Jokowi Capres Puan Cawapres Berakhirnya Dinasti Soekarno?

WORO-woro pencalonan Joko Widodo sebagai presiden oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan terjawab sudah. Pada Jumat (14/3), Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri resmi memberi mandat kepada Gubernur DKI Jakarta itu untuk maju sebagai calon presiden pada Pemilihan Umum 2014.

Pengumuman Megawati tidaklah mengejutkan jika publik sedikit menoleh ke belakang.

Wafatnya Taufiq Kiemas menimbulkan skenario perpecahan di tubuh PDIP. Almarhum terkenal sebagai benteng Megawati baik sebagai penguasa PDIP secara internal, maupun hubungan dengan dunia luar PDIP. Taufiq Kiemas dikenal sebagai pembela yang berani terhadap sepak terjang PDIP dalam dunia politik sejak Rezim Soeharto. Kekuatan jaringan dan kharisma Taufiq Kiemas pun mampu menandingi kekuatan Soedomo – Menkopolkam – dan tetap memaksakan Megawati menjadi Ketua Umum PDI menggusur Soerjadi sebelum kelahiran PDIP.

Sepak terjang Taufiq Kiemas yang sangat berpengaruh di dalam tubuh PDI dan PDIP. Alex Asmasoebrata adalah orang yang dipaksa mengangkat Megawati menjadi Ketum PDI pada 1992-1997. Alexlah bersama tiga temannya diarahkan oleh Taufiq Kiemas untuk memilih salah satu keluarga Soekarno tampil di ranah politik. Masa itu keluarga Bung Karno dilarang untuk berpolitik sejak Bung Karno dikudeta oleh Letjen Soeharto. Taufiqlah yang berani mendobrak larangan Soeharto itu.

Pengaruh kekuatan Taufiq Kiemas juga terkait dengan keluasan wawasan dan kepedulian terhadap para tahanan politik dan anak-anaknya. PDIP menjadi besar karena banyak keluarga tersingkir secara politis bisa tampil di bawah bendera PDIP. Budiman Soejatmiko adalah salah satunya. Mantan aktivis banyak yang merapat ke PDIP. Maka PDIP memiliki basis kuat di hamper semua kota Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan di Indonesia Timur.

Tak ada partai lain yang sepeduli PDIP merangkul mantan aktivis dan anak-anak mantan anggota PKI dan organisasi yang dipersalahkan dan dikambinghitamkan mantan Presiden Soeharto. Melalui PDIP hak-hak sipil dan ekonomi mantan tapol dan anak-anak tapol tampil dan diputihkan hak-hak sipil dan ekonomi mereka. Pekerjaan ini bukannya tidak menemui tentangan. Jelas para mantan dan loyalis Soeharto tidak rela mereka maju. Namun kekuatan Taufiq Kiemas mampu meyakinkan pentingnya rekonsiliasi bangsa dan para tapol eks PKI tidak semuanya salah.

Taufiq Kiemas adalah ketokan palu PDIP. Maka kini dengan meninggalnya Taufiq Kiemas, PDIP harus melakukan langkah-langkah strategis. Kader dan pengurus PDIP yang selama ini loyal 100% dengan Taufiq Kiemas, akan mulai berseberangan dan akan menghitung ulang posisi mereka di depan Megawati. Megawati kehilangan bentengnya dari serangan internal dan eksternal partai. PDIP hanya memiliki satu penasihat untuk Megawati, yakni Taufiq Kiemas.

Kondisi ini memaksa Megawati mendapat tekanan dari kalangan muda PDIP untuk mengajukan calon presiden di 2014 selain Megawati. Taufiq Kiemas pernah menyebutkan wacana Puan Maharani untuk maju sebagai capres.
Pertanyaannya,apakah dengan wafatnya Tauifiq Kiemas PDIP yang lebih dinamis – karena Megawati menjadi lebih lemah – Lalu siapa yang layak maju?

Pramono Anung di luar keluarga Bung Karno pantas maju. Namun kompromi paling layak adalah Megawati menyerahkan hak maju kepada Puan Maharani untuk maju sebagai cawapres. Pendampingnya yang paling potensial saat ini adalah Joko Widodo. Momentum kekuasaan PDIP yang dikuasai oleh keluarga Bung Karno hanya sampai 2015. Setelah itu akan kehilangan momentum. Dan, oleh karena itu, Megawati harus berkompromi dari tekanan politik internal setelah kehilangan Taufiq Kiemas.

Alhasil, Selamat datang pasangan Joko Widodo – Puan Maharani dalam Pilpres 2014. (wb)

Berita Terkait