Jejak Sejarah Turki di Masjidilharam

YANTO-S-UTOMO

APAKAH karena musim haji, pembangunan dan renovasi Masjidilharam berhenti. Tapi menurut beberapa orang yang selalu membawa jamaah haji atau umrah, sudah dua tahun ini belum ada kelanjutannya.

Baik itu perluasan atau renovasi masjid. Bahkan sejak tragedi jatuhnya alat-alat berat beberapa tahun lalu, tak kelihatan lagi pembangunan masjid tersebut. Tampak alat-alat berat seperti sudah lama berhenti beroperasi. Nongkrong dan nganggur. Para pekerja dan lalu lalang kendaraan pengangkut bahan-bahan bangunan tak terlihat.

Sebagian besar dinding masjid pun dibiarkan tanpa polesan. Yang seharusnya dilapisi marmer dan semacamnya, hanya terlihat plasteran semen sebagai bangunan dasar. Hanya beberapa yang terlihat sudah terpasang batu marmer. Sementara yang dinding-dinding lain yang menghadap Kakbah terutama, masih belum terpasang.

Juga plafon. Belum juga ada. Atap masih berantakan. Kabel-kabelnya terlihat malang melintang. Juga masih banyak dijumpai dinding sementara sebagai pembatas. Pun begitu lantai juga sama. Masih banyak yang belang-belang. Ada yang sudah dipasang marmer. Ada pula yang masih lantai biasa dipoles semen warna putih yang empuk.

Bahkan pintu utama King Abdul Aziz saja juga masih belum rampung. Sudah tampak gagah. Namun belum ada pelapis sama sekali. Dari pintu sampai ke aksesori hingga semacam benteng di atasnya, terlihat masih plasteran semen.

Masih banyak dijumpai bangunan seperti itu. Terutama yang terkena renovasi dan juga perluasan. Belum lagi yang dalam taraf penggalian atau penyelesaian fisik terlihat di mana-mana.

Entah sampai kapan selesai. Yang jelas pembangunan tersebut dalam rangka visi Arab Saudi 2030. Diproyeksikan akan lebih lima kali lipat dari jamaah haji yang ada sekarang. “Kurang lebih sudah dua tahun ini pembangunan dan renovasi Masjidilharam terhenti. Saya kurang paham apa penyebabnya,” ungkap owner Salam Tour Dede Muharam.

Mungkin, lanjut Kang Dede, sapaan akrabnya, Pemerintah Arab Saudi kekurangan dana. Pembangunan dan renovasi Baitullah ini memang ambisius. Sehingga butuh dana besar sekali. Ditambah ekonomi Arab Saudi juga lagi kurang baik. Ditambah harga minyak yang juga lagi turun.

Saya pun sulit membayangkan. Jika dengan 4 juta jamaah Makkah sudah macet di mana-mana. Masuk ke Masjidilharam saja harus buka tutup pintu. Di dalam masjid pun sudah krodit. Di lantai-lantai thawaf dan sai juga berdesak-desakan.

Tapi yang jelas pembangunan Masjidilharam dan daerah penyangganya tersebut, pelan-pelan juga akan menghapus jejak Turki yang dulu membangun masjid paling istimewa tersebut.

Seperti diketahui, pembangunan Masjidilharam yang fenomenal itu sudah terjadi sejak masa kesultanan Turki Utsmani. Pada masa kesultanan yang berlangsung dari tahun 1294 hingga 1924 Masehi itu yang mulai membangun masjid tersebut. Bahkan di antara bagian bangunan peninggalan Turki Utsmani itu baru dibongkar pada perluasan masjid 2013-2016.

Pemerintah Arab Saudi membuat  proyek perluasan tempat tawaf. Proyek itu  dirancang para ahli dari Universitas Umm Al-Qura selama 3 tahun, 2013-2016. Perluasan ini menambah daya tampung 130 ribu jamaah per jam dari sebelumnya 52.000 jamaah.

Area tawaf  diperluas 20 meter. Serambi lama yang dibangun Turki Utsmani pun bongkar. Bangunan Turki Utsmani itu fenomenal karena bertahan lebih dari 500 tahun. Sehingga setiap bagiannya menyimpan nilai historis tinggi

Berdasarkan sejarah, pembangunan masjid secara besar-besaran terjadi pada 979 H/ 1571 M. Ketika itu Sultan Salim al-Utsmani memugar bangunan masjid secara total. Bangunan ini sebagian tetap ada sampai sekarang. Maka disebut  dengan bangunan Ottoman.

Untuk proyek itu, Sultan Salim memerintahkan arsitek Turki kenamaan Mimar Sinan untuk merenovasi Masjidilharam secara keseluruhan. Biar kokoh, megah dan artistik. Sinan lalu mengganti atap masjid yang rata dengan kubah, lengkap dengan hiasan kaligrafi di bagian dalamnya.  Sinan juga menambah empat pilar penyangga tambahan yang disebut-sebut sebagai rintisan dari bentuk arsitektur masjid-masjid modern sekarang.

Pada masa ini juga dibuat atap-atap kecil berbentuk kerucut. Namun renovasi besar-besaran 2013-2016 bangunan-bangunan kuno itu dirobohkan. Tetapi bentuk dasar bangunan Masjidilharam hasil renovasi Dinasti Utsmani itulah yang dapat dilihat saat ini. Hanya saja pada bagian utara masjid sudah terbongkar untuk perluasan area tawaf.

Padam 1621 dan 1629, banjir bandang melanda Makkah. Akibatnya  kerusakan pada Masjidilharam dan Kakbah. Pada masa kekuasan Sultan Murad IV tahun 1629, Kakbah dibangun kembali dengan batu-batu dari Makkah, sedangkan Masjidilharam juga mengalami renovasi kembali.

Karya Sinan itu sungguh mengesankan. Bahkan karya itu melahirkan jenis baru seni. Kita mengenalnya dengan arsitektur Islami. Pemerintah Turki dan Arab Saudi sempat bersitegang dengan renovasi besar-besaran Masjidilharam. Ya, karena karya-karya Turki Usmani di masjid tersebut dibongkar.

Walaupun pemerintah Saudi juga agak sulit meninggalkan arsitektur lama Turki. Walaupun bangunannya dihabisi, tetapi gayanya masih dipakai. Semoga perluasan dan renovasi segera selesai. Juga jejak sejarah Turki pun kalau bisa masih dipertahankan. (*)

Berita Terkait