Jejak Nagari-Nagari Hindu di Cirebon

Desa Sarwadadi Cirebon ribuan tahun silam berdiri kerajaan Indraprahasta

Sebelum 1418 Masehi, seluruh Jawa Barat berada di bawah kekuasaan raja-raja Hindu-Budha.

Berdasarkan Kitab Negara Kertabumi, berikut raja-raja yang pernah berkuasa di Jawa Barat, Raja Dewawarman Kerajaan Salakanagara 130-358; Raja Jayasinga Warman Kerajaan Tarumanagara 358-669; Raja Tarusbawa Darma Wastika Manungga Managgalajaya Sunda Sembawa 669 dengan keratonnya di Pakuan Bogor Jawa Barat; Resi Guru Manikmaya Kerajaan Kendam (wilayah Nagreg Cicalengka) 526; Prabu Kandiawan Kerajaan Galuh 612-1482; Prabu Jayadewata Kerajaan Pajajaran 1482-1579; Prabu Demunawan Kerajaan Saunggalah atau dikenal Seuweu Karma (wilayah Kuningan) 732.

Sedangkan, menurut Naskah Carita Parahiyangan dan buku karya Amir Sutaarga Prabu Siliwangi 1965 maka khusus untuk Kerajaan Pajajaran dimulai tahun 1474 oleh Prabu Siliwangi bernama Sri Baduga Maharaja Prabu Guru Dewataprana.

Ada perbedaan tahun antara prasasti Batu Tulis dan Kitab Negara Kertabumi. 

Menurut Atja, Tjarita Parahiyangan 1968, Kitab Negara Kertabumi danNaskah Carita Parahiyangan, dapat diketahui bahwa peta politik wilayah Jawa Barat abad ke VI hingga abad Viii, terbagi dua wilayah kekuasaan besar, Kerajaan Sunda, dari batas sungai Citarum sampai ke barat wilayah Banten dipimpin Rakeyan Banga (Prabu Kertabuana)  dan wilayah Kerajaan Galuh, dari batas sungai Citarum ke timur sampai Purbalingga di Jawa Tengah, dipimpin Sang Manarah.

Ketika Prabu Sanjaya, dar keturunan Raja Kerajaan Galuh dan cucu menantu Maha Raja Sunda bertahta 723-732, maka kedua wilayah kerajaan tersebut dipersatukan. namun setelah putra Sanjaya, Prabu Tamperan menggantikan ayahnya, tahun 732 wilayah tersebut terpecah belah.

Akibatnya, diduga sejak tahun 732 hingga 1474, wilayah Cirebon yang berada di timur sungai Citarum berada dalam wilayah kekuasaan Galuh. Hanya wilayah Saunggalah di Kuningan dan Arileu lereng Gunung Galunggung Tasikmalaya tidak dirubah oleh Prabu Tamperan. Saunggalah dikuasai Demunawan alias Seuweu karma dan Arileu dikuasai Prabu Darmasiksa.

Dalam Kitab Purwaka Caruban Nagari, dilukiskan bahwa sekitar pelabuhan Muara Jati pantai utara Cirebon wilayah yang jaraknya cukup jauh dari pusat Kerajaan Galuh, terdapat daerah-daerah yang diberikan hak otonomi oleh Kerajaan Galuh.

Menurut keterangan Penanggung Jawab Sejarah Cirebon, PS. Sulendraningrat pernah ada berita tentang sebuah nagari besar yang meliputi wilayah Kabupaten Cirebon yang berdiri sekisar abad XIV. Oleh karena sesuatu hal yang tidak jelas kemudian terpecah menjadi nagari-nagari kecil dan daerah-daerah otonom nagari besar bernama Nagari Wanagiri, yang terpusat di kota Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon.

Nagari ini dipimpin oleh Prabu Indraprahasta, dimana bentuk karakter kepemimpinannya berupa ke-bathara-an sebagaimana terjadi pada masa Rakeyan Sempak Waja, Darmasiksa dan Sang Lumahing Taman di Arileu Galunggung Tasikmalaya.

Diceritakan bahwa pada masa Indraprahasta, didekat Kota Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon, desa Kalitanjung ada sebuah sungai yang dipandang suci umat Hindu bernama Kali Gangga.