Juara Dunia Masih (yang) Lama

Oleh: Kurniadi Pramono

DRAWING Piala Dunia 2018 digelar 1 Desember 2017. Momen menegangkan dan waswas 32 peserta. Termasuk pencinta sepak bola di Indonesia. Ada beberapa catatan menarik.

Tatkala Prancis tampil sebagai Mundial Campeone 1998, dunia telah menantikan 20 tahun lamanya untuk kemunculan juara baru sejak terakhir Argentina di tahun 1978. Prancis sebagai samurai ke-7 yang masuk komunitas juara dunia, saat itu dianggap menjadi tim elite terakhir yang tak akan lagi diikuti juara baru.

Namun ternyata, dunia cepat sekali bergerak. Cuma butuh 12 tahun (3 kali putaran final World Cup) untuk meyakinkan komunitas juara dunia menjadi tak terbatas. Spanyol juara dunia 2010.

Delapan tahun setelah final di hujan rintik 2010 tersebut, kelak 8 tahun kemudian Rusia 2018 digadang-gadang akan memunculkan lagi juara dunia baru. Belgia yang pernah mencicipi ranking pertama di peringkat FIFA adalah satu kandidat terkuat. Rusia dan Portugal serta Polandia, kendati sama-sama berada di pot unggulan, namun sejauh ini belum benar-benar dijagokan publik.

Percaya atau tidak, publik Piala Dunia dari waktu ke waktu seolah lebih percaya pada prediksi yang dilontarkan bandar judi atau rumah taruhan. Ketimbang secara realistis mengikuti analisis prespektif dari para pengamat dan pemerhati teknis sepak bola.

Dalam penawaran awal semenjak selesainya babak penyisihan, portal online taruhan pun sudah ambil ancang-ancang. Seperti biasa, rata-rata dari mereka menempatkan tim staying power Jerman sebagai kandidat juara paling teratas. Diikuti kemudian Brasil dan disusul Argentina serta Prancis. Empat pilar dunia sepak bola ini dilabeli 50 persen atau setengah kemungkinan menjadi juara dunia 2018.

Mungkin agak malu-malu kalau kemudian bandar-bandar resmi (bersama dengan para pengamat kelas dunia), juga menempatkan Spanyol dan Inggris juga di angka yang sama dengan Jerman, Brasil, Argentina serta Prancis. Sayang seribu sayang Italia tidak lolos. Inilah satu-satunya juara dunia yang tidak akan tampil di putaran final 2018.

Di lapis kedua, selain Belgia, Portugal, Polandia, Swedia, bersama Kolombia, dipatok dengan angka 30 persen, yang artinya 3 berbanding 10 untuk menjadi juara dunia. Di antara tim level tersebut, selain Belgia, Swedia dianggap tim paling membetot atensi di Rusia.

Wakil Skandinavia ini selain memang salah satu pelanggan Piala Dunia seperti halnya Meksiko. Kali ini mereka mengusung julukan pembunuh berdarah dingin karena menjegal Belanda dan Italia di kualifikasi.

Halnya dengan Swedia, bangkitnya Kolombia serta Denmark sangat berpotensi merusak skenario perjalanan tim-tim unggulan. Namun, beberapa media sepak bola di Eropa, jauh-jauh hari sudah memberi sinyal bahwasannya Peru dan Islandia adalah dua tim pengecualian yang non unggulan namun akan memberi sengatan serius.

Bolehlah dicatat, Peru nyaris saja mendepak Argentina dari persaingan normal di zona Conmebol. Jatuh ke jurang play-off, Peru membuktikan ramalan banyak pihak tidaklah salah. Mereka lolos setelah mengubur impian Selandia Baru.

Sedangkan Islandia, ingatlah prestasi mereka tahun lalu di Prancis pada ajang Euro 2016. Tim dengan nama seluruh pemainnya berakhiran suku kata “son” ini tampil sedingin gunung es dengan bara sepanas api lava-nya. Inggris yang doyan dongeng dengan mimpi-mimpi indah, dipulangkan dari kompetisi dengan air mata membasahi tali sepatu mereka.

Konsistensi Islandia teruji setelah mereka lolos dari Grup I zona Eropa, menjerumuskan Ukraina dan menjegal Kroasia (yang lalu berangkat ke Rusia setelah menang play-off atas tim kenyal Yunani dan masuk ke Pot 2 bersama Spanyol, Peru, Swiss, Inggris, Kolombia, Meksiko dan Uruguay).

Masuk di lapis ketiga, kadang secara menyakitkan mereka disebut anak kucing di kandang harimau. Persentase mereka dibanderol tak lebih dari 5 persen, atau 1 berbanding 20. Serbia, Maroko, Panama, Kosea Selatan, Jepang, Arab Saudi, Australia, Iran, Tunisia, Kosta Rika serta Mesir.
Pengecualian yang keluar dari kelompok ini adalah dua wakil Afrika yang lebih berpengalaman, yakni Nigeria dan Senegal. Melihat peta persaingan yang sudah terbuka dan akan lebih terbuka dalam perjalanan 6 bulan ke depan, rasanya memang sebagian dari kita harus setuju kalau juara dunia akan muncul dari stok lama.

Menanti 15 Juli 2018 memang masih lama, namun di jauh hari ini beberapa media berpengaruh di dunia sepak bola, sudah menaikkan headline atau tajuk yang mengulas bahwasannya kendati masil lama, namun juara dunia lama masih terlampau kuat mendominasi. Hegemoni Jerman, Brasil, Argentina, Prancis, Spanyol dan Inggris (serta Uruguay) masih sangat kental.

Ini tentu saja belum memerhitungkan hasil undian atau drawing dalam beberapa jam ke depan. Potensi grup neraka atau grup santai, tentunya akan secara signifikan menentukan strategi dan taktik dari 32 manajer jenius di Rusia 2018.

Catatan kecil yang jangan dilupakan menjelang drawing. Jerman hampir selalu beruntung masuk di grup santai. Brasil dan Argentina kadang dijegal final prematur pada pedelapan final atau perempat final. Inggris yang selalu keok di babak knock down saat adu penalti. Prancis (dan Italia) yang bermesin disel. Atau Spanyol yang langganan didera cedera pemain.

Itulah sebabnya pula diyakini banyak orang. Juara dunia tidak harus mempunyai banyak bintang. Juara dunia tidak cukup dengan kematangan dan pengalaman. Juara dunia tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan. Dan pula juara dunia tak akan diraih tanpa otak dingin dan mulut hangat sang pelatih.

Juara dunia artinya dari anatomi sepatu hingga menu makanan, dari kiper sampai penyerang, dari supir bus sampai dokter tim, dari warna kostum sampai tiupan angin saat pertandingan. Selamat menikmati hidangan Piala Dunia dalam sukacita. (*)

*) Kurniadi Pramono adalah pengamat sepak bola profesional.

BAGIKAN