Jangan Punya Mental Baja* (Bicara soal Bahasa)

278
azrul-ananda

Banyak yang bilang, orang Indonesia itu punya problem logika. Ayo kita diskusikan beberapa kiasan/ungkapan yang membuktikan itu.

***

SAYA ingat betul ini. Omongan salah satu guru saya waktu SMP di Surabaya dulu. Guru salah satu sekolah paling top waktu itu.

Dengan lantang, dia bilang bahwa bahasa Indonesia itu bahasa yang hebat, yang bisa mempersatukan aneka ragam manusia di negeri ini.

Soal yang itu, saya sangat setuju. Luar biasa sulit mempersatukan bangsa kita yang beragam ini. Sampai sekarang saja masih sulit!

Setelah itu, guru saya itu melanjutkan pembahasannya. Dia bilang, bahasa Inggris itu bahasa yang tidak punya masa depan. Alasannya, ini bahasa yang tidak benar. Masak kombinasi O, N, dan E dibaca ”wan”?

Glodak!

Silakan menyimpulkan sendiri, berkomentar sendiri di dalam hati masing-masing. Wkwkwkwk…

Agak mengerikan memang, seorang guru yang seharusnya membentuk pola pikir di usia krusial menggunakan alasan seperti itu untuk berargumen. Kalau istilah bekennya, dalam bahasa Inggris, yang dia sampaikan itu adalah bentuk dari logical fallacy.

Dan memang, kalau kita pikir-pikir, ada begitu banyak ungkapan atau kiasan dalam bahasa Indonesia ini yang mungkin masuk kategori logical fallacy itu. Ada yang benar-benar meleset jauh, ada yang mungkin karena tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.

Karena belakangan saya mulai banyak terlibat di sepak bola, ada dua ungkapan populer yang harus kita revisi dengan segera. Mengingat sepak bola merupakan olahraga paling populer (by far) dan bisa berperan besar mengedukasi masyarakat dari segala kalangan.

Yang pertama: Kesebelasan.

Saya setuju ”sebelas”-nya. Karena di lapangan memang ada 11 pemain yang bermain untuk satu tim.

Masalahnya, dalam sebuah tim, dalam pengertian ”tim” yang sebenarnya, anggotanya tidak hanya 11. Kan ada tim pelatih, ada barisan pemain cadangan, dan lain-lain.

Makanya, mungkin kita sebaiknya tidak lagi menggunakan istilah ”kesebelasan”. Walau kadar fallacy-nya tidak terlalu banyak, tetap saja ”kesebelasan” tidak cukup untuk menggambarkan realitas ”tim”.

Mungkin zaman dulu, waktu istilah ”kesebelasan” itu keluar, memang belum ada ”tim” seperti sekarang. Mungkin waktu itu anggotanya hanya 11 orang saja. Semua bermain, yang kiper merangkap pelatih/manajer/CEO?

Istilah sepak bola kedua yang harus dihindari, bahkan mungkin dieliminasi sepenuhnya: Kulit bundar.

Ya Allah, kita semua sejak kecil sudah diajari, kalau bola, bentuknya bulat. Bukan bundar.

Tidak perlu penjelasan lebih panjang tentang betapa parahnya tingkatan fallacy yang satu itu. Kalau ada lagi orang yang nyeletuk ”si kulit bundar”, tolong paksa dia masuk sekolah lagi dari tingkat TK…

Sebenarnya ada beberapa lagi istilah yang tidak pas. Tapi saya simpan dulu untuk tulisan-tulisan di masa depan. Jaga-jaga seandainya saya nanti kehabisan tema. Wkwkwkwk…

Sebelum tulisan ini saya tutup, saya ingin gunakan lagi satu istilah untuk kita bedah tingkat fallacy-nya.

Yaitu istilah ”mental baja”.

Sebenarnya tidak ada yang salah dari ungkapan itu. Kita semua harus tangguh, harus kuat menghadapi segala cobaan. Bukankah itu maksud dari ungkapan itu?

Meski demikian, istilah ”mental baja” ini mungkin harus kita update. Untuk revisinya, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Budi Waseso (Pak Buwas), pimpinan BNN, yang sempat ngobrol dan sharing bersama pimpinan Jawa Pos Group di Bali baru-baru ini.

Dalam ceritanya, dia dididik oleh ayahnya untuk tidak punya mental baja. Karena baja itu bisa leleh, bisa ditembus dengan peluru atau bom khusus.

Sebagai gantinya, dia harus punya ”mental bola bekel atau bola tenis”. Semakin keras dipukul atau dijatuhkan, pentalannya semakin tinggi.

Secara logika, untuk menggambarkan pentingnya kekuatan mental, itu jauh lebih pas daripada ”mental baja”. Jadi, istilah tersebut perlu di-update secara permanen.

Karena baja bisa leleh, sebagai konsekuensinya, kekuatan Gatotkaca juga harus di-update.

Otot kawat balung wesi? Dengan mudah akan dilelehkan dan dipatahkan dengan teknologi modern.

Zaman dulu, otot kawat balung wesi sudah cukup untuk jadi jagoan. Zaman sekarang? Gatotkaca bakal kalah kalau tarung melawan Wolverine atau Captain America.

Wolverine tulangnya dari adamantium yang tak bisa dihancurkan. Captain America punya perisai dari vibranium, yang juga tidak bisa ditembus apa pun.

Oke, oke, adamantium dan vibranium sama-sama fiksi. Tapi, Gatotkaca, Wolverine, dan Captain America kan juga fiksi. Dan di dunia fiksi, jagoan Indonesia sudah kalah teknologi.

Mungkin kalau guru-gurunya bisa mengajarkan logika dengan lebih baik, Indonesia minimal juga bisa jadi yang terbaik di dunia fiksi! (*)