Kadis KLH Sebut Penataan Eks Galian C Bergantung DED

0-OK-galian-cPekerja galian pasir di Blok Kopi Luhur, Kelurahan Argasunya melubangi dasar tebing dengan linggis. Cara penambahan pasir tradisional ini seringkali menimbulkan longsoran.FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON– Konsep penataan lahan eks galian tipe c, bergantung dari hasil kajian Detail Engineering Design (DED). Meski sejauh ini, Pemerintah Kota Cirebon sudah merencanakan dalam menata wilayah selatan Argasunya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Drs Abdullah Syukur MSi mengatakan, dalam kajian DED tidak hanya melihat penataan lahan eks galian c. Akan tetapi juga berbagai hal lainnya, seperti keberadaan tempat pembuangan akhir (TPA) dan lainnya. “Kita akan melihat dulu hasil DED-nya bagaimana, mau diapakan,” ujar Syukur kepada Radar Cirebon.

Dijelaskan dia, khusus penataan eks galian c memang juga perlu tahapan. Terutama dalam memperhitungkan kepemilikan lahan tersebut. Ini tentu saja perlu ada inventarisasi. DED sendiri baru bakal digarap pada tahun 2019.

Syukur ingin selama belum ada DED itu, tidak ada penataan di wilayah eks lahan galian c. Lahan tersebut sendiri diperkirakan ada sekitar 100 hektare. Sekitar 15 hektare terpakai oleh TPA Kopi Luhur. “Kita ingin DED ini, diselesaikan dulu, baru melihat penataanya seperti apa,” tukasnya.

Sejauh ini, ada beberapa usulan terkait dengan kawasan Argasunya. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D), Arif Kurniawan ST menyampaikan, ada dua konsep yang bisa dicoba diwujudkan yakni wisata edukasi persampahan di TPA Kopi Luhur, dan wisata off-road di eks lahan galian tipe c. Namun hal ini, juga bergantung dari masyarakat setempat. “Kalau melihat Perda 8/2012 tentang RTRW memang di sana ditetapkan sebagai kawasan pertanian dan konservasi,” tukasnya.

Untuk melangkah, pemerintah memang perlu melakukan kajian yang menyeluruh. Sebab ada kendala-kendala lain di wilayan itu, untuk membangun wisata. Misalnya saja terkait dengan akses masuk ke wilayah selatan.

Masyarakat sejauh ini harus memakai kendaraan pribadi. Hal ini perlu dipersiapkan. Menurutnya, adanya penataan Argasunya ini, sebetulnya bisa memberikan multiplayer effect kepada masyarakat setempat. Sehingga bisa disiapkan pula untuk alih profesi warga setempat. Terutama bagi warga yang beraktifitas di galian c.

Sebagai contoh, lanjut Arif, misalnya saja untuk lahan eks galian yang dijadikan wisata off road. Seperti yang ada di Gunung Merapi. Di sana warga ada menjadi supir off road dengan upah Rp300 ribu untuk 1-3 jam berkendara. Namun demikian, ini memang perlu biaya besar. Sehingga dia berharap pemkot bisa mengundang investor. (jml)