Jumlah Lahan Tebu Terbakar Melonjak, Sekarang Tembus 35 Persen

dri - tebu kebakaran lebih luas (13)
KEBAKARAN: Lahan tebu di sejumlah lokasi banyak terbakar. Jika tahun kemarin mencapai 10 persen, tahun ini melonjak menjadi 35 persen kebakaran lahan tebu di Kabupaten Cirebon.FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON– Jumlah lahan tebu yang terbakar di Kabupaten Cirebon pada tahun 2019 naik drastis. Jumlah tersebut naik tinggi ketimbang angka tahun 2018 yang hanya 10 persen dari total luas lahan tebu yang ada di Kabupaten Cirebon.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPC Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PG Tersana Baru Babakan, H Mulyadi saat ditemui Radar Cirebon, kemarin (10/9). Menurutnya, hal yang menonjol justru ada pada insiden kebakaran.

Untuk tahun ini, luas lahan tebu yang terbakar jauh meningkat dari jumlah di tahun sebelumnya. Sehingga pihaknya akan melakukan sejumlah upaya yang diperlukan untuk menangani persoalan tersebut.

“Jumlah tahun lalu sekitar 10 persen. Jumlah tahun ini meningkat drastis sekitar 35 persen. Ini yang harus jadi evaluasi untuk musim mendatang,” imbuhnya.

Dikatakannya, untuk tahun depan insiden kebakaran yang terjadi pada musim panen tahun ini harus menurun. Oleh karena itu, butuh langkah-langkah penanganan segera terutama support dari Pemkab Cirebon untuk meminimalisasi kebakaran di lahan tebu.

“Tahun depan kita minta ada evaluasi bersama dari pabrik, petani dan Pemkab Cirebon. Biar tidak terjadi lagi kebakaran seperti tahun ini. Tahun ini sepertinya paling besar karena sampai 35 persen,” jelasnya.

Sementara itu, para petani tebu di wilayah kerja PG Tersana Baru, sedang semringah. Saat ini, hasil lelang penjualan gula sudah sesuai harapan petani. Pada lelang terakhir, harga penjualan gula perkilogramnya senilai Rp10.500.

Menurut H Mulyadi, saat ini sudah sekitar 85 persen lahan tebu di wilayah kerja PG Tersana Baru sudah dipanen. Untuk rendemen rata-rata di PG Tersana Baru sudah sampai di angka di atas 7, bahkan sampai angka 8.

“Ketika rendeman bagus, maka harga juga bagus. Lelang terakhir itu harga gula Rp10.500. Pas segitu sesuai dengan harga yang diharapkan petani,” ujarnya.

Terpisah, salah satu petani tebu yang ditemui Radar Cirebon, Ade menyebut tingginya angka kebakaran lahan tebu di Kabupaten Cirebon untuk tahun ini, salah satunya dipicu kemarau panjang yang menyebabkan lahan tebu mudah terbakar.

“Kebanyakan sih dari warga atau petani yang buang puntung rokok. Ada yang dari pembakaran sampah. Tapi kalau meluasnya dengan cepat, karena kemarau panjang,” ungkapnya. (dri)

 

Berita Terkait