguh Iman santoso, yang merupakan kemenakannya. Untuk urusan mata, ia percayakan kepada dr. Norma.

“Keluhan-keluhan lain di luar itu kupasrahkan kepada dr. Kusmiati, saudariku di Rotary Club Semarang Kunthi. Mereka merawatku sebagai pasien, lebih-lebih sebagai ibu, teman dan keluarga mereka,” imbuhnya.

Masalah kesehatan yang menggerogotinya sejalan dengan usianya yang makin senja, sejatinya tak menggoyahkan Nh. Dini dari keputusannya untuk mengemban tugas menegakkan kehormatan yang ia yakini.

Pada halaman awal Sekayu: Cerita Kenangan (1988), ia menerakan penggalan puisi WS. Rendra yang berjudul “Sajak Seorang Tua untuk Istrinya”, yang kiranya menjadi salah satu batu tapal bagi dirinya, atau barangkali penyemangat, untuk kukuh di setapak yang ia pilih:

“Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh/Hidup adalah untuk mengolah hidup/bekerja membalik tanah/memasuki rahasia langit dan samodra/serta mencipta dan mengukir dunia/Kita menyandang tugas/kerna tugas adalah tugas/Bukan demi sorga atau neraka/Tetapi demi kehormatan seorang manusia”

Halaman: 1 2 3